PESISIR SELATAN

Pembersihan Pantai Tak Kunjung Terwujud, Nelayan Lansano Taratak Tagih Janji Bupati

36
×

Pembersihan Pantai Tak Kunjung Terwujud, Nelayan Lansano Taratak Tagih Janji Bupati

Sebarkan artikel ini

PESISIR SELATAN, HARIANHALUAN.ID– Hampir dua tahun pascabencana banjir bandang dan longsor yang melanda wilayah Sutera, derita masyarakat nelayan Pasir Lansano Taratak, Kecamatan Sutera, Kabupaten Pesisir Selatan, belum juga berakhir. Mereka kini menagih janji Bupati Pesisir Selatan, Hendrajoni yang hingga saat ini tak kunjung terealisasi.

Sejak banjir bandang dan longsor pada Maret 2024 lalu, laut di sekitar Pasir Lansano Taratak dipenuhi batang-batang kayu besar yang terseret arus dari hulu. Kayu-kayu tersebut kini mengendap di dasar laut dan pesisir pantai, membuat nelayan kesulitan bahkan tak berani melaut.

Upaya mandiri telah dilakukan warga. Dua unit kapal nelayan jenis bagan dikerahkan untuk menarik dan memindahkan batang-batang kayu tersebut ke daratan. Namun hasilnya jauh dari harapan.

“Sudah beberapa jam ditarik, tapi tidak ada hasil. Kapal nelayan tidak cukup kuat untuk mengangkat kayu-kayu besar itu,” kata Paris, warga setempat, kepada wartawan, Rabu (28/1/2026).

Ia mengungkapkan, sebelumnya Bupati Pesisir Selatan Hendrajoni sempat berjanji akan membantu membersihkan pantai tersebut. Bahkan, bupati disebut telah menginstruksikan Dinas Perikanan Pesisir Selatan untuk mengevakuasi kayu-kayu yang mengganggu aktivitas nelayan setempat.

Namun janji itu, menurut Paris, hingga kini belum juga terealisasi.

“Sampai sekarang belum ada tindakan nyata. Padahal masyarakat sangat berharap pantai ini segera dibersihkan, supaya nelayan bisa kembali melaut dan ekonomi masyarakat bisa berputar lagi,” ujarnya.

Menurutnya, kondisi ini membuat kehidupan nelayan Lansano Taratak kian terhimpit. Sebagian nelayan memilih tidak melaut karena khawatir jaring rusak atau perahu mereka menabrak kayu yang tersembunyi di bawah permukaan air.

“Saat ini penghasilan nelayan menurun drastis, sebentar lagi orang mau masuk bulan puasa, kebutuhan hidup terus berjalan,” ucapnya lagi.

Untuk diketahui, bencana banjir bandang dan longsor terjadi pada Maret 2024 di Kabupaten Pesisir Selatan, Sumatera Barat. Peristiwa itu menelan korban jiwa dan menimbulkan kerusakan parah.
Belasan orang dilaporkan meninggal dunia, beberapa lainnya sempat dinyatakan hilang. Sedikitnya 10 hingga 14 rumah tertimbun material longsor.

Bencana tersebut terjadi di Kampung Langgai, Nagari Gantiang Mudiak Utara Surantih, Kecamatan Sutera. Saat itu, wilayah terdampak sempat terisolasi, dan distribusi logistik dilakukan menggunakan kendaraan roda dua dan motor trail.

Pemerintah Kabupaten Pesisir Selatan menetapkan masa tanggap darurat selama 14 hari terhitung sejak 8 Maret 2024.

Kini, hampir dua tahun berselang, masyarakat nelayan Pasir Lansano Taratak masih menunggu kehadiran nyata pemerintah daerah. Bagi mereka, pembersihan kayu di laut bukan sekadar soal lingkungan, melainkan soal roda ekonomi dan penghidupan masyarakat yang hingga kini masih terganjal janji. (*)