HEADLINE

Jelang Mudik Lebaran 2026: Jalur Malalak Masih Off-limit

6
×

Jelang Mudik Lebaran 2026: Jalur Malalak Masih Off-limit

Sebarkan artikel ini
Gubernur Sumbar, Mahyeldi Ansharullah dan Bupati Agam, Benni Warlis meninjau progress perbaikan jalur Malalak, beberapa waktu lalu. BPJN Sumbar menyatakan, jalur alternatif yang menghubungkan Kota Padang dengan Kota Bukittinggi tersebut belum bisa digunakan untuk momen mudik Lebaran tahun ini. IST

PADANG, HARIANHALUAN.ID Balai Pelaksana Jalan Nasional (BPJN) Sumatera Barat (Sumbar) memastikan jalur Malalak masih belum dapat digunakan untuk menunjang arus mudik dan arus balik Idulfitri 1447 Hijriah. Selain karena proses perbaikan yang belum selesai, jalur alternatif yang menghubungkan Kota Padang dengan Kota Bukittinggi tersebut juga masih menyimpan sejumlah risiko yang dapat membahayakan pengendara di tengah kepadatan arus mudik dan arus balik Lebaran.

Seperti diketahui, jalur Malalak kerap menjadi jalur alternatif kala jalur utama yang menghubungkan Padang–Bukittinggi di kawasan Lembah Anai belum sepenuhnya pulih usai diterjang banjir bandang pada penghujung tahun 2025 lalu. Namun, meski seluruh ruas telah tersambung secara fungsional, jalur Malalak masih menyimpan sejumlah ancaman nyata. Jalur yang masih berupa jalan tanah dan jembatan darurat dinilai dapat membahayakan pengendari jika kurang berhati-hati. Belum lagi penerangan jalan yang belum maksimal.

Kepala BPJN Sumbar, Elsa Putra Friandi mengungkapkan bahwa hingga saat ini, progres perbaikan jalur Malalak, tepatnya di titik bekas longsor, baru menyentuh angka delapan persen. Akibatnya, hamparan jalan tanah sepanjang delapan kilometer itu masih sangat reaktif terhadap perubahan cuaca.

Baca Juga  Rp2,6 Triliun TKD “Disunat” Pusat, Sumbar di Bawah Bayang-Bayang Krisis Fiskal

“Jalan memang sudah tersambung, tetapi permukaannya masih labil karena pengerasan permanen belum dilakukan. Saat panas, jalanan akan sangat berdebu hingga menghalangi pandangan. Saat hujan, jalur ini berubah menjadi sangat licin dan berisiko bagi kendaraan roda empat biasa,” ujar Elsa, Senin (9/3).

Kegamangan pemudik dipastikan bertambah saat melihat kondisi struktur jembatan darurat yang terpasang. Diketahui, untuk menyambungkan akses yang sempat terban ke jurang, BPJN membangun sejumlah jembatan darurat yang kapasitas jalurnya sangat terbatas. Kondisi ini memaksa pengendara melakukan sistem buka-tutup secara mandiri, yang jika tidak diatur dengan sabar, justru memicu antrean di titik rawan longsor.

Bahaya laten lainnya muncul akibat penggeseran badan jalan ke arah hutan lindung demi menjauhi jurang. Banyak tikungan tajam yang kini bersentuhan langsung dengan dinding tebing yang belum diperkuat.

Baca Juga  Ramadan Tanpa Drama di Sumatra, Indosat Pastikan Jaringan Tetap Stabil dan Aman

Ditambah lagi, tanpa rambu pemantul cahaya (scotlite) dan lampu jalan yang memadai, jalur ini juga menjadi area buta bagi pengemudi yang tidak hafal medan. “Penerangan masih menggunakan infrastruktur lama yang banyak rusak akibat bencana tahun lalu. Belum ada lampu di titik jalan baru yang digeser ke arah tebing,” ujar Elsa.

Sementara itu, Pelaksana Lapangan Hutama Karya Infrastruktur, Subiantoro menegaskan jalur Malalak sejatinya belum dibuka untuk umum meskipun sudah bisa dilintasi kendaraan roda dua pascabencana banjir bandang.

Namun, khusus bagi masyarakat Malalak yang ingin bertolak ke arah Balingka atau sebaliknya, bisa melintasi jalan tersebut dengan menggunakan sepeda motor. Salah satu pertimbangan HKI membolehkan masyarakat lokal melintasi jalan itu ialah faktor jarak.

Jalan tersebut hanya dapat dilintasi saat pekerja sedang beristirahat yakni pukul 12.00 WIB hingga 13.00 WIB, atau setelah alat berat tidak lagi beroperasi yakni pukul 17.00 WIB hingga sebelum pukul 08.00 WIB.