SUMBARUTAMA

Museum Tokoh Pendiri INS Kayu Tanam M Sjafe’i Diresmikan Fadli Zon

16
×

Museum Tokoh Pendiri INS Kayu Tanam M Sjafe’i Diresmikan Fadli Zon

Sebarkan artikel ini
Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon menghadiri Seminar Kebudayaan sekaligus Aktivasi Museum tokoh pendiri INS Kayu Tanam , Mohammad Sjafe'i Jumat (23/1/2026) malam.. IST

PADANG PARIAMAN, HARIANHALUAN.ID- Menteri Kebudayaan RI, Fadli Zon menghadiri Seminar Kebudayaan sekaligus Aktivasi Museum tokoh pendiri INS Kayu Tanam , Mohammad Sjafe’i Jumat (23/1/2026) malam.

Museum M Sjafe’i dan INS Kayu Tanam, yang didirikan Engku Muhammad Sjafe’i pada 1926 silam, menjadi saksi perkembangan sistem pendidikan modern generasi awal Ranah Minang yang telah mewarnai sejarah perjalanan bangsa Indonesia.

Tepat menjelang satu abad berdirinya INS Kayu Tanam, pemerintah melalui Kementerian Kebudayaan mendorong agar warisan besar itu tidak berhenti sebagai catatan sejarah.

Menteri Kebudayaan RI Fadli Zon menegaskan, aktivasi Museum M Sjafe’i harus dimaknai sebagai usaha menghidupkan kembali gagasan, bukan sekadar mengenang pendirinya.

“Kita tidak hanya mengenang apa yang dilakukan Engku Muhammad Sjafe’i 100 tahun lalu, tetapi bagaimana melanjutkan cita-cita beliau hari ini, terutama untuk generasi muda,” ujar Fadli Zon dalam sambutannya.

Ia menyebut INS Kayu Tanam sebagai salah satu institusi pendidikan paling penting pada masanya. Berdiri pada Oktober 1926, INS menjadi penanda kuatnya kesadaran pendidikan di Sumatra Barat, sejajar dengan Taman Siswa di Jawa dan Diniyah Putri serta Sumatera Thawalib di Ranah Minang.

“Pada masa itu, pendidikan menjadi jalan pencerahan. Dari sanalah lahir semangat nasionalisme, persatuan, dan perjuangan merebut kemerdekaan,” katanya.

Menurut Fadli Zon, sejarah pendidikan di Sumatra Barat menunjukkan bahwa kebudayaan dan pendidikan tidak pernah terpisah. Keduanya saling menguatkan dan menjadi fondasi karakter bangsa Indonesia yang beragam namun satu.

“Perbedaan budaya bukan ancaman, melainkan kekuatan. Ia menjadi daya rekat bangsa, bahkan bisa menjadi mesin pertumbuhan jika dikelola dengan benar,” ujarnya.

Dalam konteks itu, Kementerian Kebudayaan dibawah komando Fadli Zon melalui Direktorat Sarana dan Prasarana yang di koordinir oleh mantan Dekan Pertanian UNAND Feri Arlius turut memberikan dukungan terhadap institusi bersejarah seperti INS Kayu Tanam.

Dukungan tersebut diharapkan tidak berhenti pada revitalisasi fisik museum, tetapi berlanjut pada penghidupan kembali nilai-nilai dan gagasan yang diwariskan.

Menteri Fadli Zon yang juga merupakan tokoh masyarakat Sumatera Barat ini juga menyinggung harapan agar pemikiran dan karya Engku Muhammad Sjafe’i dapat diusulkan sebagai bagian dari Memory of the World UNESCO.

“Kontribusi beliau di bidang pendidikan dan kebudayaan sangat besar. Ini bukan hanya milik Sumatra Barat, tapi milik Indonesia dan dunia,” tegasnya.

Ia berharap Museum M Sjafe’i ke depan menjadi Living legacy atau warisan yang hidup dan terus melahirkan karakter, cara berpikir, dan keterampilan hidup bagi generasi baru.

“Museum ini harus menjadi ruang hidup gagasan. Tempat ide-ide besar terus disemai dan dikembangkan,” katanya.

Pada kesempatan itu, Fadli Zon juga mengajak hadirin mengingat kembali lagu “Indonesia Subur” ciptaan Engku M Sjafe’i yang pernah akrab di telinga generasinya.

“Lagu itu mengingatkan kita pada cita-cita Indonesia yang makmur dan berdaulat. Nilainya masih sangat relevan hingga hari ini,” ujarnya.

Dari Kayu Tanam, sejarah kembali berbicara. Bukan untuk diratapi, melainkan untuk dilanjutkan—agar pendidikan dan kebudayaan kembali menjadi jalan pembentuk masa depan bangsa. (*)