PENDIDIKAN

KAHMI–FORHATI Pulihkan Sekolah Pascabencana di Batipuah Selatan

1
×

KAHMI–FORHATI Pulihkan Sekolah Pascabencana di Batipuah Selatan

Sebarkan artikel ini

BATIPUAH SELATAN, HARIANHALUAN.ID — Bencana galodo yang melanda Kecamatan Batipuah Selatan tidak hanya merusak bangunan sekolah, tetapi juga meninggalkan luka psikologis bagi anak-anak dan keluarga.

Menyadari kondisi tersebut, Majelis Wilayah Korps Alumni Himpunan Mahasiswa Islam (MW KAHMI) Sumatera Barat bersama FORHATI Sumatera Barat menghadirkan Program Sekolah Aman, Siswa Terlindungi sebagai upaya pemulihan psikososial dan penguatan ketangguhan pendidikan pascabencana.

Program tersebut diawali dengan kegiatan Training of Trainers (TOT) Layanan Dukungan Psikososial Pascabencana yang digelar di SMP Negeri 2 Batipuah Selatan pada Jumat (16/1) lalu. Kegiatan tersebut sekaligus menandai terbentuknya Satuan Tugas (Satgas) Pendidikan Pengurangan Risiko Bencana (PRB) Kecamatan Batipuah Selatan, yang akan menjadi ujung tombak pendampingan psikososial di sekolah-sekolah terdampak.

Presidium MW KAHMI Sumatera Barat, Desrio Putra, mengatakan bahwa pemulihan pascabencana tidak dapat berhenti pada pembangunan kembali sarana fisik. Menurutnya, sekolah harus kembali menjadi ruang aman yang mampu memulihkan rasa percaya diri dan kenyamanan belajar peserta didik.

“Membangun gedung sekolah memang penting, tetapi itu belum cukup. Anak-anak yang mengalami bencana membutuhkan ruang aman untuk pulih secara psikologis. Sekolah harus hadir bukan hanya sebagai tempat belajar, tetapi juga sebagai ruang perlindungan dan pemulihan bagi mereka,” ujar Desrio Putra, Rabu (21/1). 

Kegiatan tersebut, katanya diikuti oleh guru-guru jenjang TK, SD, hingga SMP/MTs dari dua nagari yang paling terdampak galodo. Para guru tidak hanya dibekali pemahaman teoritis, tetapi juga dilatih keterampilan praktis untuk melakukan pendampingan psikososial dan pengurangan risiko bencana secara berkelanjutan di sekolah masing-masing.

Pelatihan difasilitasi oleh Tim Fasilitasi Satgas MW KAHMI Sumatera Barat yang terdiri dari Wanda Fitri, Fikon, Chitra Puspitahati, Fitri Yanti, Tanti Endang Lestari, Eka Vidya Putra, dan Hasan Basri. Melalui metode partisipatif dan praktik langsung, guru dipersiapkan menjadi pendamping pertama bagi peserta didik yang mengalami tekanan emosional pascabencana.

Selain menyasar sekolah, kata Desrio, program tersebut juga melibatkan keluarga sebagai lingkungan terdekat anak. Melalui Sosialisasi dan Edukasi Psychological First Aid (PFA), sebanyak 67 orang tua dan wali murid dari 15 sekolah dibekali pemahaman tentang cara mendampingi anak secara empatik dan suportif di rumah.

Perwakilan orang tua siswa mengungkapkan bahwa masyarakat setempat sejatinya telah memiliki kesadaran mitigasi bencana yang cukup baik. Namun, pemahaman tentang pendampingan psikologis anak pascabencana masih terbatas. Kegiatan ini dinilai membantu orang tua memahami perubahan emosi dan perilaku anak, sekaligus peran penting keluarga dalam proses pemulihan.

Sementara itu, Layanan Dukungan Psikososial Dasar bagi peserta didik dilaksanakan di 15 sekolah dan menjangkau 783 siswa dari jenjang TK hingga SLTA. Melalui pendekatan bermain, berekspresi, dan penguatan kebersamaan, anak-anak didorong untuk kembali merasa aman, percaya diri, dan nyaman berada di lingkungan sekolah.