JAKARTA, HARIANHALUAN.ID — Saham PT Telkom Indonesia Tbk (TLKM) ambles dalam, sebeesar 3,3 persen dalam sepekan terakhir, dan turun 4,1 persen ke level Rp 3.720 kemarin. Ada dua penyebab penurunan saham Telkom, berdasarkan keterangan para analis, yakni ketidakjelasan divestasi Finnet dan penurunan pangsa pasar Telkomsel
Dikutip dari Investor.id, Telkom adalah raksasa telekomunikasi di Tanah Air. Di Bursa Efek Indonesia (BEI), saham TLKM juga menjadi salah satu penentu pergerakan indeks harga saham gabungan (IHSG). Alasannya, market cap Telkom mencapai Rp396 triliun dan menduduki posisi lima di BEI, setelah PT Bank Central Asia Tbk (BBCA), PT Bank Rakyat Indonesia Tbk (BBRI), PT Bayan Resources Tbk (BYAN), dan PT Bank Mandiri Tbk (BMRI).
Meski dalam tren bearish, kalangan analis masih memandang positif saham Telkom. Sebab, kinerja keuangan kuartal II tahun ini diprediksi lebih baik dibandingkan kuartal sebelumnya. Selain itu, Telkom akan diuntungkan oleh aktivitas kampanye Pemilu 2024.
Itu sebabnya, pemodal dapat menjadikan momentum pelemahan sebagai pintu masuk mengakumulasi saham TLKM. Begitu sentimen negatif mereda, saham TLKM diyakini dapat kembali menembus Rp 4.000, bahkan bisa menyentuh Rp 5.000.
Head of Research Investasiku (Mega Capital Sekuritas) Cheryl Tanuwijaya menyatakan, divestasi Finnet hingga kini belum jelas. Sebab, belum ada pernyataan resmi dari Telkom terkait rencana itu.
“Hal ini menimbulkan ketidakpastian, sehingga pelaku pasar agresif melepas saham TLKM dan fokus ke saham yang lagi dihujani sentimen positif, seperti banking, energi, dan kesehatan,” ujar dia, Kamis (27/7).
Sebelumnya, Bloomberg melaporkan, Telkom berniat menjual saham perusahaan fintech, PT Finnet Indonesia, dengan valuasi US$ 100-150 juta. Telkom memiliki 60% saham perusahaan itu.
Ke depan, dia menegaskan, prospek saham Telkom masih menjanjikan. Sebab, secara historis, saham telekomunikasi melejit menjelang tahun pemilu. Apalagi, Telkom adalah pemimpin pasar industri telekomunikasi Indonesia.
Dia menilai, menjelang kampanye, konsumsi data telekomunikasi akan meningkatm sehingga menjadi sentimen positif saham TLKM. Sementara itu, koreksi saham TLKM belakangan ini membuat valuasi Telkom kini sangat menarik.
Dia mencatat, PER saham TLKM saat ini hanya 18,41 kali atau di bawah rata-rata standar deviasi lima tahun. Atas dasar itu, dia merekomendasikan buy on weakness saham TLKM di level Rp 3.750-3.800, target harga Rp 4.200, dan stop loss Rp 3.500
Di sisi lain, Phintraco Sekuritas memprediksi laba bersih Telkom naik 13,5 persen menjadi Rp 7,2 triliun kuartal II-2023, dibandingkan kuartal sebelumnya Rp 6,4 triliun. Laba bersih per saham (EPS) Telkom pada periode itu mencapai Rp 73.
Sementara itu, berdasarkan konsensus analis yang direkap Bloomberg, laba bersih Telkom kuartal II tahun ini mencapai Rp 8,2 triliun. Kemudian, pada kuartal III dan IV tahun ini, konsensus analis memprediksi laba bersih Telkom mencapai Rp 8,2 triliun dan Rp 5,5 triliun.
Kuartal I-2023, Telkom, membukukan pendapatan Rp 36,1 triliun, tumbuh 2,5, EBITDA Rp18,9 triliun, dan pertumbuhan laba bersih 5 persen menjadi Rp 6,4 triliun. Laporan keuangan Telkom kuartal II-2023 rencananya keluar Jumat (28/7).
Analis Phintraco Sekuritas Valdy Kurniawan menuturkan, EPS disetahunkan Telkom tahun 2023 diprediksi Rp 276,8. Dengan demikian, koreksi tajam belakangan ini membuat valuasi saham TLKM murah, dengan PER hanya 13,38 kali, di bawah dibandingkan emiten sejenis. Adapun EV/EBITDA saham TLKM kini 5,3 kali.
“Secara umum, top line maupun bottom line, Telkom relatif lebih baik kuartal II-2023, dibandingkan kuartal sebelumnya. Nampaknya ada perbaikan di sisi kinerja investasi. Dengan demikian, dengan harga saat ini, TLKM lebih atraktif setelah rilis laporan keuangan kuartal II keluar,” kata Valdy.
Di lain pihak, Macquarie menilai, investor kini mencemaskan penurunan pangsa pasar Telkomsel. Pada kuartal I-2023, pelanggan Telkomsel turun 14%. Investor kini ragu apakah Telkomsel bisa menaikkan tarif ke depannya.
“Kami pikir Telkomsel One Package merupakan jawaban dari kecemasan investor. Lewat paket itu, Telkomsel akan mengambil lagi pelanggan yang keluar dengan menawarkan tambahan nilai ketimbang penurunan harga paket,” tulis Macquarie.
Macquarie mempertahankan rekomendasi outperform saham TLKM, dengan target harga Rp 5.000. ARPU dari segmen wireless dan fixed broadband akan mendongkrak laba inti Telkom. (h/dj)





