UTAMA

Sudah Jadi Cagar Budaya Sejak Tahun 2010, tapi Masjid Raya Lima Kaum Masih Minim Perhatian Pemerintah

2
×

Sudah Jadi Cagar Budaya Sejak Tahun 2010, tapi Masjid Raya Lima Kaum Masih Minim Perhatian Pemerintah

Sebarkan artikel ini
Rombongan Jo-Jo 3 di Masjid Raya Lima Kaum Tanah Datar, Sabtu (24/1)

Perjalanan Jurnalistik Edisi 3 yang dikemas komunitas Journalist Journey (Jo-Jo) pada hari Sabtu (24/1) menyasar sejumlah lokasi di Tanah Datar dan Kota Wisata Bukittinggi. Perjalanan dengan Amirul Wan Eko Yanche membawa sejumlah Wartawan Senior bersama keluarga yakni  Gusfen Khairul , Ismet Fanany,Nofi Sastera, Zulnadi, Atviarni dan Charles Zen. Rombongan juga dimeriahkan keikutsertaan ibuk ibuk seperti Riza Eko, Getri, Nike Gusfen, Hartini Zulnadi, Welly Nofi, Dessy dan  Wawa, Yanti Chan. Berikut laporannya

TANAH DATAR, HARIANHALUAN.ID — Kagum, bangga dan sekaligus prihatin tatkala melihat dan mengetahui kondisi Masjid Raya Lima Kaum yang berstatus Cagar Budaya. Ternyata Masjid Raya Lima Kaum, Pariangan,Tanah Datar  masih sunyi dari sentuhan pemerintah. Padahal sejak  tahun 2010, Masjid Raya Lima Kaum ini  sudah ditetapkan sebagai cagar budaya oleh Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Indonesia, bersama dengan beberapa masjid lain di Sumatera Barat.

Berkenaan dengan statusnya yang sudah memasuki usia 16 tahun tersebut, tak nampak apa yang telah dibantu pemerintah.

“Kami hanya menerima plang yang ditancapkan di halaman menyatakan masjid ini berstatus cagar budaya tapi tidak pernah ada bantuan,” ujar Hilal Najmi saat berdialog dengan rombongan ‘Jojo edisi 3’, Sabtu,24 Januari 2026. Rombongan mendatangi Masjid tua ini menjelang Zuhur untuk salat berjemaah.

Minimnya perhatian pemerintah juga diakui Imam Masjid Lima Kaum Syahirul Amin yang belasan tahun tinggal di sekitar Masjid tersebut. Syahirul Amin adalah Sumando Lima Kaum. Ia berasal dari Baso Agam.

Menurut Imam dan Pengurus Masjid ini, untuk keberlangsungan hidup dan syiarnya Agama  di Masjid tersebut masih dari   partisipasi masyarakat dan jemaah yang datang kesini.

Berbicara tentang apa yang diperlukan untuk Masjid ini, Hilal Najmi menyebutkan masalah pemeliharaan tiang yang sudah mulai kropos. Ada 128 tiang yang melambangkan jumlah Ninik mamak kala itu. Tiang tersebut masih asli belum pernah diganti hingga sekarang, katanya.

Menyinggung keberadaan tiang tersebut diceritakan oleh Najmi bahwa asalnya dari hutan yang berjarak 20 km. Masyarakat kala itu bergoro untuk membawanya kesini. Tiang terbesar adalah, tiang Tengah dengan panjang 45 meter. Bagaimana membawanya?

“Konon kala itu ada orang sakti, yang bila dia duduk di atas kayu tersebut menjadi ringan,” sebut Hilal Najmi.

“Selain pemiliharaan tiang dan bangunan lainnya, bagaimana caranya supaya honor Imam dan garin dibantu pemerintah. Begitu juga dengan rekening listrik. Karena sudah menjadi cagar budaya semestinya pemerintah membebaskan dari tagihan listrik,” sebut Imam Syahirul Amin.