PARIAMAN, HARIANHALUAN.ID – Cuaca cerah yang mulai menyelimuti Kota Pariaman sejak Minggu belum mampu memulihkan kondisi wilayah secara penuh setelah dilanda cuaca ekstrem sepanjang sepekan. Dampak hidrometeorologi yang ditinggalkan masih cukup luas, baik pada permukiman, fasilitas publik, hingga sektor pertanian yang kini memasuki masa pemulihan.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Pariaman, Radius Syahbandar, mengatakan fase tanggap darurat masih berjalan meskipun hujan sudah reda. “Kita masih menerima laporan dampak baru dari desa-desa. Cuaca membaik, tapi proses pemulihan panjang. Akses jalan, fasilitas publik, dan kebutuhan warga masih jadi fokus utama,” kata Radius.
BPBD mencatat 7.537 jiwa terdampak, 2.216 rumah terendam, serta kerusakan pada 45 sekolah, satu rumah ibadah, dan puluhan fasilitas umum lainnya. Di sektor permukiman, 58 unit rumah mengalami kerusakan. Pendataan lanjutan masih berproses untuk memastikan tingkat kerusakan.
Wali Kota Pariaman, Yota Balad, menegaskan pemerintah daerah menggerakkan seluruh sumber daya untuk mempercepat pemulihan. “Saya sudah instruksikan seluruh OPD untuk terjun maksimal. Kita tidak bisa menunggu. Kerusakan infrastruktur dan lahan pertanian ini harus dipastikan penanganannya,” ujarnya.
Di sektor pertanian, genangan pada 961,5 hektare sawah dan 23 hektare perkebunan dikhawatirkan berdampak pada masa panen mendatang. Pemerintah daerah telah menyiapkan langkah penanganan bersama Dinas Pertanian, termasuk pemetaan ulang lahan terdampak.
Kerusakan infrastruktur juga cukup berat. Sejumlah ruas jalan seperti Lingkar Kampung Apar, Pasir Sunur, Rimbo Sitapuan hingga akses antar desa mengalami kerusakan. Aliran sungai yang deras saat puncak hujan menyebabkan kerusakan pada dinding penahan tanah di Batang Piaman, Santok, dan Batang Mangguang. Jembatan WFC Kampung Apar kini menunggu rekomendasi teknis lanjutan.
“Kerusakan ini juga menghambat distribusi logistik,” jelas Radius. Selama masa cuaca ekstrem, BPBD mencatat 66 titik pohon tumbang, 5 titik angin kencang, dan 6 titik longsor di empat kecamatan.
Estimasi kerugian sementara mencapai Rp131,6 miliar, meliputi sektor pekerjaan umum, pendidikan, pertanian, perikanan, perkebunan, dan peternakan. Angka ini berpotensi bertambah setelah verifikasi lapangan selesai.
Wali Kota Yota Balad memastikan penanganan berjalan cepat. “Kita pastikan bantuan tidak terhambat. Pemerintah hadir untuk masyarakat, dari pembukaan akses, pembersihan, hingga penyaluran logistik,” ujarnya.
Radius menambahkan bahwa tidak ada korban jiwa, namun kewaspadaan tetap diperlukan. BPBD bersama TNI, Polri, PMI, dan relawan masih melakukan pembersihan material, penyedotan genangan, serta normalisasi drainase. “Kami ajak masyarakat tetap waspada dan segera melapor jika melihat potensi bahaya,” tutup Radius. (*)





