Perjalanan Jurnalistik Edis 3 yang dikemas komunitas Journalist Journey (Jo-Jo) Sumbar pada hari Sabtu (24/1) menyasar Pariangan, Ustano Pagaruyuang, Tanah Datar dan Kota Wisata Bukittinggi. Perjalanan dengan Amirul Wan Eko Yanche membawa sejumlah Wartawan Senior bersama keluarga yakni Gusfen Khairul , Ismet Fanany,Nofi Sastera, Zulnadi, Atviarni dan Charles Zen. Rombongan juga dimeriahkan keikutsertaan ibu ibu seperti Riza Eko, Getri,Nike Gusfen, Hartini Zulnadi, Welly Nofi, Dessy dan Wawa, Yanti Chan. Redaksi.
EKSPEDISI Jo-Jo jilid 3 sedikit beda dengan dua perjalanan sebelumnya. Rombongan sebanyak 15 orang itu harus berangkat ba’da Subuh. Bahkan ada yang tiba sebelum subuh di titik kumpul Kantor Gubernur Sudirman 51 Padang.
Kenapa sebelum subuh, karena Jalan Raya- Padang Panjang pukul 08.00 WIB harus ditutup untuk kelancaran pekerjaan jalan akibat longsor dan banjir November 2025 lalu. Kebijakan pemerintah, siang hari jalan ditutup dari pukul 08.00 hingga pukul 17.00 WIB.
Sebagian peserta Jo-Jo jilid 3 ini, melaksanakan salat subuh berjemaah di Masjid kantor Gubernur. Selebihnya Nofi dan Welly, naik di Tabing, begitu juga dengan Ismet Fanany yang naik di Simpang Monang Lubuk Buaya. Peserta terakhir adalah Dessy dengan anaknya naik di Simpang Bandara. Kami harus lewat tol untuk tidak telat menjelang Air Mancur.
Bus dengan kapasitas 15 penumpang milik Rino, mantan koresponden salah satu stasiun TV nasional, melaju sedikit kencang, namun nyaman, di atasnya juga dilengkapi karaoke untuk uji suara sepanjang perjalanan.
Alhamdulillah saat memasuki Air Mancur tidak terlihat antren yang panjang- lancar. Sekitar pukul 7.30 WIB kami masuk kota Serambi Mekah,Padangpanjang.
Dimana maupun sarapan? .Ternyata pilihan jatuh di kedai Katupek Pitalah arah ke Batusangkar. Sayang parkirnya susah, peminat sudah banyak antri, kami putuskan tidak mampir,cari tempat lain. Kendaraan terus berjalan pelan-pelan, dan terlihat ada kedai, bus berhenti, rombonganpun turun. Rupanya katupeknya tidak cukup untuk 15 orang. Namun karena sudah ada yang turun, ada yang numpang buang air kecil saja. Pemilik kedai pun ikhlas tak jadi sarapan di kedainya lantaran ketupat tak cukup.
Mau balik ke Pasar Padang Panjang sudah tanggung, Bus terus saja jalan dengan Gusfen Khairul sebagai pemandu yang duduk di samping Sopir. Barulah di Kubu Karambie, ada kedai lontong Pitalah. Katupeknya terlihat lumayan banyak, berlebih untuk 15 porsi. Satu piring satu ketupat dengan kuah cubadak(nangka muda) campur rebung.
“Maknyuss,” sebut Charles Chan yang terlihat lahap menyantapnya. Hanya saja karena banyak rebung berdampak bagi rombongan yang ada gejala rematik atau asam urat. Itu baru terasa setelah sampai di rumah masing-masing.
Bus yang disopiri Pak Men itu kembali melaju dengan tujuan desa Pariangan. Inilah desa terindah di dunia. Cuacanya cerah. Pemandangan aduhai dengan hamparan sawah berjenjang. Sungguh.. Fabbiayyaa laairrabikuma tukazibaan….nikmat Tuhan manakah lagi yang engkau dustakan.
Pancaran sinar matahari pagi dengan awan berarak, menyisir embun pagi bersama angin sepoi-sepoi menyapa kami menambah kekaguman dengan alam nagari Pariangan yang tiada duanya itu.
Di sini rombongan berfoto ria dengan berbagai sisi. Ada yang meluapkan kegembiraan sambil beratraksi macam macam gaya. Lepaskan semua gemuruh dihati. Enjoy dan enjoy. Itulah yang terlihat di wajah anggota Jojo. “Sayang belum ada pakaian seragam versi Jojo,” sebut ibu- ibu pula. (*)






