Oleh: Yuni Candra (Dosen FEB Universitas Tamansiswa Padang)
Pertumbuhan ekonomi Sumatera Barat pada triwulan III tahun 2025 berada di kisaran 3,36 persen. Ini adalah peringatan serius bagi arah pertumbuhan ekonomi daerah. Pada triwulan I 2025, pertumbuhan ekonomi mencapai 4,66 persen. Perlambatan ini mengajak kita meninjau kembali seberapa kokoh dan kuat fondasi ekonomi yang selama ini dibangun.
Dalam pertumbuhan ekonomi yang menurun terkandung persoalan yang lebih mendasar. Pertumbuhan dapat berlangsung tanpa ketahanan struktural. Statistik memang masih menunjukkan ekspansi, tetapi laju yang melemah menandakan daya tahan ekonomi ikut menurun. Sumatera Barat hari ini memasuki fase perlambatan yang menguji kerapuhan struktur ekonominya secara nyata.
Data resmi Badan Pusat Statistik menunjukkan perlambatan dibanding triwulan I 2025 yang mencapai 4,66 persen. Penurunan dalam waktu kurang dari setahun mencerminkan kehilangan momentum. Dalam ekonomi pembangunan, perlambatan jarang bersifat kebetulan. Ia biasanya mencerminkan masalah struktural yang belum terselesaikan.
Struktur PDRB Sumatera Barat masih didominasi sektor tradisional, seperti pertanian, perdagangan kecil, dan jasa. Tiga sektor ini penyumbang terbanyak dalam menyerap tenaga kerja. Namun, produktivitas di sektor ini relatif rendah dan rentan guncangan harga. Ketika harga komoditas turun, pendapatan rumah tangga langsung tertekan.
BPS juga mencatat konsumsi rumah tangga menjadi motor utama pertumbuhan. Investasi dan ekspor belum cukup kuat menopang ekspansi jangka panjang. Ekonomi yang bertumpu pada konsumsi mudah goyah. Sedikit guncangan saja dapat menghentikan laju pertumbuhan.
Bencana sebagai Ujian Nyata
Kerentanan itu tidak lagi bersifat abstrak ketika banjir dan longsor melanda pada akhir November 2025. Infrastruktur rusak, lahan pertanian hilang, dan jaringan distribusi terputus. Usaha kecil lumpuh hanya dalam hitungan hari. Biaya pemulihan pun melonjak jauh melampaui anggaran rutin pemerintah daerah.
Dalam konteks inilah bencana menjadi ujian nyata bagi ketahanan ekonomi daerah. Dudensing dkk (2013), dalam penelitian berjudul Development and Validation of a Stochastic Disaster Impact Model, menegaskan bahwa bencana bukanlah gangguan sementara. Bencana menurunkan kapasitas produksi dalam jangka panjang serta menggerus potensi pertumbuhan. Kerugian ekonomi sering bertahan lebih lama dari pada masa tanggap darurat.
Kerentanan itu semakin besar ketika faktor lingkungan diabaikan. Ermoliev dkk. (2018), melalui studi Integrated Catastrophic Risk Management, mengaitkan bencana dengan degradasi lingkungan yang sistematis. Kerusakan hutan di kawasan hulu meningkatkan risiko banjir berulang. Bank Dunia bahkan menilai biaya pencegahan jauh lebih murah dibandingkan biaya pemulihan.
Sayangnya, kebijakan sering bergerak setelah kerusakan terjadi. Pembangunan baru disadari rapuh ketika bencana datang. Di titik inilah bencana tidak hanya menjadi peristiwa alam. Ia berubah menjadi cermin kelemahan tata kelola ekonomi daerah.
Masalah lain tersembunyi dalam distribusi pertumbuhan. Pertumbuhan terkonsentrasi di kota-kota utama. Daerah pinggiran tertinggal dalam infrastruktur dan pendidikan. Ketimpangan ini membatasi dampak kesejahteraan secara luas.






