NASIONALPERISTIWA

Dua Speedboat Tabrakan di Perairan Rangsang, Satu Awak Kapal Hilang

11
×

Dua Speedboat Tabrakan di Perairan Rangsang, Satu Awak Kapal Hilang

Sebarkan artikel ini

Keterangan foto : Salah seorang kru yang selamat dan mendapat penanganan dari tim medis.

RIAU, HARIANHALUAN.ID – Sebuah kecelakaan laut terjadi di perairan Kepulauan Meranti. Senin (2/2/2026), sekitar pukul 19.30 WIB. Dua unit speedboat dilaporkan bertabrakan di jalur pelayaran antara Pulau Burung dan Pulau Pelembang. Insiden tersebut mengakibatkan satu awak kapal dikabarkan hilang tenggelam.

Tabrakan melibatkan Speedboat Mega Fajar 5 dan Levindo 10. Berdasarkan laporan Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti, kecelakaan laut itu terjadi saat kedua kapal melintas di wilayah perairan Kepulauan Riau, dengan titik koordinat terakhir terdeteksi berada di sekitar perairan Pulau Rangsang, Kepulauan Meranti.

Akibat benturan keras tersebut, seorang awak Speedboat Mega Fajar 5 bernama M. Ridwan (62) terjatuh ke laut dan hingga kini belum ditemukan. Sementara awak kapal lainnya berhasil diselamatkan, tim SAR gabungan langsung bergerak melakukan koordinasi dan langkah penanganan darurat serta akan melakukan upaya pencarian di lokasi kejadian.

Kepala Basarnas Pekanbaru, Budi Cahyadi, melalui Kepala Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti, Prima Harrie Saputra, menjelaskan bahwa Speedboat Mega Fajar 5 diketahui mengangkut muatan ayam sebanyak 260 box. Kapal tersebut berangkat dari Pelabuhan Bongkar Muat Kota Segara Mentigi, kawasan Bintan, Kepulauan Riau.

Di atas kapal Mega Fajar 5 terdapat lima orang kru. Mereka masing-masing adalah nahkoda Darmansyah (53), Kepala Kamar Mesin (KKM) Ilah Samri (43), serta tiga Anak Buah Kapal (ABK) yakni M. Arsyad (56), M. Ridwan (62), dan Kamarizom (38).
Tabrakan dilaporkan terjadi di perairan Kepulauan Riau, di antara Pulau Burung dan Pulau Pelembang. Namun, berdasarkan laporan terakhir, titik koordinat kejadian berada di wilayah perairan Kepulauan Meranti, tepatnya di sekitar Pulau Rangsang.

Sementara itu, Speedboat Levindo 10 diketahui bermuatan barang ekspedisi yang berlayar dari Tanjung Buton, Kabupaten Siak, dengan tujuan Tanjung Uban, Kepulauan Riau.
Benturan keras antar dua kapal tersebut menyebabkan salah satu awak Mega Fajar 5, M. Ridwan (62), terjatuh ke laut dan korban dilaporkan hilang dan dalam upaya pencarian oleh tim SAR gabungan, sementara itu beberapa awak kapal juga terlihat terluka dan bahkan nahkoda Darmansyah (53) mengalami patah tangan.

Adapun awak kapal lainnya berhasil dievakuasi, dimana para awak kapal Levindo 10 tidak ada mengalami kecelakaan. Para korban selamat dibawa menggunakan Speedboat Levindo 8 menuju Tanjung Balai Karimun dan tiba sekitar pukul 22.00 WIB. Setibanya di darat, seluruh korban langsung dilarikan ke RSUD setempat untuk mendapatkan penanganan medis.

Upaya pencarian terhadap satu awak kapal yang dilaporkan hilang terus dimaksimalkan oleh tim SAR gabungan. Kepala Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti, Prima Harrie Saputra, menyebutkan bahwa pencarian tidak hanya dilakukan melalui penyisiran laut, tetapi juga dengan memanfaatkan sistem komunikasi maritim.

Salah satu langkah yang ditempuh yakni penyampaian informasi melalui siaran Radio GMDSS (Global Maritime Distress and Safety System) Selatpanjang. Melalui siaran tersebut, seluruh kapal yang melintas di jalur perairan sekitar lokasi kejadian diimbau untuk turut membantu proses pencarian. Apabila ada awak kapal yang melihat atau menemukan korban, diminta segera melakukan pertolongan serta melaporkan kepada tim SAR gabungan.
Prima menjelaskan, dalam memperkuat upaya pencarian, pihaknya juga akan melibatkan kapal penyelamat milik Kantor SAR Pekanbaru yang berbasis di Dumai, yakni KN 218 Basarnas Pekanbaru yang dinakhodai Kapten Leni Tadika. Pelibatan kapal tersebut dilakukan mengingat saat ini RIB (Rigid Inflatable Boat) Gurindam milik Unit Siaga SAR Kepulauan Meranti masih menjalani perbaikan pasca insiden beberapa waktu lalu.

“Saat ini kami akan segera melakukan upaya penyelamatan terhadap satu kru yang dilaporkan hilang akibat kejadian tabrakan kapal di wilayah perairan Kepulauan Riau. Namun titik koordinat terakhir dilaporkan berada di perairan Rangsang. Kami tidak membatasi wilayah, yang terpenting adalah wilayah terdekat dan paling memungkinkan untuk segera dilakukan pencarian,” ujar Prima.

Ia menambahkan, tim SAR saat ini masih menunggu kedatangan KN 218 Basarnas Pekanbaru untuk memperkuat armada pencarian di laut. Hingga kini, proses pencarian terus diupayakan secara maksimal dengan harapan korban dapat segera ditemukan.

Hingga berita ini diturunkan, tim SAR gabungan masih melakukan pencarian terhadap korban yang hilang. Kecelakaan ini kembali menjadi pengingat keras akan tingginya risiko pelayaran malam hari serta pentingnya kewaspadaan dan keselamatan di jalur laut yang padat aktivitas. (*)