Ayo Baca Koran Harian Haluan

Edisi 1 Januari 1970
PESISIR SELATANSUMBAR

Tangis dari Ngalau Gadang: 1,5 Bulan Pascabencana, Kampung di Bayang Utara Masih Terisolasi

0
×

Tangis dari Ngalau Gadang: 1,5 Bulan Pascabencana, Kampung di Bayang Utara Masih Terisolasi

Sebarkan artikel ini

Laporan: Okis Mardiansyah (Wartawan Haluan Kabupaten Pesisir Selatan)

PESISIR SELATAN, HARIANHALUAN.ID– Pagi itu, Minggu (11/1/2026), kabut masih menggantung di perbukitan Ngalau Gadang, Nagari Limau Gadang, Kecamatan IV Nagari Bayang Utara, Kabupaten Pesisir Selatan. Suara alam yang biasanya riuh penuh kegirangan, kini bercampur dengan kesunyian panjang, sebuah kampung yang seakan dilupakan waktu. Sudah satu setengah bulan berlalu sejak banjir bandang dan tanah longsor menghantam wilayah ini, namun luka itu belum juga sembuh.

Ngalau Gadang, kampung kecil dengan 670 jiwa penduduk atau sekitar 168 kepala keluarga, hingga kini masih hidup dalam kondisi “terisolasi”. Jembatan Limau-limau, satu-satunya akses keluar masuk kampung, putus diterjang amukan air pada 27 November 2025 lalu. Sejak itu, roda kehidupan warga seolah berhenti berputar.

Di dalam kampung, tiga titik jalan tertimbun longsor. Tanah merah bercampur batu masih menggunung, sebagian sudah dirapikan secara manual dengan cangkul oleh warga. Namun jalan-jalan itu tetap ekstrem, licin, dan sangat rawan kecelakaan. Bahkan, longsor susulan kembali menutup satu titik jalan, membuat sepeda motor pun tak lagi bisa melintas.

Bencana tak hanya memutus akses. Sebanyak 13 unit rumah warga hanyut dan tertimbun longsor. Satu unit Pembangkit Listrik Tenaga Mikro Hidro (PLTMH) yang menjadi sumber penerangan kampung sekitar hancur, meninggalkan malam-malam gelap bagi masyarakat Ngalau Gadang.

Dalam kondisi tersebut, semangat gotong royong tak pernah padam, kekompakan ditengah keterbatasan menjadi sandaran terakhir. Warga bersama TNI Angkatan Darat membangun jembatan darurat dari bambu dan kayu. Jembatan itu hanya cukup dilalui sepeda motor saja, itupun dengan rasa was-was. Terlihat, setiap deretan kayu dan bambu menjadi pengingat rapuhnya akses hidup mereka.

Baca Juga  Pemkab Pessel Gelar Sosialisasi Perpres 46 Tahun 2025 Tentang Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah

Di kampung ini berdiri satu TK/PAUD, satu SD, satu Puskesri, satu masjid, dan dua mushalla. Namun untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang SMP, MTs, MA, hingga SMA, anak-anak Ngalau Gadang harus keluar kampung. Kini, perjalanan itu menjadi perjuangan harian yang melelahkan.

Guru-guru yang sebagian besar datang dari luar kampung terpaksa berjalan kaki sekitar satu jam melewati jalan rusak dan jembatan darurat. Tak jarang, mereka baru tiba di sekolah sekitar pukul 10.00 WIB. Proses belajar mengajar pun terpangkas oleh jarak dan waktu. Anak-anak yang seharusnya belajar dengan ceria, kini ikut menanggung beban bencana.

Tak hanya itu, tekanan ekonomi kian mencekik. Harga gas elpiji 3 kilogram melonjak hingga Rp35 ribu per tabung. Komoditas andalan warga seperti kulit manis terpaksa dijual murah karena mahalnya biaya angkut. Sekitar 20 unit mobil milik warga hingga kini terkurung di kampung, tak bisa keluar karena akses terputus.

“Rasanya seperti hidup di pulau terasing,” ujar Anggota DPRD Pesisir Selatan Fraksi PAN, Novermal, yang menyaksikan langsung kondisi warga Ngalau Gadang.

Baca Juga  Puluhan Peserta Ikuti Audisi Duta Genre Solsel

Ia menyebut, hampir seluruh aktivitas ekonomi masyarakat lumpuh akibat keterisolasian yang berkepanjangan.

Di tengah keterbatasan itu, Jasman, tokoh masyarakat Ngalau Gadang, menyampaikan harapan yang sederhana namun mendesak. Ia berharap pemerintah segera hadir dengan langkah nyata.

“Sudah hampir satu setengah bulan kami merasakan kondisi seperti ini. Rumah hanyut, jembatan putus, akses keluar sama sekali tidak ada,” kata Jasman.

Ia memohon agar pemerintah daerah, pemerintah provinsi, dinas terkait, hingga BNPB pusat segera membangun jembatan yang bisa dilalui kendaraan roda empat, mendatangkan alat berat untuk membersihkan material longsor, serta membangun kembali PLTMH yang hancur.

“Kami bermohon, sebelum Ramadhan isolasi ini sudah terbuka,” ucapnya dengan nada lirih.

Menurut Jasman, bantuan dari para donatur sejauh ini masih cukup untuk kebutuhan sementara. Namun ia khawatir jika pemulihan tak segera dilakukan, masyarakat akan semakin terpuruk.

“Masalah ekonomi sudah sangat berat, lampu tidak ada, akses anak-anak ke sekolah dan guru sangat kesulitan. Kami mohon, tolong perhatikan nasib 670 jiwa masyarakat Ngalau Gadang,” tuturnya.

Di balik keindahan alam Bayang Utara, tangis Ngalau Gadang masih menggema pelan ditelinga. Kampung ini menunggu, berharap alat berat dan bangunan jembatan bukan sekadar janji, melainkan tanda bahwa mereka tidak sendirian menghadapi bencana, seperti yang kerap disuarakan para penguasa. Semoga! (*)