OPINI

Ramadan Berdampak; Sebuah Cacatan Pinggir

0
×

Ramadan Berdampak; Sebuah Cacatan Pinggir

Sebarkan artikel ini

Oleh: Prof. Dr. Muhaemin (Dekan Fakultas Ushuluddin dan Filsafat UIN Alauddin Makassar)

Terminologi Ramadan Berdampak yang menjadi sebuah catatan pinggir, saya replikasi dari tagline Kementerian Agama yang populer dengan istilah Kemenag Berdampak. Kemenag berdampak dimaksudkan bahwa kementerian ini tidak hanya bergelut pada tataran konsep saja, tetapi mampu melakukan tranformasi nyata di tengah-tengah masyarakat.

Kemenag Berdampak ibaratnya sebagai patron untuk seluruh program yang dirancang oleh Kemenag sehingga mampu dirasakan secara positif dan langsung oleh masyarakat. Istilah berdampak juga menjadi tagline Kemdiktisaintek yang dikenal dengan istilah Kampus Berdampak. Filosofinya sama dengan Kemenag, bagaimana kampus tidak hanya sibuk pengembangan akademik tetapi juga berkontribusi nyata kepada pemberdayaan masyarakat.

Ramadan Berdampak dalam konteks ini bukan sebatas Ramadan formal, bukan pula bulan sekadar lewat, sebatas ritual, tetapi sejatinya Ramadan memberi dampak positif secara langsung kepada orang-orang sekitar dan tentu saja kepada orang-orang yang menjalani Ramadan.

Sebagai bulan ibadah, Ramadan mengajarkan kepada umat Islam bahwa ibadah-ibadah yang dilakukan pada bulan suci ini sejatinya memberi dampak perubahan positif kepada orang-orang yang menjalani ibadah Ramadan. Dengan beribadah puasa Ramadan, merasakan lapar dan haus, umat Islam sejatinya menjadi pribadi-pribadi yang suka berbagi kepada orang-orang tidak mampu ketimbang menjadi manusia-manusia “peminta”.

Baca Juga  Praktik Baik Kepedulian Sosial di Sekolah

Tentu agak miris di mana setiap kali Ramadan hadir, sebagian umat Islam seringkali menjadikan Ramadan sebagai “kesempatan emas” untuk menjadi pengemis, meminta-minta, sementara memiliki kemampuan fisik untuk bekerja di bidang lain. Padahal agama mengajarkan kepada kita bahwa “tangan di atas lebih baik dari tangan di bawah”, memberi lebih bagus ketimbang diberi. Ramadan mengajarkan kepada kita bahwa umat Islam harus menjadi aktor-aktor perubahan sosial di tengah masyarakat, bukan menjadi objek dari perubahan.

Di kampus tempat penulis mengabdi, selama bulan suci Ramadan, fungsi masjid mengalami pengembangan fungsi sosial dengan mendirikan Dapur Ramadan. Pihak panitia masjid mengajak akademisi-akademisi kampus, tenaga pendidik, serta dermawan lainnya untuk berbagi dengan menyumbangkan sebagian rejekinya. Mereka ditekankan bahwa sifat berbagi dan memberi kepada sesama itu harus menjadi karakter kuat umat Islam, dan kampus harus menjadi motor penggeraknya.

Setiap harinya, Dapur Ramadan ini menyiapkan kurang lebih 500-600 pak untuk seluruh jemaah (didominasi mahasiswa) yang ingin berbuka puasa.

Menariknya, Dapur Ramadan ini betul-betul berfungsi layaknya dapur secara umum. Semua proses pembuatan dan pengolahan bahan-bahan makanan diselesaikan di Dapur Ramadan dengan melibatkan relawan-relawan yang direkrut dari kalangan mahasiswa. Dalam konteks ekonomi, Ramadan juga berdampak secara luas kepada para pelaku-pelaku usaha terutama terutama bahan-bahan Dapur Ramadan yang dibeli dari Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di sekitar kampus.

Baca Juga  Membangun Kesadaran Remaja Anti Tawuran

Ramadan berdampak tidak hanya menciptakan generasi-generasi yang senang berbagi, suka memberi kepada sesama, tetapi juga berdampak kepada meningkatnya kecintaan kepada masjid terutama ajakan untuk salat Tarawih bersama keluarga.

Tidak dapat dipungkiri sekarang ini, bahwa generasi-generasi Z tidak lagi begitu peduli dengan kelompok-kelompok dan kajian-kajian keagamaan. Mereka lebih senang bergabung dengan kelompok-kelompok olah raga dan seni. Bahkan panggung-panggung diskusi kampus tidak lagi diwarnai dengan diskusi-diskusi keagamaan.  Mereka lebih cenderung menghabiskan waktu bersama teman-temannya di warkop-warkop dan kafe-kafe.

Selain itu, Ramadan juga berdampak kepada peningkatan produktivitas dan kreativitas seseorang. Selama Ramadan ini, begitu banyak bermunculan penulis-penulis baru yang setiap hari membagikan pikiran-pikirannya terkait Ramadan dengan segala ceritanya. Tulisan-tulisan tersebut dibagi di berbagai platform media sosial, baik itu pesan-pesan singkat Ramadan maupun narasi-narasi reflektif. Sebuah fenomena yang menurut penulis hanya terjadi pada bulan suci Ramadan saja. 

Tentu saja hal tersebut adalah dampak positif yang dilahirkan oleh bulan suci Ramadan. Maka tidak heran kalau bulan suci Ramadan boleh disebut sebagai bulan surplus berkah yang berdampak. (*)