MENTAWAI

Lisda Hendrajoni Temukan Kisah Pilu di Mentawai: Ibu dan Anak Sakit Bertahun-tahun Terdampak Penonaktifan PBI BPJS

0
×

Lisda Hendrajoni Temukan Kisah Pilu di Mentawai: Ibu dan Anak Sakit Bertahun-tahun Terdampak Penonaktifan PBI BPJS

Sebarkan artikel ini

TUAPEJAT, HARIANHALUAN.ID — Anggota Komisi VIII DPR RI dari Fraksi Partai NasDem, Lisda Hendrajoni, menemukan kisah pilu saat mengunjungi rumah warga di Tuapejat, Kabupaten Kepulauan Mentawai, Sumatera Barat. Dalam kunjungan tersebut, Lisda melihat langsung kondisi sebuah keluarga yang selama bertahun-tahun harus berjuang menghadapi penyakit yang diderita seorang ibu dan anaknya.

Kunjungan itu dilakukan Lisda untuk meninjau dampak kebijakan penonaktifan jutaan Penerima Bantuan Iuran (PBI) BPJS Kesehatan yang belakangan menjadi perhatian di berbagai daerah.
Di salah satu rumah sederhana yang ia datangi, Lisda mendapati seorang ibu yang telah lama menderita sakit. Kondisi kesehatannya bahkan sudah memburuk sejak masa kehamilan, yang kemudian berdampak pada anak yang dilahirkannya.

Anak tersebut diketahui lahir dengan masalah kesehatan bawaan dan membutuhkan perhatian serta pengobatan secara terus-menerus.

Baca Juga  DPW BPI-KPNPA Mentawai Segera Laporkan Dugaan Korupsi di Desa Taileleu

“Kondisi ibu ini sudah sakit bertahun-tahun. Bahkan saat beliau hamil pun sudah dalam keadaan sakit, dan akhirnya anaknya juga lahir dengan kondisi kesehatan yang memerlukan perhatian khusus,” ujar Lisda saat meninjau kondisi keluarga tersebut di Tuapejat, Kamis (5/3/2026).

Menurut Lisda, situasi keluarga itu semakin berat ketika bantuan PBI BPJS Kesehatan yang sebelumnya menanggung biaya pengobatan mereka justru dinonaktifkan. Padahal, baik sang ibu maupun anaknya sangat bergantung pada layanan kesehatan untuk menjalani pengobatan rutin.

“Coba bayangkan, keluarga dengan kondisi seperti ini yang harus terus berobat, ibu dan anak, justru terkena pengurangan bantuan. Ini tentu sangat memprihatinkan,” kata Lisda.

Ia menilai kebijakan yang berkaitan dengan bantuan sosial, khususnya di sektor kesehatan, harus diambil dengan penuh kehati-hatian dan berbasis pada kondisi riil masyarakat di lapangan.
Lisda mengingatkan agar para pengambil kebijakan tidak hanya melihat data administratif, tetapi juga memahami langsung kehidupan masyarakat yang terdampak.

Baca Juga  Guspardi Gaus Dukung Kabupaten Kepulauan Mentawai Keluar dari Status Daerah Tertinggal

“Jangan main-main dalam mengambil keputusan kebijakan. Jangan coba-coba membuat kebijakan tanpa melihat langsung kondisi masyarakat. Di lapangan kita bisa melihat sendiri bagaimana masyarakat yang sangat membutuhkan bantuan,” ucapnya lagi.

Lisda juga meyakini bahwa kasus yang ditemuinya di Mentawai kemungkinan hanyalah sebagian kecil dari kondisi serupa yang terjadi di berbagai daerah di Indonesia.

Menurutnya, masih banyak keluarga miskin dan rentan yang sangat bergantung pada bantuan negara untuk memperoleh akses layanan kesehatan.