KESEHATAN

Kunci Anak Sehat Saat Belajar Puasa

0
×

Kunci Anak Sehat Saat Belajar Puasa

Sebarkan artikel ini

JAKARTA, HARIANHALUAN.ID — Mengajarkan anak berpuasa sejak dini tidak hanya soal kesiapan mental, tetapi juga membutuhkan perhatian serius terhadap asupan nutrisi dan cairan. Kecukupan gizi dan hidrasi menjadi faktor penting agar anak tetap sehat serta terhindar dari gangguan pertumbuhan selama menjalankan ibadah di bulan Ramadan.

Dokter Spesialis Anak lulusan Universitas Indonesia, Afiffa Mardhotillah, menegaskan bahwa sebelum anak mulai belajar puasa, orang tua harus memastikan kematangan usia dan kondisi fisiknya. Anak sebaiknya dalam keadaan bugar serta memiliki motivasi untuk belajar menahan lapar dan haus.

Menurut Afiffa yang berpraktik di RS Pondok Indah-Bintaro Jaya, salah satu risiko terbesar bagi anak yang baru belajar berpuasa adalah dehidrasi atau kekurangan cairan tubuh. Anak usia sekolah rata-rata membutuhkan asupan cairan sekitar 1 hingga 2 liter per hari, tergantung berat badan dan tingkat aktivitasnya.

Untuk memenuhi kebutuhan tersebut, orang tua dapat membagi konsumsi cairan ke dalam empat waktu utama. Sebanyak 25 persen cairan dikonsumsi saat berbuka untuk mengganti yang hilang seharian. Kemudian 25 persen saat makan malam guna menjaga hidrasi setelah makan besar. Selanjutnya 25 persen sebelum tidur sebagai cadangan selama istirahat malam, dan 25 persen lagi saat sahur sebagai bekal beraktivitas keesokan harinya.

Baca Juga  Waspada Virus Nipah: IDAI Paparkan Risiko dan Upaya Pencegahan Bagi Anak dan Keluarga

Jika anak merasa bosan meminum air putih, infused water dengan tambahan potongan buah segar dapat menjadi alternatif sehat sekaligus menarik.

Selain cairan, keseimbangan makronutrisi juga berperan penting dalam menjaga energi anak tetap stabil selama berpuasa. Afiffa menyarankan orang tua untuk memilih karbohidrat kompleks dengan indeks glikemik rendah, seperti nasi merah, kentang, atau oats. Jenis makanan ini dicerna lebih lambat sehingga membantu anak merasa kenyang lebih lama.

Kebutuhan protein juga harus diperhatikan, yakni sekitar 10 hingga 15 persen dari total kalori harian anak. Protein berfungsi menjaga daya tahan tubuh sekaligus mendukung proses pertumbuhan sel selama masa puasa.

Baca Juga  Cara Mengobati Kuku Kaki Cantengan dengan Tepat

Di sisi lain, orang tua dianjurkan membatasi makanan dan minuman tinggi gula, terutama saat sahur dan berbuka. Konsumsi gula berlebih dapat memicu lonjakan gula darah secara cepat (sugar spike) yang justru membuat tubuh terasa lemas setelahnya.

Agar pengalaman belajar puasa tetap menyenangkan, Afiffa juga menyarankan pendekatan fleksibel dalam penyajian menu. Orang tua dapat menyajikan makanan yang disukai anak, tanpa mengabaikan prinsip gizi seimbang. Ia juga mengingatkan pentingnya asupan serat dari sayur dan buah untuk mencegah sembelit, yang kerap terjadi akibat perubahan pola makan selama Ramadan. Dengan perencanaan nutrisi yang tepat, anak dapat belajar berpuasa secara sehat dan bertahap. (*)