PESISIR SELATAN, HARIANHALUAN.ID – Harapan baru mulai tumbuh bagi warga korban bencana banjir dan tanah longsor di Kabupaten Pesisir Selatan (Pessel). Bupati Pessel, Hendrajoni, meresmikan Hunian Sementara (Huntara) bagi warga terdampak di Kampung Limau Antu, Kenagarian Puluik-Puluik, Kecamatan Bayang Utara, Sabtu (24/1/2026).
Peresmian Huntara ini menjadi titik terang bagi 22 Kepala Keluarga (KK) yang selama beberapa bulan terakhir terpaksa mengungsi di gedung-gedung pemerintah. Rumah mereka rusak parah, hanyut diterjang banjir, berada di zona merah yang dinilai rawan bencana dan tidak lagi aman untuk dihuni.
Dalam sambutannya, Bupati Hendrajoni menegaskan bahwa Huntara yang dibangun bukan sekadar tempat berteduh sementara, tetapi dirancang agar warga dapat menjalani kehidupan sehari-hari dengan lebih layak dan manusiawi.
“Kami tidak ingin masyarakat hanya sekadar punya atap. Huntara ini kami lengkapi dengan kasur, bantal, selimut, kipas angin, perlengkapan masak, hingga kamar mandi. Harapannya, warga bisa beristirahat dengan baik dan mulai menata kembali kehidupan pascabencana,” ujar Hendrajoni.
Selain hunian, pemerintah juga memastikan dukungan ekonomi bagi para penyintas. Melalui Kementerian Sosial (Kemensos), setiap jiwa mendapatkan bantuan biaya hidup sebesar Rp15.000 per hari, ditambah program Jaminan Hidup (Jadup) selama masa transisi menuju hunian yang lebih permanen.
Bencana hidrometeorologi yang melanda Pesisir Selatan pada November 2025 lalu tercatat sebagai salah satu yang terparah dalam beberapa tahun terakhir. Berdasarkan data pemerintah daerah, bencana tersebut berdampak pada 11 kecamatan dan 95 nagari. Sektor perumahan mengalami kerusakan signifikan, dengan 15 rumah dilaporkan hanyut dan 132 rumah lainnya berada di zona merah yang membahayakan keselamatan penghuninya.
Sebagai langkah lanjutan, pemerintah daerah juga telah menyalurkan Dana Tunggu Hunian (DTH) sebagai solusi jangka menengah bagi warga terdampak.
“DTH tahap pertama sudah disalurkan pada 7 Januari 2026 kepada 35 KK. Untuk tahap kedua, saat ini sedang kami usulkan ke BNPB dan dijadwalkan minggu depan,” jelas Hendrajoni.
Bupati menyebut bahwa Huntara ini bersifat sementara. Pemerintah daerah kini tengah mempersiapkan lahan untuk pembangunan Hunian Tetap (Huntap) agar seluruh warga terdampak dapat direlokasi ke satu kawasan yang lebih aman, tertata, dan berkelanjutan.
Peresmian Huntara tersebut turut dihadiri perwakilan Anggota DPR RI Komisi VIII, Lisda Hendrajoni, jajaran BNPB, unsur Forkopimda Pesisir Selatan, serta tokoh masyarakat setempat.
Selain di Pesisir Selatan, peresmian Huntara juga dilakukan secara paralel di sejumlah daerah lain di Sumatera Barat, seperti Batang Anai (Padang Pariaman), Kabupaten Agam, dan Kabupaten Lima Puluh Kota. Langkah ini menjadi bagian dari upaya percepatan pemulihan fisik dan sosial masyarakat pascabencana di tingkat provinsi. (*)






