OPINI

Ramadanku Ramadanmu

2
×

Ramadanku Ramadanmu

Sebarkan artikel ini
Abu Rokhmad (Dirjen Bimas Islam Kemenag)

Oleh: Abu Rokhmad (Dirjen Bimas Islam Kemenag)

Rindu bertemu dengan bulan Ramadan akhirnya terobati. Ramadan menghampiri kembali umat Islam dan kini memasuki fase sepuluh hari kedua. Ramadan bukan hanya menggembirakan umat Islam tetapi juga memberkahi umat yang lain. Selayaknya kerinduan ini dibayar tuntas, yaitu dengan sukacita melaksanakan puasa sebulan penuh disertai berbagai amal ibadah lain yang diajurkan. Siapa tahu ini adalah Ramadan terakhir yang menyapa kita.

Kesempatan melipatgandakan amal saleh di depan mata. Momentum melakukan tranformasi mental dan akhlak. Rasulullah SAW menyebut Ramadan sebagai bulan yang agung (syahrun ‘adhim) dan penuh berkah (syahrun mubarak). Keagungan dan keberkahannya dijelaskan oleh Allah SWT dan Rasul-Nya relatif rinci. Namun, tangkapan umat Islam atas dua hal tersebut sangat tergantung kesiapan mental-spiritual masing-masing orang.

Jika umat Islam siap, ia akan memperoleh tiga hal sekaligus, yakni ketakwaan, terhapusnya dosa-dosa masa lalu, dan memperoleh berkah malam istimewa (lailatul qadar). Suatu malam yang tersedia hanya di bulan Ramadan saja.

Al-Qur’an dan Hadis mendeskripsikannya sebagai malam yang nilainya lebih baik (khair) dari pada seribu bulan. Keberuntungan besar bagi yang memperolehnya. Khair adalah kualitas mulia dan luar biasa yang belum terdefinisikan, tergantung sang Pemberi dan kesiapan sang penerima. Segala kebaikan dan kemuliaan ada didalamnya, siapapun yang memperolehnya.

Baca Juga  Polemik (Buku) Sejarah Nasional

Ibadah Personal

Bagi setiap orang, Ramadan bisa jadi memiliki makna dan kesan berbeda, meski sumber ajarannya sama. Kesan yang berbeda itu wajar karena pengalaman beragama (religious experience) setiap orang tidak sama. Berpuasa sangat personal, dipengaruhi ketakwaan, iman, dan ilmu.

Saat kanak-kanak, jauh sebelum Ramadan tiba, kegembiraan begitu terasa. Kita bahkan sanggup bersepeda puluhan kilometer untuk memastikan kapan puasa tiba. Saat itu, pusat informasi hanya ada di masjid kota. Imaji tentang keseruan sahur dan berbuka puasa sungguh luar biasa. Kita klakon menangis seharian jika tidak dibangunkan makan sahur. Kesal saja, mau tetap puasa terasa berat. Mau tidak berpuasa tidak mendapat kegembiraan saat berbuka.

Bayangan kemeriahan salat Tarawih, Idulfitri, makanan atau jajan enak di mana-mana, dan baju baru yang menggoda. Berhasil berpuasa sebulan penuh tanpa bolong, merupakan sensasi lain yang luar biasa. Tak peduli tubuh kecilnya tambah kurus setelah berpuasa. Orang tua dan anaknya bangga jika berhasil menaklukan Ramadan tanpa batal. Kini, mungkin, rasa Ramadan kita sudah berbeda. Mungkin tetap sama seperti dulu. Mungkin hampa dan tanpa kesan.

Baca Juga  Pemulihan Psikologis Pascabencana

Gambaran Ramadan bukan hanya satu, tetapi beragam. Hanya sedikit orang yang mampu menangkap Ramadan persis seperti dalam kitab suci. Ramadanku mungkin berbeda dengan Ramadanmu. Apapun keadaannya, kita jangan pernah lelah memaknai Ramadan. Mengais makna setiap Ramadan datang. Entah berhasil atau tidak.

Pencarian itu akhirnya berujung pada pertanyaan, apakah puasa kita sekedar menahan lapar, dahaga, dan hubungan suami istri di siang hari? Atau pembeda puasa dengan bulan yang lain hanya pada Tarawih pada malam hari saja? Makna-makna lain dari Ramadan perlu terus digali, entah berdasar pengalaman pribadi maupun belajar dari pengalaman orang lain. Bisa jadi, kita berpuasa karena bulannya dan orang lain juga sama.

Melanjutkan Pencarian

Imam al-Ghazali mengingatkan bahwa puasa merupakan bagian dari iman (al-shaum rub’ul iman). Bisa jadi, yang tidak atau kurang beriman, akan terasa berat saat menjalankan puasa: harus meninggalkan makan, minum, dan hubungan suami istri. Tiga kebiasaan yang nyaris dipraktikkan selama sebelas bulan sebelumnya tanpa berhenti, tiba-tiba harus ditahan. Tanpa keimanan yang kuat, Ramadan pasti akan berlalu seperti bulan-bulan yang lain.