UTAMA

Kakankemenag Padang di Masjid Besar Baitussalam, Puasa Jalan Menuju Insanul Kamil

6
×

Kakankemenag Padang di Masjid Besar Baitussalam, Puasa Jalan Menuju Insanul Kamil

Sebarkan artikel ini

HARIAN HALUAN. ID – Suasana khidmat dan penuh sesak menyelimuti Masjid Besar Baitussalam saat jamaah berkumpul untuk mendengarkan ceramah agama dari Kepala Kantor Kementerian Agama (Kakankemenag) Kota Padang, H. Edy Oktafiandi, SAg, MPd. Dalam paparannya yang bernas dan syahdu, dia mengupas tuntas hakikat puasa sebagai sarana transformasi manusia menuju derajat Insanul Kamil (manusia yang sempurna kualitas kebaikannya).

​Acara yang dipandu Erlim Munir, SH ini dihadiri pemuka masyarakay,di antaranya Penasihat Pengurus Masjid Prof. Dr. Ismansyah, Ketua Pengurus Masjid Prof. Ir. Yonariza, M.lSc, Ph.D, serta Penyuluh Agama Islam Dr. H. Zainal A. Haris, SAg, M.lSi, beserta jajaran pengurus lainnya.

Edy Oktafiandi mengawali ceramahnya dengan menekankan bahwa predikat “Taqwa” bukan sekadar harapan kosong. Jika seorang hamba benar-benar melaksanakan puasa sesuai aturan dan syariat, maka Allah menjamin perubahan status spiritual tersebut.

​”Puasa adalah ikhtiar manusia agar bertaqwa. Namun bagi Allah, jika aturan-Nya dilaksanakan dengan benar, maka hamba tersebut pasti bertaqwa. Inilah hakekat puasa: membentuk kita menjadi hamba yang Ihsanul Kamil,” katanya.

Baca Juga  Job Fair Sumbar, 50 Perusahaan Sediakan 1.500 Lowongan

​Penceramah juga membedah tiga poin utama yang menjadi tolok ukur keberhasilan puasa seseorang dalam kehidupan sehari-hari:

​1. Kecerdasan Spiritual (Kesadaran Merasa Diawasi)

Puasa melatih manusia mencapai puncak iman, yakni merasa selalu berada dalam pengawasan Allah (Muraqabah).

​”Jika takut kepada pasangan atau atasan itu hal yang wajar. Namun saat berpuasa, meski tak ada manusia yang melihat, kita tetap patuh karena sadar bahwa Allah Robbul Jalil terus memperhatikan kita,” tutur Kakankemenag.

​2. Kecerdasan Sosial: Melawan Sifat ‘Sampilik Kariang’

Ibadah puasa seharusnya melahirkan jiwa kedermawanan. Beliau dengan gaya bahasa yang menarik mengingatkan jamaah agar tidak menjadi orang yang kikir atau dalam istilah Minang disebut Sampilik Kariang. Orang yang bermental ” sampilik kariang kajai balapik ” ini jangankan untuk berbagi, berempati, membantu orang lain , malah untuk dirinya ditahan keinginan yang sesungguhnya dia sangat membutuhkan 

Baca Juga  Mulai 21 Maret, BIM Lakukan Perubahan Flow Drop Off Zone dan Pick Up Zone Kendaraan Roda 4

Edy sedikit menyindir sifat kikir ini dengan perumpamaan: “Nyo takaja Honda bairiak, nyo kehujanan payung dikapik, nyo taragak makan ayam tunggu ayam sakik.” (Dia mengejar motor dengan berjalan kaki, payung hanya dijepit saat hujan, dan baru mau makan ayam kalau ayamnya sudah sakit).

​3. Kecerdasan Muamalah: Integritas dalam Meninggalkan yang Haram

Puasa adalah latihan mental yang luar biasa. Jika hal-hal yang asalnya halal (seperti makan dan minum) saja berani kita haramkan di siang hari demi perintah Allah, maka seharusnya manusia lebih berani lagi menolak hal-hal yang memang sudah haram.

​”Orang yang cerdas muamalahnya akan berani menolak judi online, riba, perkara syubhat, apalagi yang sudah jelas haram,” tambahnya. (rel/aye)