Oleh: Dr. Yulihasri. SE.MBA.CHRM (Dosen FEB Unand / Rektor ITB HAS)
Bencana banjir yang berulang kali melanda berbagai wilayah di Sumatera mulai dari Sumatera Barat, Sumatera Utara, Aceh hingga Sumatera Selatan menjadi pengingat bahwa dampak bencana tidak berhenti ketika air surut. Rumah yang rusak, lahan pertanian yang hancur, serta aktivitas ekonomi yang lumpuh memang terlihat jelas. Namun, di balik kerusakan fisik tersebut, terdapat luka yang tak kasat mata yaitu trauma psikologis, kelelahan mental dan hilangnya harapan hidup para korban.
Bagi banyak warga Sumatera terutama Sumatera Barat, banjir bukanlah peristiwa satu kali tetapi banjir datang berulang, ini memaksa masyarakat untuk hidup dalam ketidakpastian. Pengalaman kehilangan harta benda, tempat tinggal, bahkan mata pencaharian menimbulkan tekanan psikologis yang berat. Rasa cemas, takut akan masa depan dan kelelahan emosional sering kali menetap lama setelah bencana berlalu, sehingga perlu dicarikan jalan keluar seperti pemulihan psikologis pascabencana.
Pentingya Pemulihan Psikologis
Pemulihan pasca bencana membutuhkan pendekatan yang berpusat pada manusia. Dalam perspektif psikologi, manusia dipandang sebagai aset utama yang harus dijaga kesejahteraan fisik dan psikologisnya. Prinsip ini relevan diterapkan dalam penanganan korban bencana. Korban bukan sekadar penerima bantuan fisik berupa makanan, pakaian, tempat tinggal dan sebagainya melainkan juga psikologis, martabat dan potensi untuk pulih dan hidup secara normal kembali.
Pemulihan Psikologis
Bencana banjir yang melanda berbagai wilayah di Sumatera Barat meninggalkan dampak yang tidak selalu tampak secara kasat mata. Di balik kerusakan rumah, lahan dan fasilitas umum, terdapat tekanan psikologis yang dialami korban secara mendalam. Rasa takut akan banjir susulan, kecemasan terhadap masa depan, serta pengalaman kehilangan menjadikan pemulihan mental sebagai kebutuhan mendesak yang seringkali terabaikan dalam agenda pasca bencana.
Pemulihan psikologis berperan sebagai fondasi awal dalam membangun kembali ketahanan individu dan komunitas. Korban yang mampu mengelola trauma dan stres memiliki kapasitas yang lebih besar untuk bangkit, mengambil keputusan, serta berpartisipasi aktif dalam proses pemulihan sosial dan ekonomi. Dalam konteks ini, pendekatan psikososial seperti pendampingan emosional, dukungan sebaya dan aktivitas berbasis komunitas menjadi strategi penting untuk memulihkan keseimbangan mental.Baca juga : Prabowo dan Purbaya : Optimisme Nasional di Dunia yang Terbelah
Konteks sosial dan budaya masyarakat Sumatera Barat memberikan peluang besar dalam proses pemulihan psikologis. Nilai kebersamaan, gotong royong dan ikatan kekerabatan dapat dimanfaatkan sebagai mekanisme alami penyembuhan trauma. Ketika korban merasa tidak sendirian dan diterima oleh lingkungannya, rasa aman dan kepercayaan diri perlahan pulih. Hal ini sejalan dengan prinsip psikologis yang menempatkan kesejahteraan psikologis sebagai prasyarat produktivitas dan keberlanjutan peran individu. Lebih jauh, pemulihan psikologis yang terintegrasi dengan program pemberdayaan seperti pelatihan keterampilan, aktivitas kerja kolektif dan penguatan ekonomi lokal mampu mempercepat proses adaptasi pasca banjir.
Aktivitas yang bermakna membantu korban mengalihkan fokus dari pengalaman traumatis menuju tujuan baru yang konstruktif. Dengan demikian, pemulihan psikologis tidak hanya berfungsi sebagai proses penyembuhan, tetapi juga sebagai sarana membangun harapan dan ketangguhan jangka panjang.
