OPINI

Kini Antara Donald Trump dan Delcy Rodríguez

0
×

Kini Antara Donald Trump dan Delcy Rodríguez

Sebarkan artikel ini
Ronny P. Sasmita (Analis Senior ISEAI/Peneliti Senior Tamu CIDS University of Philippines)

Oleh: Ronny P. Sasmita (Analis Senior ISEAI/Peneliti Senior Tamu CIDS University of Philippines)

Dunia cukup terkejut saat fajar menyingsing di awal Januari 2026. Operasi Absolute Resolve yang diluncurkan oleh Pentagon bukan sekadar gertakan militer biasa, tapi sebuah teater kekuatan otot militer yang berpuncak pada penangkapan dramatis Nicolás Maduro. Di bawah langit Caracas yang masih berkabut, pasukan elite Amerika Serikat mengakhiri kekuasaan panjang pria yang selama ini menjadi duri dalam daging bagi Washington.

Namun, bagi Donald Trump, penangkapan tersebut bukanlah akhir dari misi kemanusiaan atau restorasi demokrasi, melainkan sebuah babak baru dari sebuah “akuisisi bisnis” raksasa yang sudah lama ia incar.

Dalam konferensi pers yang digelar tak lama setelah operasi tersebut, Trump tampil dengan gaya khasnya, tanpa basa-basi dan penuh percaya diri. Berulang kali, kata “minyak” meluncur dari bibirnya layaknya mantra. Ia tidak lagi bicara soal hak asasi manusia, tapi soal  bagaimana ladang-ladang minyak Venezuela yang terbengkalai dan infrastrukturnya yang “bobrok” harus segera diperbaiki.

“Kita yang memegang kendali sekarang,” cetus Trump. Pesannya jelas bahwa Amerika Serikat tidak hanya datang untuk menangkap seorang presiden, tapi untuk mengambil alih mesin ekonomi paling berharga di belahan bumi Barat.

Pernyataan “ambil alih” ini seketika menyulut api di Wall Street. Lantai bursa New York menghijau dalam hitungan menit setelah pidato Trump disiarkan. Saham-saham raksasa minyak Amerika, para “Pemain Besar” seperti Chevron, ExxonMobil, hingga ConocoPhillips, melonjak drastis, mencatatkan kenaikan dua digit dalam satu sesi perdagangan.

Para investor bertaruh bahwa akses eksklusif ke cadangan minyak terbesar di dunia akan segera terbuka bagi korporasi Texas. Di mata para dedengkot Wall Street, Venezuela bukan lagi zona terlarang, melainkan “tambang emas” yang baru saja dibuka gemboknya oleh militer Amerika.

Pernyataan ini segera memicu gelombang pasang di pasar energi global. Selama ini, Venezuela adalah sekutu ekonomi utama China, dengan sebagian besar hasil buminya mengalir ke Beijing sebagai pembayaran utang yang sudah menumpuk.

Di tengah perang dingin antara Washington dan Beijing yang kian memanas, penguasaan minyak Venezuela oleh Amerika bukan sekadar soal menambah stok BBM negeri Paman Sam, tapi upaya mencekik jalur energi sang naga. Jika Trump berhasil menguasai keran minyak Caracas, berarti memegang tuas kendali yang luar biasa besar untuk memaksa China  bernegosiasi ulang, tentunya dengan “term and condition” yang jauh lebih menguntungkan Amerika

Namun, di tengah euforia Gedung Putih dan Wall Street, sebuah realitas pahit tetap bertahan di Caracas. Alih-alih runtuh total, struktur kekuasaan Chavismo ternyata masih tegak berdiri. Sesaat setelah Maduro dibawa pergi, Wakil Presiden Delcy Rodríguez dengan tenang melangkah maju, dilantik oleh Mahkamah Agung, dan menegaskan bahwa dirinya adalah pemegang komando yang sah.

Dengan retorika yang sangat kuat, ia menyatakan bahwa Venezuela bukanlah negara jajahan dan AS tidak punya hak atas setetes pun minyak mereka. Di sinilah teka-teki besarnya muncul. Bagaimana mungkin Trump bisa mengelola minyak Venezuela jika “kunci” menuju sumur-sumur minyak tersebut masih digenggam erat oleh seorang wanita yang merupakan tangan kanan Maduro?