TANAH DATAR, HARIANHALUAN.ID — Dusun Muaro Ambius, Jorong Guguak, Nagari Guguak Malalo, Kecamatan Batipuh Selatan, Kabupaten Tanah Datar, menjadi salah satu wilayah yang paling merasakan dampak bencana banjir bandang yang melanda Sumatera Barat sejak 26 November 2025.
Seluruh warga dusun ini, yang berjumlah sekitar 135 Kepala Keluarga (KK), terdampak langsung dan terpaksa mengungsi demi menyelamatkan diri.
Sekitar 450 jiwa, mulai dari anak-anak hingga lansia, meninggalkan rumah mereka dan mengungsi ke rumah sanak saudara. Praktis, 100 persen warga Dusun Muaro Ambius mengungsi saat bencana terjadi.
Meski demikian, tidak ada korban jiwa yang tercatat. Kesadaran masyarakat terhadap potensi bencana dinilai menjadi faktor utama penyelamatan nyawa, setelah adanya imbauan untuk mengungsi sejak sepekan sebelum kejadian.
Namun, kerugian materiil tidak dapat dihindari. Puluhan rumah rusak, kebun tertimbun material, fasilitas umum hancur, hingga kendaraan hanyut terbawa arus.
Kepala Dusun Muaro Ambius, Hengki, menyebutkan sedikitnya 52 rumah mengalami kerusakan dari kategori ringan hingga berat, sementara sekitar 12 hektare kebun warga terdampak parah akibat terjangan banjir bandang.
Selain kehilangan harta benda, trauma juga membekas di sebagian warga, terutama untuk kembali ke rumah yang dipenuhi batu, lumpur, dan material kayu. Pada hari-hari awal pascabencana, aktivitas warga bahkan dibatasi hingga pukul 17.00 WIB.
Namun, seiring berjalannya waktu dan hadirnya para relawan, warga perlahan mulai berani kembali serta bergotong royong membersihkan rumah dan lingkungan.
Banyaknya relawan yang turun ke Dusun Muaro Ambius membuat proses pembersihan berjalan relatif cepat. Meski demikian, tiga hari pertama pascabencana menjadi masa terberat bagi warga.
Akses jalan sempat terputus, bahan pangan terbatas, dan kebutuhan obat-obatan—terutama bagi anak-anak—masih kurang. Kondisi ini mulai membaik setelah bantuan dari masyarakat sekitar dan instansi pemerintah berdatangan.
Di tengah upaya pemulihan itu, Relawan IKA FISIP UNRI Peduli Bencana Sumatera 2025 Gelombang 1 turut hadir dan menjadi bagian dari kerja-kerja kemanusiaan. Tim relawan IKA FISIP UNRI berada di lokasi selama kurang lebih tujuh hari, sejak Senin (8/12/2025) hingga Minggu (14/12/2025).
Mereka bergabung bersama berbagai unsur relawan lain, seperti Basarnas, Polri, Brimob, TNI, PMI, BPBD, BNPB, serta warga sekitar yang tidak terdampak.
Koordinator Siaga Bencana IKA FISIP UNRI, Syahrul Mubaraq, mengatakan kehadiran relawan di Muaro Ambius bukan hanya untuk membantu secara fisik, tetapi juga memberi dukungan moral kepada warga yang terdampak.
“Kami melihat sendiri bagaimana beratnya beban masyarakat pascabencana. Bukan hanya kehilangan harta benda, tetapi juga rasa aman. Kehadiran relawan diharapkan bisa memberi semangat dan rasa tenang, bahwa mereka tidak sendirian,” ujar Syahrul.
Menurutnya, semangat gotong royong yang ditunjukkan warga bersama para relawan menjadi modal sosial penting dalam proses pemulihan. Ia menilai, kolaborasi antara masyarakat, relawan, dan aparat negara di Muaro Ambius patut diapresiasi.
“Sinergi ini membuat proses pembersihan dan pemulihan berjalan lebih cepat. Ke depan, tantangannya adalah fase pascabencana, di mana masyarakat masih sangat membutuhkan dukungan, terutama untuk perlengkapan hidup sehari-hari,” katanya.
Saat ini, kondisi di Dusun Muaro Ambius berangsur membaik. Bantuan logistik dinilai cukup untuk memenuhi kebutuhan dasar warga. Meski demikian, kebutuhan pascabencana masih cukup besar.
Warga membutuhkan selimut, bantal, kompor, panci, serta perlengkapan dapur lainnya untuk memulai kembali kehidupan di rumah masing-masing.
Kepala Dusun Muaro Ambius, Hengki. Ia menyampaikan apresiasi kepada seluruh pihak yang telah membantu warganya.
“Saat ini yang kami butuhkan adalah selimut dan bantal untuk warga yang masih mengungsi karena rumahnya hanyut, serta alat-alat dapur untuk warga yang mulai kembali ke rumah. Kami sangat berterima kasih kepada para relawan, bapak Polisi, bapak Tentara, dan semua instansi yang sudah membantu kami secara maksimal,” ujarnya.
Syahrul menegaskan, aksi kemanusiaan IKA FISIP UNRI belum berakhir. Hingga kini, pihaknya masih membuka donasi untuk membantu korban terdampak dan tidak menutup kemungkinan akan kembali turun ke lokasi bencana lain di Sumatera Barat.
“Pemulihan tidak berhenti saat lumpur dibersihkan. Yang terpenting adalah memastikan masyarakat bisa kembali hidup dengan layak dan bermartabat,” tutupnya. (*)





