PADANG, HARIANHALUAN.ID — Pakar Pertanian Universitas Andalas (UNAND) Dr,Ir Feri Arlius, MSc menyebut, redupnya sinar Koperasi Unit Desa (KUD) yang diharapkan menjadi motor penggerak perekonomian masyarakat pada bidang pertanian, tidak terlepas dari bermunculannya berbagai lembaga ekonomi bentukan pemerintah di tingkat nagari.
Mantan Dekan Fakultas Pertanian UNAND ini menilai, eksistensi KUD pada hari ini mulai tergantikan atau tergerus oleh program Badan Usaha Milik Nagari (BUMNag) bentukan Kementerian Desa, program Kelompok Tani (Keltan) bentukan Kementerian Pertanian, serta program Kelompok Usaha Bersama (KUBE) bentukan Kementerian Sosial.
“Di tingkat nagari atau desa, saat ini terlalu banyak lembaga ekonomi. Sehingga koperasi yang berada di level yang sama seolah harus ‘bersaing’ dengan lembaga ekonomi sejenis lainnya,” ujarnya kepada Haluan Rabu (14/6).
Akibat ketatnya persaingan serta ditambah dengan minimnya kualitas SDM pengelola KUD, sebut Feri, KUD sebagai lembaga usaha pada akhirnya sulit berkembang dan gagal mencapai tujuannya untuk mensejahterakan anggota dan masyarakat.
“Indikasi ini terlihat dari banyaknya koperasi simpan pinjam. Sementara tidak banyak koperasi yang benar-benar punya usaha, memberdayakan sumber daya lokal masyarakat, apalagi sampai menjadi pelaku utama proses hilirisasi pertanian yang kita harapkan,” jelasnya.
Padahal, menurut Feri Arlius, dalam upaya menciptakan kesejahteraan bagi petani, KUD mesti bisa memainkan peran sentral sebagai lembaga ekonomi nagari yang mampu melakukan distribusi hasil hilirisasi pertanian.





