Oleh : Fitri Handayani, S.Pd (Guru SLB Negeri 1 Bukittinggi)
Deep learning merupakan dua kata yang sedang hangat dibahas oleh para penggerak Pendidikan Indonesia. Semenjak kata deep learning digaungkan oleh Menteri Pendidikan Dasar dan Pendidikan Menengah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti, M.Ed. Deep learning sering kali dikaitkan dengan kurikulum, tidak sedikit informasi yang berkembang jika Kurikulum Merdeka akan diganti dengan kurikulum deep learning.
Dalam dunia pendidikan, terdapat berbagai pendekatan pembelajaran yang digunakan oleh siswa dalam memperoleh ilmu pengetahuan. Dua pendekatan utama yang sering dibandingkan adalah Surface Learning dan Deep Learning. Kedua pendekatan ini memiliki karakteristik yang berbeda serta dampak yang beragam terhadap hasil belajar siswa.
Dua pendekatan ini memiliki kelebihan dan kelemahan masing-masingnya, sehingga dibutuhkan pemahaman guru untuk menggunakan pendekatan dalam pembelajaran. Surface Learning merupakan sebuah pendekatan pembelajaran dimana siswa menghafal informasi atau memahami konsep secara permukaan tanpa menghubungkannya dengan Pemahaman yang lebih dalam atau menerapkannya dalam konteks lain.
Beberapa karakteristik yang memperlihatkan pelaksanaan surface Learning diantaranya Fokus pada menghafal fakta dan prosedur, tidak banyak koneksi antara ide serta berorientasi pada hasil jangka pendek saja seperti ujian atau tes saja.
Bukan berarti Surface learning merupakan pendekatan yang tidak baik digunakan. Surface learning dapat digunakan sebagai langkah awal pembelajaran terutama saat siswa memperoleh informasi baru, atau dan mengenal konsep dasar sebelum siswa melangkah ke pemahaman yang lebih mendalam. Seperti contoh anak SD yang menghafal hasil perkalian bilangan tanpa memahami konsep perkalian itu sendiri.
Sedangkan Deep learning yang sekarang menjadi bahasan penggerak pendidikan merupakan sebuah pendekatan pembelajaran yang mendorong siswa untuk memahami konsep secara mendalam, menghubungkan ide dan menerapkannya pengetahuan di situasi baru. Beberapa karakteristik yang dari deep learning ini adalah menghubungkan pengetahuan sebelumnya dengan informasi baru, melibatkan berpikir kritis dan reflektif, mengembangakan keterampilan pemecahan masalah dan kreativitas serta siswa mampu menerapkan pengetahuan dan konteks dunia nyata atau proyek kolaboratif. Pendekatan ini lebih efektif untuk digunakan jangka panjang karena siswa dapat mengingat dan menerapkan informasi secara lebih fleksibel dana berbagai konteks. Pendekatan ini sangat sesuai dengan implementasi Kurikulum Merdeka yang digunakan Pendidikan Indonesia saat ini.





