JAKARTA, HARIANHALUAN.ID — Berdasarkan data terkini dan laporan perkembangan global terbaru di sejumlah negara terdekat Indonesia, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) mengimbau seluruh tenaga kesehatan, orang tua, dan masyarakat untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap ancaman Penyakit Virus Nipah (NiV).
Walaupun hingga saat ini belum ada laporan kasus pada manusia di Indonesia, keberadaan virus ini telah terdeteksi pada kelelawar buah (Pteropus) di wilayah Indonesia, sehingga potensi penularan tetap ada dan perlu diantisipasi secara serius.
“IDAI mengajak semua pihak, terutama orangtua, untuk proaktif baik dalam edukasi keluarga, menerapkan pola konsumsi makanan yang aman dengan menghindari bahan mentah yang berisiko, segera mencari pertolongan medis terutama jika muncul gejala demam disertai gangguan pernapasan atau neurologis, terutama dengan riwayat kontak berisiko, serta mendukung upaya surveilans dan pelaporan oleh otoritas kesehatan,” kata DR Dr Piprim Basarah Yanuarso, Sp.A, Subsp.Kardio(K) – Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia dalam Seminar Media yang diadakan oleh IDAI, Kamis (29/1).
Virus Nipah (NiV) adalah virus zoonosis yang ditularkan terutama melalui kelelawar buah (famili Pteropodidae) sebagai inang alamiah yang dapat menyebabkan penyakit berat dengan spektrum klinis mulai dari infeksi asimtomatik, gangguan pernapasan akut, hingga ensefalitis (radang otak) yang mematikan. Tingkat kematian kasus dilaporkan mencapai 40-75 persen sehingga kewaspadaan tinggi sangat diperlukan.
Penularan virus Nipah kepada manusia dapat terjadi melalui:
1. Kontak langsung dengan hewan terinfeksi (termasuk babi) atau cairannya.
2. Konsumsi makanan yang terkontaminasi, seperti nira/sari kurma mentah, buah yang sudah digigit kelelawar, atau daging hewan terinfeksi yang tidak dimasak matang.
3. Penularan dari orang ke orang melalui droplet, urine, atau darah, terutama dalam lingkup keluarga atau pada tenaga kesehatan yang merawat pasien tanpa alat pelindung diri yang memadai.
Anak-anak termasuk kelompok yang dapat terinfeksi virus Nipah, walaupun secara statistik lebih jarang dibandingkan dewasa muda. Data menunjukkan distribusi usia kasus mencakup rentang 0,5 tahun hingga diatas 75 tahun, dengan median usia 17–27 tahun. pada wabah di Kerala, India tahun 2023, tercatat kasus pada anak usia 9 tahun. Ini menunjukkan bahwa semua kelompok usia, termasuk anak-anak, tidak kebal terhadap virus ini. Sementara, Lansia dan individu dengan komorbiditas memiliki risiko kematian yang lebih tinggi.
Baik orang dewasa maupun anak-anak dapat tertular virus nipah melalui kontak langsung atau tidak langsung dengan hewan terinfeksi (terutama kelelawar), konsumsi produk makanan atau minuman yang terkontaminasi (seperti nira mentah atau buah yang tergigit kelelawar), atau melalui penularan dari orang ke orang dalam keluarga.
Disampaikan oleh Prof. DR Dr Dominicus Husada, DTM&H, MCTM(TP), Sp.A, Subsp.IPT, CTH – Anggota Unit Kerja Koordinasi Infeksi Penyakit Tropik IDAI dan Guru Besar Ilmu Kesehatan Anak Fakultas Kedokteran Universitas Airlangga Surabaya, “Walaupun anak jarang menjadi korban utama, kita tetap tidak boleh lengah. Mekanisme penularan melalui konsumsi makanan/minuman terkontaminasi atau kontak dengan hewan berisiko juga dapat mengenai anak. Keterlibatan orang tua dan pengasuh dalam menerapkan perilaku hidup bersih dan menghindari sumber penularan potensial adalah kunci perlindungan.”
Rekomendasi IDAI untuk Orang Tua dan Pengasuh anak:
1. Hindari konsumsi nira/aren mentah – masak hingga matang sebelum dikonsumsi.
2. Cuci dan kupas kulit buah secara menyeluruh – buang buah yang menunjukkan tanda gigitan atau kontaminasi.
3. Masak daging (terutama babi) hingga benar-benar matang.
4. Jauhkan anak dari hewan ternak (babi, kuda, dan lainnya) yang berpotensi terinfeksi, terutama di daerah dengan populasi kelelawar buah.
5. Terapkan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS), seperti mencuci tangan secara teratur dan etika batuk/bersin, serta gunakan masker jika ada anggota keluarga sakit.
6. Segera konsultasi ke dokter. jika anak mengalami gejala demam disertai sakit kepala, muntah, leher kaku, kejang, atau penurunan kesadaran, terutama dengan riwayat kontak dengan hewan atau konsumsi bahan makanan berisiko.
7. Bagi tenaga kesehatan dan keluarga yang merawat pasien suspek, wajib menerapkan Pencegahan dan Pengendalian Infeksi (PPI) secara ketat, termasuk penggunaan masker, menjaga jarak, dan isolasi.
Prof Dominicus mengingatkan bahwa hingga saat ini masih belum ada vaksin maupun antivirus untuk mencegah maupun mengatasi virus nipah, sehingga pencegahan perilaku dan lingkungan adalah strategi utama.
IDAI juga meminta dan mendukung pemerintah melakukan protokol kewaspadaan sebagai upaya deteksi dan respons cepat terus dilakukan melalui pintu masuk negara (bandara, pelabuhan, PLBDN) dengan skrining suhu dan gejala, pelacakan kontak, serta sistem notifikasi kasus suspek dalam waktu kurang lebih 24 jam, terutama bagi warga negara baik asing maupun Indonesia yang datang dari negara yang memiliki kasus Nipah. Pelacakan kontak erat, karantina, serta tindakan disinfeksi terhadap alat angkut dan barang harus dilaksanakan secara rigor.
IDAI berkomitmen untuk terus memantau perkembangan dan bekerjasama dengan pemerintah dan lembaga terkait, mitra global, serta semua pihak dalam upaya pencegahan dan kesiapsiagaan menghadapi ancaman penyakit infeksi emerging, termasuk Virus Nipah.
“Dengan kerjasama semua pihak, kewaspadaan dini, dan penerapan langkah pencegahan yang konsisten, kita dapat meminimalisir risiko dan melindungi kesehatan anak-anak serta masyarakat Indonesia dari ancaman Virus Nipah,” tutup dr. Piprim.
Mari bersama lindungi anak Indonesia dengan pengetahuan dan kewaspadaan yang tepat. (*)






