OPINI

Ramadan Bulan Membaca

3
×

Ramadan Bulan Membaca

Sebarkan artikel ini
Dr. Drs. M. Sayuti Dt. Rajo Pangulu, M.Pd.

Oleh : Dr.  Drs. M. Sayuti Dt. Rajo Pangulu, M.Pd (Ketua Pujian ABS-SBK HAM/ Dosen UBH/ Tenaga Ahli DPRD Sumbar)

Pusat Kajian Adat Basandi Syara’ Syara’ Basandi Kitabullah Hukum Adat Minangkabau atau PUJIAN ABS-SBK HAM kembali mengaji tentang beberapa kebaikan di bulan Ramadan. Bulan Ramadan adalah bulan yang penuh kebaikan: 10 malam pertama sebagai fase rahmat, 10 malam kedua sebagai fase ampunan, 10 malam ketiga sebagai fase bebas dari api neraka. Jika ingin mendapat hadiah dari Allah SWT maka jangan lewatkan fase fase tersebut.

Fase fase itu sangat berharga bagi orang beriman dan bertaqwa yaitu fase nuzul Quran, fase iktikaf, dan fase mendapat malam lailatul qadar (nanti akan ditulis selanjutnya beberapa kebaikan itu). Kegiatan lainnya adalah membaca Quran, Sehingga bulan Ramadan dapat disebut bulan membaca.  Membaca menurut ajaran syara’ mangato dimulai dari ayat pertama Quran dengan kata ‘iqra’. Kata  ini sangat sakti lagi sakral.  Menurut riwayat Quran Iqra’ diturunkan Allah ke bumi juga di bulan Ramadan tepatnya pada malam ketujuh belas.

Walaupun ada ahli yang berbeda pendapat tentang  malam ke berapakah, namun umat Islam banyak yang meyakini turun Quran itu malam bulan Ramadan pada malam ke tujuh belas. Secara teoretis makna iqra’ pertama dalam surah tersebut adalah how to read, yaitu bagaimana cara kita membaca Quran dengan baik dan benar, serta dapat mengkhatamkannya, meskipun tidak tahu artinya, tapi dapat pahala, insya Allah, Iqra’ yang kedua adalah how to learn, yang berarti tentang bagaimana mendalami Quran dengan mengetahui artinya, tafsirnya, bahkan takwilnya.

Selanjutnya, iqra’ yang ketiga adalah how to understand, yaitu bagaimana kita menghayati kitab Allah tersebut. Konsep menghatamkan Quran itu bukan hanya mengkhatamkan 30 juz atau bukan hanya menghafalkan 30 juz saja, tapi bagaimana agar seluruh umat Islam bisa membaca  Quran dengan penuh pemahaman dan sekaligus pengamalannya. Membaca menurut syara’ mangato dikatakan: “Iqra’ pertama sekedar membaca, iqra’ kedua mendalaminya, iqra’ ketiga menghayati dan mengamalkan, dan iqra’ keempat adalah  membaca dengan tafsir lalu diamalkan dengan baik.

Baca Juga  Menyelaraskan Pendidikan Vokasi dengan Industri

Menurut adat memakai, disebutkan, membaca Quran itu hendaklah: partamo mambaco nan tasurek; kaduo mambaco nan tasirek; katigo mambaco nan tasuruak; dan kaampek mambaco nan taserak (bhs Minang) atau ‘pertama membaca yang tersurat; kedua membaca yang tersirat; ketiga membaca yang tersuruk;  dan keempat membaca yang terserak’. Arti membaca menurut adat memakai ini akan kita uraikan pada kesempatan lain. Dengan judul:’Cara Orang Minang mambaca tanda-tanda’ 

Dalam sepuluh hari kedua bulan Ramadan  akan dijumpai malam istimewa yakni malam turunnya Quran pada 17 Ramadan. Ramadan kali ini, Nuzulul Quran  jatuh pada petang Jumat malam Sabtu tanggal 6 Maret 2026. Bahkan Nabi Muhammad SAW selalu menganjurkan umat Islam membaca Quraan sepanjang masa. Dalam bulan Ramadan ada satu malam  istimewa membaca Quran. Umat Islam dianjurkan untuk mengisi malam Nuzulul Quran dengan beribadah sebanyak-banyaknya.

Quran adalah firman Allah SWT yang diwahyukan kepada Nabi Muhammad SAW yang merupakan mukjizat dan membacanya termasuk ibadah. Hadist Muhammad Saw mengatakan: Barangsiapa yang membaca satu huruf  dari Quran maka baginya satu kebaikan dan kebaikan itu dilipat sepuluh kali, aku tidak mengatakan Alif Lam Mim satu huruf tetapi Alif satu huruf Lam satu huruf Mim satu huruf. Kalau membacanya di bulan Ramadan dilipatkan menjadi seratus kebaikan, (Hadits Riwayat Tarmizi r.a.). Menurut riwayat Quran yang diterbitkan oleh Departemen Agama Republik Indonesia  tahun 1985 yang Menteri agamanya waktu itu Munawir Syadzali, bahwa kandungan Quran itu terdiri dari tiga puluh juz (30 Juz), seratus empat belas surat (114 surat), enam ribu dua ratus tiga puluh enam ayat (6236 ayat), tujuh puluh empat ribu empat ratus tiga puluh tujuh kalimat  (74437 kalimat), dan tiga ratus dua puluh lima ribu tiga ratus empat puluh lima huruf (325345 huruf).

Baca Juga  Merantau: Jalan Panjang Anak Minang Menjemput Ilmu

Coba kita berhitung  kalau satu orang umat Islam membaca Quran sampai tamat tentu dapat kebaikan 325345 huruf x 100 maka nilai ibadahnya 32.534.500 kebaikan, masya Allah luar biasa. Insya Allah sudah dapat memesan dan membayar kamar istana dalam surga Allah, amiin. Mari kita jadikan bulan Ramdan bulan membaca. Quran diturunkan di dua tempat , yaitu di Mekah yang disebut surat Makiyah banyaknya sembilan puluh satu surat (91 surat), dan di Madinah  yang disebut Madaniah banyaknya dua puluh tiga surat (23 surat). Lama nuzul Quran dua puluh dua tahun dua bulan dua puluh dua hari.  Artinya di bulan Ramadan ini umat Islam dianjurkan membaca.  ‘Iqra’’ yang berarti, “bacalah”.

Allah menyebutkan kata Iqra’ secara berulang kali dalam surah Al-Iqra’ tersebut. “Satu kata saja dalam Quran itu pasti mempunyai makna yang sangat besar. Membaca Quran di bulan Ramadan pahalanya sangat besar. Satu huruf pahalanya saratus kebaikan. Membaca Alif Lam Mim dinyatakan tiga huruf. Berarti umat Islam yang membacanya mendapat pahala kebaikan tiga ratus. Masya Allah luar biasa.

Waktu saya mengaji di surau Engku Kuaso Imam Jamal dengan guru Engku Taluak Kadirun tahun 1974 pernah bercerita pada kami muridnya. Ceritanya begini, urang Minang itu kalau indak pandai mangaji jo sumbahyang indak usah disaru tabuah, inyo bisa diibaraikkan antimun bungkuak, masuak karuang lai, masuak etongan indak (bahasa Minang) atau ‘orang Minang kalau tidak pandai mengaji dan sembahyang tidak boleh diseru tabuh (beduk), dia bisa diibaratkan antimun bungkuk, masuk karung boleh, masuk hitungan tidak (bhs Indonesia).