PADANG, HARIANHALUAN.ID — Kepala Dinas Sumber Daya Air dan Bina Konstruksi (SDABK) Sumbar, Rifda Suriani menyebutkan, puluhan alat berat telah dikerahkan sejak hari pertama pascabencana. Selain membuka akses jalan yang tertutup material longsor, alat berat tersebut juga dikerahkan untuk mengeruk sejumlah aliran sungai yang mendangkal akibat banjir bandang.
“Puluhan unit alat berat telah dikerahkan untuk mempercepat pekerjaan di berbagai titik terdampak untuk bekerja secara paralel membersihkan material longsor, timbunan lumpur, dan kerusakan fisik lain yang menghambat mobilitas warga,” katanya, Rabu (7/1).
Sebagian alat berat merupakan armada SDABK dan Dinas PUPR kabupaten/kota, sementara sisanya diperkuat oleh Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN), BWS Sumatera V, TNI, serta dukungan dari sektor swasta. Kolaborasi ini memungkinkan pekerjaan dilakukan siang dan malam, terutama pada jalur penghubung antarwilayah yang sempat terputus.
Di samping pembersihan material, tim gabungan melakukan asesmen teknis pada struktur jembatan, fondasi bangunan publik, hingga saluran drainase untuk memastikan keamanan sebelum kembali digunakan masyarakat. Koordinasi dilakukan melalui posko terpadu sehingga setiap instansi dapat berbagi peran dan sumber daya sesuai kebutuhan di lapangan.
“Masyarakat turut berkontribusi dalam proses pemulihan dengan membantu pembersihan saluran lingkungan dan memberikan informasi mengenai lokasi kerusakan yang memerlukan penanganan cepat. Kehadiran relawan memperkuat kerja tim teknis, terutama dalam pengaturan jalur operasi alat berat di area permukiman,” katanya.
Selain dari pemerintah, upaya serupa juga dilakukan oleh sejumlah sektor swasta. Salah satunya PT Semen Padang, yang juga mengerahkan satu unit alat berat jenis ekskavator ke kawasan Gunung Nago, Kelurahan Lambung Bukit, Kecamatan Pauh, Kota Padang, untuk membantu penanganan dampak banjir dan abrasi di aliran Sungai Batang Kuranji.
Pengerahan alat berat dilakukan menyusul tergerusnya tebing dan badan sungai akibat derasnya aliran air dalam beberapa waktu terakhir. Kondisi tersebut dikhawatirkan mengancam permukiman warga yang berada di sekitar bantaran sungai. (*)





