PADANG, HARIANHALUAN.ID — Universitas Negeri Padang (UNP) melalui Departemen Pendidikan Non Formal (PNF) Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) menggelar diskusi publik bertajuk “Pendidikan Nonformal, Jalan Alternatif Mencerdaskan Bangsa” di Auditorium UNP, Kamis (5/2).
Dalam diskusi ini menekankan peran kritis pendidikan di luar sistem sekolah dalam memenuhi kebutuhan hidup dan membangun kesadaran masyarakat, selaras dengan upaya mencapai Tujuan Pembangunan Berkelanjutan (SDG) nomor 4, yaitu memastikan pendidikan yang inklusif dan berkualitas setara bagi semua.
Rektor Universitas Negeri Padang (UNP), Krismadinata menyampaikan apresiasi kepada Fakultas Ilmu Pendidikan (FIP) dan Departemen Pendidikan Nonformal yang telah menyelenggarakan diskusi publik tersebut, terlebih dengan menghadirkan narasumber nasional Rocky Gerung.
Ia menuturkan, pendidikan nonformal sejalan dengan filosofi Minangkabau Alam Takambang Jadi Guru, yang memaknai bahwa setiap orang bisa menjadi guru dan setiap tempat dapat menjadi ruang belajar
“Pendidikan nonformal itu sejatinya sudah kita dapatkan sejak awal dari orang tua. Setiap pengalaman hidup adalah proses pendidikan,” ucapnya.
Sementara itu Kepala Departemen PNF UNP, Ismaniar mengutip pemikir pendidikan Brazil, Paolo Freire, “Pendidikan tidak bisa mengubah dunia, tetapi pendidikan bisa mengubah pola pikir, pola pikir lah yang bisa mengubah dunia.”
Berangkat dari hal itu, ia menyatakan bahwa PNF hadir untuk membawa pendidikan ke tengah masyarakat, mengingat tidak semua warga negara dapat terjangkau oleh pendidikan formal.
“Ini sejalan dengan prinsip SDG 4 tentang mengurangi kesenjangan akses pendidikan dan menjamin kesempatan belajar sepanjang hayat bagi semua orang, tanpa memandang latar belakang.
Ia menambahkan bahwa kuantitas tidak selalu identik dengan kualitas, sehingga kontribusi pendidikan nonformal tetap signifikan,” katanya.
Rocky Gerung menyampaikan Sumbar merupakan surplus cendikiawan seperti Tan Malaka, KH. Agus Salim, Sutan Sjahrir, Buya Hamka yang ada sebelum era kemerdekaan. Bagaimana para pendiri bangsa belajar secara nonformal dalam berbagai kondisi, bahkan dalam pelarian atau dalam penjara sekalipun.






