Bulan ternyata masih mengalami penyusutan dan aktivitas tektonik meskipun telah berusia miliaran tahun. Temuan terbaru para peneliti menunjukkan bahwa permukaannya terus bergerak dan membentuk retakan baru yang berpotensi memicu moonquake atau gempa Bulan.
Studi yang dipublikasikan di The Planetary Science Journal ini menyajikan peta global pertama fitur geologis kecil di dataran gelap Bulan yang dikenal sebagai small mare ridges (SMR). Struktur tersebut menjadi bukti terbaru bahwa Bulan masih mengalami perubahan struktural akibat proses penyusutan dan kontraksi permukaan.
Berbeda dengan Bumi, Bulan tidak memiliki lempeng tektonik yang saling bergerak. Permukaannya terdiri dari satu kerak tunggal yang terus mendingin dan menyusut seiring waktu. Proses ini menghasilkan tekanan dari dalam yang membentuk struktur geologi khas, seperti lobate scarps (tebing melengkung) serta SMR.
“Sejak era Apollo program, kita mengetahui banyak lobate scarp di dataran tinggi Bulan. Namun ini pertama kalinya para ilmuwan mendokumentasikan secara luas fitur serupa di dataran maria Bulan,” ujar Cole Nypaver, geolog pascadoktoral di Center for Earth and Planetary Studies sekaligus penulis utama makalah tersebut, dikutip dari Science Daily, Minggu (22/2/2026).
Ia menambahkan, penelitian ini memberikan perspektif global mengenai aktivitas tektonik terbaru Bulan, sekaligus membantu pemahaman tentang interior, sejarah termal, dan aktivitas seismiknya, termasuk potensi gempa Bulan di masa mendatang.
Tim peneliti menemukan lebih dari 1.100 segmen SMR yang sebelumnya belum teridentifikasi, sehingga totalnya kini mencapai lebih dari 2.600 struktur yang tersebar di sisi Bulan yang terlihat dari Bumi. Analisis menunjukkan usia rata-rata fitur tersebut sekitar 124 juta tahun, hampir sebanding dengan usia lobate scarp yang diperkirakan sekitar 105 juta tahun. Temuan ini menguatkan bahwa SMR termasuk struktur geologi termuda di Bulan.
Selain memperkaya pemahaman tentang evolusi tektonik Bulan, penemuan ini juga penting bagi eksplorasi luar angkasa di masa depan. Gaya kompresi kerak yang membentuk SMR juga berkaitan dengan gempa Bulan, sehingga pemetaan wilayah tersebut dapat membantu ilmuwan dan perencana misi menentukan lokasi yang lebih aman bagi pendaratan dan aktivitas astronot.
“Kita berada di masa yang sangat menarik bagi ilmu pengetahuan dan eksplorasi Bulan. Program eksplorasi mendatang seperti Artemis program akan memberikan banyak informasi baru tentang Bulan,” kata Nypaver. (*)





