OPINI

Sains di Balik Lemon Tea: Rahasia Hebat di Balik Kesegaran Sederhana

5
×

Sains di Balik Lemon Tea: Rahasia Hebat di Balik Kesegaran Sederhana

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi

Oleh: Hardisman

Guru Besar Fakultas Kedokteran UNAND

Di tengah maraknya tren minuman kekinian, dari kopi susu gula aren hingga boba milk tea, namun ada satu minuman yang tetap bertahan sebagai pilihan sejuta umat, yaitu lemon tea. Kombinasi sederhana antara teh dan perasan lemon ini seolah tak pernah kehilangan tempat di hati para penikmat minuman segar, baik disajikan panas maupun dingin. Di kafe-kafe modern hingga warung makan sederhana, “es lemon tea” dan “lemon tea hangat” sangat mudah ditemukan.

Siapa sangka bahwa di balik kesederhanaannya, lemon tea mengandung rahasia ilmiah yang menarik. Minuman ini bukan hanya soal rasa manis dan asam yang menyegarkan, tetapi juga menyimpan cerita biokimia yang memengaruhi metabolisme tubuh kita. Ada sains di balik secangkir lemon tea yang tampak biasa yang ternyata luar biasa.

Manfaat Minuman Teh dengan Sisi Kontradiksi

Sejak ribuan tahun lalu, teh telah menjadi bagian penting dalam tradisi banyak budaya, dari upacara minum teh Jepang yang penuh khidmat hingga kebiasaan minum teh sore ala Inggris. Teh bukan hanya sekadar minuman, melainkan warisan budaya dan bahkan sarana meditatif.

Dari sisi sains, the, baik hitam, hijau, maupun oolong, dikenal kaya akan polifenol, terutama jenis katekin dan tanin. Senyawa ini merupakan antioksidan yang berperan besar dalam melindungi sel-sel tubuh dari kerusakan akibat radikal bebas. Minum teh secara rutin telah dikaitkan dengan peningkatan metabolisme, pengurangan risiko penyakit jantung, dan bahkan perlindungan terhadap gangguan neurodegeneratif seperti Alzheimer.

Selain itu, kandungan kafein dalam teh yang lebih rendah dibanding kopi memberikan efek stimulan ringan yang membantu meningkatkan fokus dan kewaspadaan mental tanpa menyebabkan jitter (gemetar) berlebihan.

Akan tetapi, ada sisi lain dari teh yang dapat menghambat penyerapan zat besi, terutama dari sumber nabati. Padahal zat besi (Fe) adalah mineral penting yang diperlukan tubuh untuk membentuk hemoglobin, protein dalam sel darah merah yang bertugas mengangkut oksigen ke seluruh tubuh. Kekurangan zat besi tentu dapat menyebabkan anemia, yang mengakibatkan kelelahan, lemas, dan daya tahan tubuh yang menurun.

Baca Juga  Perlu Kategori Baru: “Bencana Regional”

Polifenol dan tanin dalam teh memiliki ikatan kuat terhadap molekul zat besi, terutama bentuk non-heme iron (zat besi dalam nabati). Ikatan ini membuat zat besi sulit diserap oleh tubuh di saluran pencernaan. Minum teh segera setelah makan, terutama pada mereka yang mengandalkan sumber zat besi nabati seperti bayam, tahu, atau kacang-kacangan, dapat jadi mengurangi efektivitas penyerapan zat besi secara signifikan. Konsumsi teh saat makan bisa mengurangi penyerapan zat besi hingga 60%. Ini tentu jadi perhatian, terutama bagi orang dengan risiko anemia atau yang sedang meningkatkan asupan zat besi.

Lalu, di sinilah lemon memainkan perannya yang cerdas dan ilmiah.

Lemon  Penyelamat Penyerapan Zat Besi

Lemon bukan hanya pelengkap rasa. Buah berwarna kuning cerah ini ternyata mengandung konsentrasi tinggi vitamin C (asam askorbat), sekitar 30 hingga 50 mg per 100 gram buah segar. Vitamin C telah lama dikenal sebagai antioksidan kuat, namun satu perannya yang penting dalam konteks ini adalah meningkatkan penyerapan zat besi dari makanan.

Vitamin C bekerja dengan cara mereduksi (mengubah) bentuk non-heme iron menjadi bentuk yang lebih mudah diserap di usus, yaitu bentuk ferrous (Fe²⁺). Tak hanya itu, vitamin C juga mencegah zat besi mengikat tanin dari teh, sehingga “menyelamatkan” zat besi dari ikatan tersebut dan memungkinkan tubuh untuk menyerapnya.

Dengan kata lain, lemon menetralkan efek negatif teh terhadap penyerapan zat besi. Di sinilah letak kejeniusan alami lemon tea: dua bahan yang saling menyeimbangkan. Teh, yang bermanfaat tapi menghambat zat besi, dikombinasikan dengan lemon yang justru membantu penyerapan zat besi. Bukankah itu kombinasi yang pantas disebut sebagai harmoni biokimia.

Baca Juga  Menarik Minat Literasi Siswa Melalui Pojok Baca

Ketika Tradisi Bertemu Sains

Menariknya, kebiasaan mencampur teh dengan lemon bukanlah hal baru. Di banyak negara, lemon tea sudah menjadi tradisi kuliner selama puluhan bahkan ratusan tahun. Di Rusia, teh hitam sering disajikan dengan irisan lemon. Di Amerika, es lemon tea adalah simbol musim panas. Bahkan di Indonesia, lemon tea, terutama yang disajikan dengan es batu dan sedikit gula, telah menjadi pilihan utama di berbagai rumah makan dan restoran cepat saji.

Tanpa disadari, kebiasaan ini sebenarnya telah lama mempraktikkan prinsip yang kini dibuktikan oleh sains modern,  keseimbangan antara zat yang menghambat dan zat yang mempermudah penyerapan nutrisi.

Di sinilah kita melihat bahwa tradisi bukan sekadar warisan budaya, tetapi juga kadang menyimpan kebijaksanaan nutrisi yang telah lama diamalkan bahkan sebelum dunia mengenal mikronutrien atau biokimia. Ternyata, resep warisan nenek bisa jadi lebih ‘ilmiah’ dari yang kita bayangkan.

Catatan  Akhir

Meski lemon tea adalah kombinasi yang baik, penting juga memperhatikan waktu konsumsinya. Jika tujuan utama adalah menyerap zat besi secara optimal dari makanan, waktu terbaik untuk mengonsumsi vitamin C dan teh, termasuk dari lemon tea adalah bersamaan dengan makanan atau sesudahnya, bukan berjam-jam setelah makan.

Pada satu sisi, teh dengan kandungan kafeinnya juga merangsang sekresi asam lambung.  Pada sisi lain, bagi mereka yang memiliki masalah lambung (mag), seperti gastritis atau tukak lambung, asam dari lemon juga menjadi risiko terjadinya iritasi. Maka dari itu, sebaiknya konsumsi lemon tea meski dalam jumlah wajar dan tidak saat perut kosong. (*)