PADANG, HARIANHALUAN.ID – Kepala UPTD. Balai Kesehatan Indera Masyarakat (BKIM) Sumbar, drg. Afando Ekardo, MM atau dr. Edo sapan akrabnya, optimis kejayaan fasilitas kesehatan itu bisa kembali bangkit.
Sekilas, drg. Edo yang ditemui Haluan di ruangannya beberapa waktu lalu menyebut sudah bergabung di bidang fungsional BKIM sejak 2013. Lika liku dan tantangan dihadapinya selama memimpin UPTD. BKIM.
Menurutnya, setidaknya tiga faktor menjadi penyebab pelayanan terhenti sejak Desember 2019. Yakni terhentinya layanan BPJS dari Desember 2019, terhentinya pelayanan dari tenaga kesehatan yang tidak berani melakukan pelayanan kalau belum ada surat izin serta awal pandemi Covid-18 pada Maret 2020 yang masih jadi tantangan hingga sekarang.
“Ini pe-er besar, 18 bulan lamanya pernah terhenti layanan di BKIM beberapa tahun silam. Manajemen yang baru harus mengatur strategi untuk move on setelah bisa dibilang mati suri/kolaps. Seluruh jajaran pimpinan, staf dan pegawai berkomitmen harus mengembalikan masa jaya BKIM. Dimana orang taunya kalau berobat mata ke BKIM,” ujar drg. Edo.
Kepada Haluan, drg. Edo yang resmi dilantik memimpin BKIM per 21 Mei 2021 lalu ini mengatakan UPTD. BKIM memiliki potensi besar jika benar-benar dikelola dengan baik.
“Di masa-masa keemasannya 5-10 tahun lalu, dalam sehari BKIM bisa melayani 200 pasien dan pendapatan bisa mencapai Rp500 juta kala itu. Jadi potensinya besar kalau benar-benar dikelola dengan baik,” ujarnya.
Dua bulan pasca dilantik, Ia menuturkan titik terang mulai kelihatan. Jumlah layanan yang diberikan meningkat yang sebelumnya hanya pasien umum kini bertambah dengan adanya pasien BPJS Kesehatan.
Dan akan mengusung Inovasi Terobosan “Simpatik, Simpakar dan Bermuara ke Memberikan Akses Mudah dan komprehensif untuk seluruh Warga (Masuk Surga).
Disamping itu, karena punya pemerintah, bisa berlaku askes/bpjs, kemudian representatif, tempat tunggu nyaman, alat canggih dan modern. Artinya pasien bisa sangat nyaman berobat dengan kondisi saat ini.
Suami dari drg. Elvi Rahmi ini menyebut salah satu kuncinya tidak lepas dari bekerja sama, bekerja keras, bekerja tuntas, bekerja iklas dan tentunya dukungan dari berbagai pihak.
drg. Edo yang juga Alumni SMAN 1 Batusangkar dan Universitas Baiturrahmah (Unbrah) mengakui, banyak tantangan dan lika liku yang harus dilalui.
“Setelah disepakati melalui pakta integritas. Kemudian kita mulai mengurus kelengkapan, operasional dan Mou dengan BPJS. Alhamdulillah dengan persuasif dan pendekatan mulai berjalan dan bergerak kembali untuk bekerjasama. Artinya dengan kepempinan baru nampak harapan baru,” tuturnya.
Kedepan, drg. Edo menargetkan UPTD. BKIM bisa berkembang menjadi Rumah Sakit Khusus Mata (RSKM) di Sumbar. Berbagai upaya menuju transformasi menjadi RSKM pun telah dijalankan selangkah demi selangkah.
“Kita sudah buat naskah akademik dan telaah nya sudah diberikan, malahan dari Dinas Kesehatan diminta langsung menuju Rumah Sakit Indera Masyarakat (RSIM) saja yang kalau teralisasi bisa jadi yang pertama di Sumatera. Namun pencapaian dan realisasinya lama, sedangkan kalau RSKM bisa cepat dan menjadi step awal yang bagus,” ujarnya lagi.
Untuk mencapai targetan itu, Ia menyebut butuh dukungan masyarakat dan stakeholder terkait.
“Kita berdayakan pegawai sesuai tupoksi, karena di posisi apapun pasti bisa berkontribusi untuk kemajuan BKIM,” ujarnya menutup. (yes)





