Perjalanan Jurnalistik Edisi 3 yang dikemas komunitas Journalist Journey (Jo-Jo) Sumbar pada Sabtu (24/1) kawasan Padang Panjang, Tanah Datar dan Bukittinggi. Mulai dari Desa Terindah di dunia Pariangan, Ustano Pagaruyuang dan Kota Wisata Bukittinggi. Perjalanan dengan Amirul Wan Eko Yanche membawa sejumlah Wartawan Senior bersama keluarga yakni Gusfen Khairul , Ismet Fanany, Nofi Sastera, Zulnadi, Atviarni dan Charles Zen. Rombongan juga dimeriahkan keikutsertaan ibu ibu seperti Riza Eko, Getri, Nike Gusfen, Hartini Zulnadi, Welly Nofi, Dessy dan Wawa, Yanti Chan. Redaksi.
ADA banyak hal menarik dalam perjalanan Jo-Jo edisi 3 kali ini. Saat berkunjung ke kampung halaman Riza Eko Yanche Edrie, di Nagari Sawah Tangah, Kecamatan Pariangan, Tanah Datar, rombongan diajak untuk melihat langsung usaha kecil penduduk di sana, yakni produksi Kacang Barandang.
Kalau masyarakat pada umumnya menyebutnya selama ini dengan istilah kacang goreng. Tapi ternyata kita semua terkecoh oleh istilah itu. Sebab, pada hakikatnya, proses pembuatan kacang tersebut, adalah dengan merandangnya bersama pasir di atas tungku api kayu bakar.
Merandang kacang bercampur pasir maka jadilah kacang goreng. Sebelum proses rendang, kacang dijemur hingga kering, seperti menjemur padi.
Sebagian besar keluarga di daerah ini yang menekuni usaha kacang barandang. Karena itulah, di nagari ini ada tugu berbentuk kacang tanah yang utuh dan yang terbuka kulitnya.
Salah seorang penduduk yang menekuni usaha ini, Devi, yang ditemui saat merendang kacang, di Sawah Tangah terdapat lebih kurang 20 keluarga penghasil kacang goreng/randang. Ada yang sudah memakai label, merek tertentu.
“Dulu… banyak yang bertanam kacang, sekarang tidak lagi. Bahan baku didatangkan dari daerah tetangga, Agam dan Payakumbuh. Bahkan dari Medan,” sebut Devi sambil terus mengaduk kacang yang bercampur pasir di atas penggorengan ini.
Untuk harga, Devi menyebut menjualnya per liter. “Satu liter kacang kami jual dari tungku ini sebesar Rp18.000. Nanti, harganya tentu berbeda saat sudah sampai di tangan pengecer,” lanjutnya.
Makan Ketan Durian
Hal lain yang menjadi perjalanan ini bertambah menarik, adalah suguhan ketan durian dari tuan rumah Riza Eko Yanche Edrie.
Perjalanan kali ini memang disengaja saat musim durian tiba. Apalagi, para peserta kali ini, rata-rata adalah para pecandu durian. “Pantang nampak, kalau sudah di depan mata, ayo kita nikmati bersama,” kata mereka senada.
“Kalau saya biarlah tak pakai ketan. Sebab, bisa makan durian lebih banyak dan lebih nikmat,” kata Welly Nofi Sastera.

Bahkan Charles Zen yang pernah mendapat stroke ringan tak bisa menahan selera tatkala melihat dua karung durian menyambut mereka.
Istrinya Yanti, terlihat ketat mengawasi Chan agar tak berlebihan melahap durian tersebut. Tapi yang namanya selera sulit dihalangi. Si Can ini, pintar juga membujuk istrinya dengan memberi istrinya durian yang baru dibuka, lalu satu dua biji di santap duluan. Untung Chan ini kuat, tak terlihat gerah panas dari menyantap durian yang entah berapa biji, hanya dia yang tahu.
Membuka sambil menyantap adalah sesuatu yang mengasyikan. Adalah ibu Desy dan Welly istrinya Nofi yang bergembira ria membuka durian tersebut. Dengan tawa berderai, satu tumpukan durian nyaris habis untuk rombongan Jo-Jo yang berjumlah 15 orang itu.
Di rumah ini kami dijamu dan di rumah ini pula anak anak Desa Sawah Tangah dididik baca dan hafal Al-Qur’an yang diprakarsai Keluarga H.Sainir Dt. Sanggono Dirajo, melalui Rumah Tahfiz Ar-Rayyan. (*)