Selanjutnya bahwa keberhasilan pemulihan pasca banjir di Sumatera Barat sangat ditentukan oleh perhatian terhadap aspek psikologis korban. Tanpa fondasi mental yang kuat, upaya pemulihan lainnya berisiko tidak berkelanjutan. Sebaliknya, ketika kesehatan mental menjadi prioritas, masyarakat memiliki peluang lebih besar untuk bangkit dengan martabat, kekuatan dan optimisme menghadapi masa depan.
Harapan Baru Masyarakat
Banjir di Sumatera Barat tidak hanya berdampak pada rumah tangga, tetapi juga pada dunia kerja dan ekonomi secara umumnya. Banyak korban kehilangan pekerjaan, usaha kecil terhenti dan produktivitas menurun drastis. Dalam situasi ini, pemulihan mental menjadi fondasi utama pemulihan ekonomi. Individu yang masih berada dalam kondisi trauma akan kesulitan untuk kembali bekerja, mengambil keputusan, atau melihat peluang baru.
Dari sudut pandang psikologi, pemulihan mental pasca bencana adalah proses membangun kembali motivasi dan resiliensi. Resiliensi merupakan kemampuan untuk bertahan, beradaptasi dan bangkit di tengah tekanan. Seperti masyarakat Sumatera Barat menunjukkan resiliensi luar biasa melalui nilai gotong royong, solidaritas social dan semangat kebersamaan. Nilai-nilai lokal ini menjadi modal sosial yang sangat penting dalam proses pemulihan.
Pasca Bencana harapan menjadi kebutuhan paling mendasar dan harapan bukan sekadar optimisme kosong, melainkan energi mental yang memungkinkan seseorang bangkit dari keterpurukan. Bagi korban banjir di Sumatera khususnya Sumatera Barat, harapan sering tumbuh dari hal-hal sederhana: dukungan keluarga, solidaritas tetangga, kehadiran relawan, serta keyakinan bahwa kehidupan masih bisa diperbaiki meskipun dimulai dari titik nol. Harapan pasca bencana tidak muncul secara instan. Ia membutuhkan waktu, konsistensi dukungan dan kebijakan yang berpihak pada pemulihan manusia. Dengan mengintegrasikan pendekatan kemanusiaan dan pemulihan psikologis pasca banjir di Sumatera Barat dapat menjadi momentum membangun masyarakat yang lebih tangguh, berdaya dan bermartabat. Harapan, pada akhirnya, adalah fondasi utama untuk menata ulang masa depan setelah bencana.
Harapan pasca bencana juga tumbuh ketika korban dilibatkan secara aktif dalam proses pemulihan. Partisipasi dalam kegiatan gotong royong, pelatihan keterampilan dan program pemberdayaan ekonomi membantu memulihkan rasa berdaya. Dalam perspektif psikologi, keterlibatan meningkatkan rasa memiliki dan kepercayaan diri sehingga korban tidak lagi diposisikan sebagai objek bantuan, tetapi sebagai subjek perubahan. Di berbagai wilayah Sumatera Barat, banyak kisah tentang warga yang bangkit membuka kembali usaha kecil atau mencari peluang baru pasca banjir. Proses ini tidak mudah dan penuh risiko, tetapi harapan memberi keberanian untuk mencoba kembali.
Ditambahkan, lingkungan yang suportif menjadi penopang utama pemulihan mental seperti bantuan material memang penting, tetapi tanpa dukungan emosional pemulihan akan tidak berjalan dengan semestinya. Seperti korban banjir membutuhkan ruang untuk berbagi cerita, mengekspresikan kesedihan dan memproses pengalaman traumatis. Pendekatan ini sejalan dengan konsep kesejahteraan mental dalam psikologi. Oleh karena itu, pemulihan pasca bencana tidak boleh hanya berfokus pada faktor fisik, tetapi juga pemulihan psikologis sehingga apa yang kita harapkan bersama pemulihan pasca bencana akan berjalan dengan baik. (*)




