SUMBAR

Satu Rudal di Timur Tengah Bisa Mempengaruhi Harga Cabai di Pasar Tradisional

8
×

Satu Rudal di Timur Tengah Bisa Mempengaruhi Harga Cabai di Pasar Tradisional

Sebarkan artikel ini

PADANG, HARIANHALUAN.ID- – Sejumlah pakar ekonomi mengatakan kondisi perang antara Iran vs Amerika Serikat dan Israel akan turut berdampak pada Indonesia.

Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution, Ronny P Sasmita menyebut setidaknya tiga kanal utama akan terdampak secara tidak langsung.

“Kalau kita bicara eskalasi konflik antara Iran, Israel, dan keterlibatan Amerika Serikat, maka dampaknya ke Indonesia secara tidak langsung lewat tiga kanal utama, yakni energi, keuangan global, dan perdagangan,” ujarnya, Minggu (1/3).

Ia menambahkan Indonesia memang bukan pihak dalam konflik, tetapi RI menjadi bagian dari sistem ekonomi global yang saling terhubung.

Pertama, jalur energi. Dimana setiap ketegangan di Timur Tengah hampir pasti mendorong harga minyak dunia naik karena pasar mengantisipasi gangguan suplai.

“Jika harga minyak melonjak signifikan, APBN kita tertekan karena subsidi energi berpotensi membengkak. Di sisi lain, inflasi bisa terdorong naik, terutama dari komponen transportasi dan pangan (karena biaya distribusi ikut naik). Ini yang paling cepat dirasakan masyarakat,” jelasnya.

Kedua, jalur pasar keuangan. Dalam situasi perang, investor global cenderung mencari aset aman (safe haven) seperti dolar AS dan emas.

Baca Juga  INFO HARGA: Cabai Mulai Turun Jadi Rp80 Ribu/kilogram, Ayam Potong Rp70 Ribu/ekor

“Dampaknya, nilai tukar rupiah bisa tertekan dan arus modal asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Jika rupiah melemah tajam, biaya impor naik dan dunia usaha yang punya utang valas ikut tertekan,” tuturnya.

Bank Indonesia biasanya akan merespons dengan stabilisasi kurs dan kebijakan moneter yang lebih hati-hati.

Ketiga, perdagangan dan sentimen global.

“Jika konflik meluas dan mengganggu jalur pelayaran atau memicu perlambatan ekonomi global, permintaan ekspor Indonesia bisa terdampak. Memang, ekspor kita ke Iran atau Israel relatif kecil, tetapi efek rambatannya melalui perlambatan mitra dagang utama (Tiongkok, Eropa, AS) bisa lebih signifikan,” ucap Ronny.

Sedangkan ke Sumatera Barat, menurut Ronny dampaknya lebih bersifat tidak langsung.

Jika inflasi nasional naik karena energi dan pangan, maka harga kebutuhan pokok di Sumbar juga berpotensi ikut naik.

Sektor UMKM, perdagangan, dan transportasi akan merasakan tekanan biaya.

Namun, jika harga komoditas tertentu (misalnya CPO atau batu bara) terdorong naik karena ketidakpastian global, daerah penghasil komoditas di Indonesia bisa mendapat windfall jangka pendek, meski itu tetap harus dikelola hati-hati karena sifatnya sangat fluktuatif.

“Intinya, selama konflik tidak meluas menjadi perang regional besar yang mengganggu suplai energi global secara ekstrem, dampaknya ke Indonesia, termasuk Sumbar, masih dalam kategori tekanan ekonomi normal, bukan krisis. Tapi tetap harus waspada, karena dunia hari ini sangat sensitif. Satu rudal di Timur Tengah bisa terasa sampai ke harga cabai di pasar tradisional kita. Karena itu, stabilitas fiskal, ketahanan pangan daerah, dan koordinasi pusat-daerah menjadi kunci mitigasi ke depan,” kata Ronny.

Baca Juga  15.181 KPM Warga Dharmasraya Terima BLT BBM

Senada dengan itu, Pakar Ekonomi yang juga akademisi di UIN Imam Bonjol Padang, Huriyatul Akmal mengatakan efek perang ini terhadap Indonesia.

“Ya pasti ada efeknya, terutama terkait komoditi global khususnya minyak dan gas,” kata Akmal di hari yang sama.

Lebih lanjut ia menjelaskan ketika Selat Hormuz ditutup oleh Iran, pasti pasokan minyak dunia akan terpengaruh, harga pasti naik. Komoditi lain juga akan ke trigger.

“Sedangkan kalau dampak langsung ke perekonomian Sumbar mungkin akan terasa jika konflik berkepanjangan,” tuturnya.

Menurutnya mungkin komoditi strategis sumbar tidak terlalu terdampak, tapi efek domino nya pasti akan terasa ke perekonomian nasional dan lokal. (*)