Oleh: Muhammad Iqbal Juliansyahzen (Wakil Dekan I Fakultas Syariah UIN Saizu Purwokerto)
Ramadan dipahami sebagai bulan yang tepat sebagai oase mempertebal dan meningkatkan spiritualitas melalui serangkaian amaliah ibadah, baik puasa, salat, terawih dan aneka amal kebijakan lainnya.
Dalam perspektif normatif, Islam menegaskan bahwa hakikat kemuliaan manusia tidak diukur dari jenis kelamin, strata sosial, pendidikan, kekayaan, melainkan berdasarkan ketakwaannya. Prinsip ini tentu saja menegaskan bahwa siapa saja baik laki-laki dan perempuan memiliki potensi yang sama untuk beramal salih dan mendapat derajat takwa di sisi-Nya.
Namun dalam praktiknya, masih banyak kita saksikan relasi yang timpang. Ketimpangan tersebut bisa jadi dipengaruhi oleh konstruksi sosial budaya sampai pada problem penafsiran yang bias.
Temuan Mufidah Cholil (2017) misalnya, menyatakan bahwa hubungan agama dan realitas sosial budaya sangat berpengaruh dalam mengkonstruksi posisi perempuan dalam aktivitas sosial keagamaan di masjid.
Diksi-diksi stereotipe seperti “wong wadon iku konco wingking” (perempuan adalah teman belakang/domestik), “swuargo nunut, neroko kathut” (masuk surga karena ikut suami, masuk neraka juga ikut suami) masih sering digunakan dalam kehidupan sehari-hari untuk menormalisasi posisi perempuan sebagai insan yang berada di garis belakang laki-laki. Oleh karena itu, Ramadan hadir, menjadi momentum strategis untuk merefleksikan kembali spirit kesetaraan spiritual di antara laki-laki dan perempuan.
Ramadan dan Pesan Inklusif
Status laki-laki dan perempuan sejatinya memiliki potensi yang sama untuk beramal saleh dan memiliki tanggungjawab yang setara di hadapan Allah. Penegasan tersebut sebagaimana tercantum dalam Surat An-Nahl ayat 97, bahwa siapa saja baik laki-laki maupun perempuan asal dia beriman, maka perbuatan baik sekecil apapun akan mendapatkan ganjaran kebaikan.
Tentu saja ini menyiratkan bahwa amal seseorang tidak bergantung pada individu lainnya. Prinsip dasar berupa iman dan takwa seseorang hakikatnya yang menghantarkan seseorang pada kebahagiaan.
Dalam banyak ayat lainnya, dapat dengan mudah kita temukan bahwa nilai ibadah dalam Islam tidak dibedakan berdasarkan jenis kelamin. Surat Al-Ahzab ayat 35 misalnya menjelaskan terkait rangkaian ibadah baik salat, puasa, zakat, haji, sedekah, berbagai amalan kebajikan lainnya dapat bernilai yang ibadah di hadapan Allah manakala dilandasi keimanan dan ketakwaan. Dengan demikian, Ramadan pada hakikatnya mengingatkan kita bahwa prinsip spiritualitas dalam islam bersifat setara dan inklusif.
Pemahaman yang holistik terhadap Al-Qur’an sangat penting untuk menghasilkan suatu pemahaman yang inklusif. Femomena penafsiran yang terkesan diskriminatif perlu dikaji ulang, dengan melihat substansi dan nilai dasar yang dihadirkan Islam yaitu menjunjung tinggi nilai-nilai kemanusiaan dan kemaslahatan.
Membangun Kesalehan (Prof)etik
Disadari atau tidak, sebagian praktis sosial keagamaan maupun kehidupan sehari-hari, perempuan sering memainkan peran penting dalam proses keberlangsungan praktik keagamaan.
Pada saat Ramadan, perempuan seringkali memainkan peran dalam aktivitas domestik mulai menyiapkan menu sahur maupun berbuka. Peran tersebut tentu saja mulia, namun bukan berarti itu adalah peran yang mutlak, yang pada akhirnya membuat ruang spiritual perempuan menjadi terbatas. Oleh karena itu, pembagian peran yang adil dalam keluarga menjadi sangat penting.
Kesempatan menghadiri kajian, salat berjamaah maupun kegiatan sosial filantropi Islam sering lebih terbuka bagi laki-laki daripada perempuan. Padahal secara historis, perempuan memiliki ruang yang aktif dalam persoalan keagamaan-spiritual maupun keilmuan.
Banyak di antara perempuan menjadi periwayat hadis maupun menjadi ulama. Hal ini menunjukkan bahwa perempuan memiliki potensi yang sama dan setara. Ramadan menjadi kawah candra di muka untuk membuka kesempatan yang lebih adil dan inklusif bagi semua untuk beribadah, menjadi pribadi yang bertakwa.
Ramadan tidak hanya menjadi madrasah untuk menciptakan manusia yang saleh secara individu, tetapi juga berupaya membangun kesadaran (prof)etik. Sebuah kesadaran yang mencoba meneladani misi kenabian, sebuah kesadaran yang tidak hanya mengajak umat untuk memperbanyak ibadah an sich¸ tetapi juga mencoba untuk merefleksikan spirit keadilan, kesetaraan, etika, dan penghormatan terhadap martabat kemanusiaan.
Kesadaran profetik yang lahir dari Ramadan mendorong umat Islam untuk melihat realitas dari sudut pandang moralitas dan kemanusiaan. Puasa mengajarkan kita untuk empati terhadap orang lain, menumbuhkan kesadaran etis dan kepekaan. Sehingga ritual ibadah Ramadan bukan sekedar ibadah tahunan yang tidak membekas, tetapi memonten untuk terus bertransformasi untuk menjadi lebih baik, adil, inklusif.
Akhiran, muara akhir dari Ramadan adalah membentuk manusia yang bertakwa. Ketakwaan yang tidak mengenal batas jenis kelamin. Semua memiliki kesempatan yang sama untuk meningkatan hubungan spiritual yang lebih baik. (*)





