Golden Catering mulai mengisi katering untuk jemaah haji sejak tahun 2006. Pemilik katering ternama di Kota Padang “Golden Catering”, Asna Reni (56 tahun) atau yang akrab disapa Bunda Reni, melihat bisnis katering ini cukup menjanjikan. Terhitung sejak tahun 2006, usaha ini dipercaya oleh Kemenag menjadi langganan katering jemaah haji di Padang.
Dengan menu andalan randang nan badaceh, membuat makanan yang diproduksinya cocok di lidah banyak pelanggan Minang. Termasuk di kantor-kantor pemerintahan yang diberikannya tester. “Ternyata banyak yang cocok sama cita rasanya, Alhamdulillah tiap hari ada saja pesanan,” ujar Bunda Reni, Jumat (7/3).
Setelah tiga tahun menggeluti usaha makanan, ternyata Golden Katering semakin naik daun. Selain rendang, sebagai putri asli Maninjau salah satu menu khas yang ditawarkan di Golden Catering adalah samba goreng rinuak. Disamping menu ayam bumbu, dendeng, samba buruak-buruak dan makanan khas Minang lainnya.
Lewat bisnis katering ini, ternyata juga membantu perekonomian tetangga terdekatnya dengan serapan tenaga kerja sampai saat ini lebih dari 30 orangan pekerja di kisaran belakang Kompi C Siteba Kecamatan Nanggalo.
“Pernah ada kejadian yang membuat Bunda dan suami sedih. Ternyata saat kita bisa makan enak, ada tetangga kita yang susah membeli makanan, bahkan hanya punya uang 15 ribu rupiah,” ujarnya.
Alhasil Ia memberdayakan para tetangga menjadi pekerjanya. Meski menjunjung tinggi profesionalitas, namun hal kemanusiaan tetap dikedepankannya. “Bisa dilihat, mereka di dapur gendut-gendut juga, kita profesional tapi tidak pelit pada pekerja,” ujarnya.
Usaha ini juga melibatkan saudara, anak dan kemenakannya yang saat ini masih berusia dua puluhan tahun (gen Z dan gen Alpha). “Masing-masing anak dan kemenakan ini ditanya passion nya apa, lalu kita arahkan. Disesuaikan apa passionnya dan kontribusi apa yang bisa dilakukan dalam bisnis ini, supaya mereka belajar mandiri dan bertanggung jawab,” jelasnya.
Meskipun sehari-hari Ia sangat sibuk dan sulit ditemui, Bunda Reni dengan sangat ramah menyempatkan waktu untuk bertemu awak Haluan di kediamannya. Senang berbagi terutama pada karyawan dan tidak pelit ilmu, membuat usahanya berjalan lancar.
Misalnya saja, saat wabah Covid-19 melanda lima tahun lalu, makanan apapun yang ada di dapurnya dibagikannya, padahal saat itu belum jelas kondisi kedepan bagaimana. Berkah datang, alih-alih isi dapur berkurang, permintaan mengisi katering justru semakin tinggi. “Saat Covid-19 melanda di satu sisi itu adalah ujian dan musibah, namun di sisi yang lain justru menjadi berkah bagi kami, karena hampir semua rumah karantina yang ada di Padang kami yang mengisi makanannya,” sebutnya.
Rumah karantina seperti rumah nelayan, asrama haji, puskesmas, dan balai diklat BPOM Padang diampu oleh Golden Catering. Bahkan karena kewalahan harus mengantar ribuan paket katering setiap hari, ia memutuskan menyewa jasa taksi untuk pengantaran makanan. Setelah usaha kateringnya telah berkembang dan maju, saat ini Bunda Reni mulai mengembangkan bisnisnya dengan membuat makanan rendang dan masakan Minang dalam bentuk kemasan. Saat ini ia juga tengah mengurus perizinan agar bumbu rendangnya yang khusus diberi nama Rendang Ratu bisa go international. Untuk mendukung kemajuan usaha kuliner yang digelutinya, ia dan keluarganya juga membuat koperasi yang diberi nama Payung Emas.
“Saya ingin anak-anak saya tidak hanya punya kenang-kenangan usaha katering orang tuanya, tapi saya ingin anak-anak juga bisa berdaya dan mandiri dengan usahanya sendiri,”katanya.
Tak hanya mendukung anak-anak dan kemenakannya saja, Bunda Reni juga mengajak generasi muda saat ini terutama Gen Z, untuk berani berwirausaha. “Dulu usia 30 an awal, Bunda mulai-mulai usaha ini. Dengan kegigihan pasti akan ada jalan. Ada usaha ada rezeki. Generasi muda jangan malu dan takut memulai,” ucapnya. (*)





