JAKARTA, HARIANHALUAN.ID – Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) mencatat sejumlah kejadian bencana yang terjadi di beberapa wilayah Indonesia berdasarkan hasil pemantauan Pusat Pengendalian dan Operasi (Pusdalops) BNPB pada periode 19 Januari 2026 hingga 20 Januari 2026 pukul 07.00 WIB. Kejadian bencana yang tercatat masih didominasi oleh bencana hidrometeorologi basah, seperti banjir dan angin kencang.
Kejadian pertama dilaporkan oleh Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karawang. Peristiwa bermula saat hujan dengan intensitas tinggi menyebabkan meluapnya Sungai Citarum dan Sungai Cibeet sehingga air masuk ke permukiman warga pada Minggu (18/1) pukul 09.00 WIB. Banjir tersebut berdampak pada 27 desa di 12 kecamatan dan satu kelurahan.
Wilayah kecamatan yang terdampak meliputi Kecamatan Karawang Timur, Telukjambe Timur, Pangkalan, Telukjambe Barat, Karawang Barat, Jayakerta, Cilebar, Rawamerta, Rengasdengklok, Lemahabang, Cilamaya Wetan, dan Klari.
Petugas mencatat sebanyak 4.304 Kepala Keluarga (KK) atau 13.841 jiwa terdampak. Dari jumlah tersebut, terdapat 374 balita, 86 bayi, dan 77 lansia. Petugas di lapangan telah melakukan asesmen, evakuasi warga yang terjebak banjir, serta pendistribusian logistik.
Sebanyak 2.413 jiwa mengungsi dengan rincian 2.044 jiwa mengungsi di Kantor Kelurahan Tanjung Pura, Kecamatan Karawang Barat, 250 jiwa mengungsi di Desa Jarang Kugar, Kecamatan Telukjambe Barat, dan 119 jiwa mengungsi di Desa Purwadana, Kecamatan Telukjambe Timur.
Hingga Senin (19/1), banjir masih merendam wilayah terdampak dengan Tinggi Muka Air (TMA) bervariasi antara 10 hingga 200 sentimeter.
Selanjutnya, hujan deras disertai angin kencang juga dilaporkan terjadi di Kota Bekasi, Provinsi Jawa Barat, pada Minggu (18/1). Kondisi tersebut memicu terjadinya banjir dan pohon tumbang di beberapa titik wilayah Kota Bekasi. Satu orang warga dilaporkan meninggal dunia akibat terseret banjir, sementara 197 warga lainnya mengungsi ke tempat yang lebih aman.
Petugas melakukan asesmen di titik-titik lokasi banjir, mengevakuasi sembilan warga yang terjebak banjir, serta melakukan evakuasi pohon tumbang. Selain itu, dilakukan pendistribusian bantuan logistik di beberapa titik lokasi banjir dan distribusi air bersih di Kelurahan Harapan Baru, Kecamatan Bekasi Utara. Saat ini, kondisi banjir telah surut dan seluruh pengungsi telah kembali ke rumah masing-masing.
Beralih ke wilayah Provinsi Jawa Timur, hujan deras yang berlangsung selama lebih dari dua jam di Kecamatan Sawoo, Kabupaten Ponorogo, mengakibatkan longsor pada bahu jembatan di Desa Grogol pada Minggu (18/1) pukul 18.00 WIB. Longsor tersebut memilikis kemiringan sekitar 80 sentimeter, panjang lima meter, dan ketebalan 1,5 meter. Tidak terdapat laporan korban jiwa, namun sebanyak 500 jiwa terisolasi akibat jembatan putus dan tidak dapat dilalui kendaraan. Warga di sekitar lokasi diimbau untuk tetap waspada mengingat masih terdapat potensi longsor susulan karena kondisi tanah yang labil serta adanya retakan pada badan jembatan.
Pada hari yang sama, hujan deras juga terjadi di Kabupaten Jepara, Provinsi Jawa Tengah. Akibatnya, Sungai Jeratus Soluna meluap sehingga air masuk ke permukiman warga di Desa Sekuro, Kecamatan Mlonggo, serta Desa Sowan, Desa Bondo, dan Desa Batukali di Kecamatan Kedung.
Petugas mencatat sebanyak 582 KK atau 1.177 jiwa terdampak. Hingga saat ini belum terdapat laporan warga yang mengungsi. BPBD Kabupaten Jepara telah mendirikan dapur umum untuk memenuhi kebutuhan dasar warga terdampak.
Menyikapi puncak musim hujan, BNPB mengimbau pemerintah daerah dan masyarakat untuk tetap waspada dan siaga dalam mengantisipasi potensi bencana hidrometeorologi. Masyarakat diharapkan menyiapkan tas siaga bencana sebagai langkah kesiapsiagaan serta senantiasa memantau informasi dari sumber resmi dan terpercaya, seperti BNPB, BPBD, dan BMKG. (*)






