JAKARTA, HARIANHALUAN.ID- Indonesia akan mulai mengerahkan pasukan ke Jalur Gaza, Palestina, di bawah bendera Pasukan Stabilisasi Internasional (ISF) pada April mendatang.
Kepala Dinas Penerangan Angkatan Darat (Kadispenad) Brigjen Donny Pramono mengatakan militer sudah menyiapkan brigade gabungan sebanyak 8.000 personel.
Dari jumlah tersebut, sekitar 1.000 personel diharapkan siap dikerahkan sebagai tim pendahulu pada April, sisanya akan dikerahkan pada Juni. Namun, Donny menegaskan pengerahan pasukan tetap menunggu keputusan pemerintah dan mekanisme internasional.
“Berdasarkan info yang kami dapatkan, sampai saat ini belum ada keputusan politik negara mengenai tanggal keberangkatan TNI ke Gaza,” kata Donny dilansir dari CNNIndonesia.com, Senin (16/2).
Donny lalu menjelaskan sejauh ini timeline yang disusun adalah pemeriksaan kesehatan dan penyiapan administrasi hingga Februari, gelar kesiapan pasukan pada akhir Februari.
“Sekitar 1.000 personel ditargetkan dalam kondisi siap berangkat awal April 2026, dan seluruh elemen 8.000 personel ditargetkan siap berangkat paling lambat akhir Juni 2026,” ujar dia.
Istilah siap berangkat, lanjut Donny, bukan berarti sudah berangkat, melainkan benar-benar dalam kondisi siap diberangkatkan sewaktu-waktu.
“Namun, jadwal keberangkatan tetap sepenuhnya menunggu keputusan politik negara dan mekanisme internasional yang berlaku,” kata dia.
Sementara itu, Kepala Biro Informasi Pertahanan (Karo Infohan) Setjen Kementerian Pertahanan RI Brigjen Rico Ricardo Sirait tak bisa memberi kepastian. Dia meminta publik menunggu hingga pertemuan puncak Dewan Perdamaian (Board of Peace) rampung.
Konferensi tingkat tinggi (KTT) Board of Peace akan digelar di Washington, Amerika Serikat pada 19 Februari. Indonesia menjadi salah satu member organisasi ini dan Presiden Prabowo Subianto sudah mengonfirmasi hadir ke pertemuan tersebut.
“Tunggu ini (kegiatan di BoP) ya,” kata Rico kepada CNNIndonesia.com, Senin (16/2).
Pengerahan pasukan ISF dari negara-negara termasuk Indonesia menuai sorotan karena tugas mereka mencakup pengawasan hingga pelucutan senjata Hamas.
Namun pada akhir pekan lalu, Kementerian Luar Negeri Indonesia memastikan pengiriman pasukan Indonesia di bawah naungan ISF bukan dalam rangka misi tempur.
“Keikutsertaan Indonesia bukan untuk misi tempur dan bukan untuk misi demiliterisasi,” demikian rilis Kemlu, Sabtu (14/2).
Kemlu juga menyatakan pasukan RI tak akan terlibat operasi tempur ataupun konfrontasi dengan pihak bersenjata manapun.
“Personel Indonesia tidak akan terlibat dalam operasi tempur atau tindakan apa pun yang mengarah pada konfrontasi langsung dengan pihak bersenjata manapun,” lanjut mereka.
ndonesia disebut-sebut akan menjadi negara pertama yang mengerahkan pasukan ke Gaza sebagai bagian dari ISF.
Menurut laporan sejumlah media pasukan Indonesia bisa dikerahkan ke Gaza dalam beberapa pekan mendatang setelah BoP rampung.
ISF berada di bawah inisiasi BoP. Trump membentuk inisiasi tersebut usai Dewan Keamanan PBB mengesahkan resolusi 2803 pada November 2025. (*)





