AGAM

PDI Perjuangan Nyalakan Harapan di Kayu Pasak: Marandang Bersama Menguatkan Luka Pascabencana

5
×

PDI Perjuangan Nyalakan Harapan di Kayu Pasak: Marandang Bersama Menguatkan Luka Pascabencana

Sebarkan artikel ini

AGAM, HARIANHALUAN.ID – Suara tawa pecah di sela kepulan asap kayu bakar yang menari di udara Huntara Kayu Pasak, Kecamatan Palembayan. Aroma santan dan bumbu rendang yang dimasak perlahan menyatu dengan semangat kebersamaan warga.

Di bawah tenda sederhana, ibu-ibu tampak riang mengaduk rendang di kuali besar, sementara para bapak sibuk menyiapkan kayu bakar, memotong daging dan memastikan kebutuhan memasak terpenuhi.

Kebersamaan itu hadir dalam kegiatan Marandang Bersamo yang digelar PDI Perjuangan Kabupaten Agam di Posko PDI Perjuangan Kayu Pasak, Senin (16/2). Kegiatan ini menjadi ruang hangat bagi para penyintas bencana untuk sejenak melupakan duka dan menyalakan kembali harapan.

Emi, seorang pengungsi yang kini tinggal di hunian sementara (huntara), tak mampu menyembunyikan rasa harunya.

“Senang sekali rasanya. Kami bisa berkumpul, memasak bersama dan makan bersama. Rasanya seperti kembali punya keluarga besar di sini,” ujarnya sambil tersenyum.

Baca Juga  PLN Payakumbuh, “Marandang Jo Kompor Induksi”

Ia mengaku kegiatan semacam ini memberi kekuatan baru bagi warga yang masih berjuang menata hidup setelah bencana. Kebersamaan yang tercipta, menurutnya, jauh lebih berharga daripada sekadar bantuan materi.

Hal serupa disampaikan Iyaik, warga Kayu Pasak yang ikut terlibat sejak pagi.

“Kegiatan seperti ini membuat kami merasa tidak sendiri. Ada yang datang, peduli dan mau duduk bersama kami,” katanya.

Ia menilai suasana gotong royong yang tercipta mengingatkan warga pada kehidupan kampung sebelum bencana melanda.

Ketua DPC PDI Perjuangan Kabupaten Agam, Yogi Yolanda, S.Hum, mengatakan kegiatan tersebut bertujuan menyalakan kembali semangat warga yang terdampak bencana.

“Kegiatan ini adalah upaya menyalakan api harapan bagi warga Palembayan, khususnya di Kayu Pasak yang menjadi korban bencana alam beberapa waktu lalu,” ungkapnya.

Menurut Yogi, kegiatan marandang atau memasak rendang bersama dipilih karena sarat nilai kebersamaan dan menjadi tradisi khas masyarakat Minangkabau, terutama dalam menyambut bulan suci.

Baca Juga  Menanti Kembali Sumarak Pejalan Nagari Walk

“Dalam rangka menyambut Ramadan, kami mengadakan marandang bersama para pengungsi, dilanjutkan makan siang bersama dan pengajian oleh mubaligh,” jelasnya.

Ia menambahkan, Kayu Pasak dipilih karena masyarakat di lokasi tersebut masih membutuhkan perhatian dan uluran tangan berbagai pihak.

“Kegiatan ini berlangsung di Posko PDI Perjuangan di Kayu Pasak. Saat ini, posko yang masih berdiri adalah posko PDI Perjaungan. Kami ingin memastikan warga tetap mendapatkan pendampingan,” katanya.

Yogi juga memastikan bahwa kegiatan sosial akan terus berlanjut selama Ramadan.

“Nanti di bulan Ramadan kami akan kembali mengadakan kegiatan seperti berbagi takjil dan berbuka bersama di Huntara Kayu Pasak,” ujarnya.

Menjelang siang, rendang yang dimasak bersama akhirnya matang. Warga duduk bersila menikmati hidangan sederhana namun penuh makna. Di tengah kepulan aroma rempah dan doa yang dipanjatkan dalam pengajian, harapan terasa kembali menyala. (*)