PADANG, HARIANHALUAN.ID — Dinas Kesehatan (Dinkes) Provinsi Sumatera Barat (Sumbar) mencatat pada periode Januari – Juni ada 1.064 kasus demam berdarah atau DBD. Dari total 1.064 kasus pada Semester I itu tercatat empat orang dinyatakan meninggal dunia. Masyarakat pun diimbau untuk menyiapkan langkah penangkal DBD memasuki musim pancaroba.
Kepala Bidang (Kabid) Pengendalian dan Pemberantasan Penyakit (P2P) Dinkes Sumbar, Riena Sovianty, mengatakan, dari total 1.064 kasus DBD di Sumbar tercatat pada bulan Januari 258 kasus, Februari 200 kasus, Maret 183 kasus, April 146 kasus, Mei 143 kasus, dan Juni 134 kasus. Sementara untuk sebarannya kata Riene, kasus terbanyak terjadi di Kota Padang sebanyak 244 kasus. Diikuti Kabupaten Agam 103 kasus, Kota Pariaman 102 kasus, Kota Bukittinggi 22 kasus, Kota Padang Panjang 30 kasus, Kota Solok 16 kasus.
Seterusnya, Kota Sawahlunto 28 kasus, Kota Payakumbuh 23 kasus, Kabupaten Pesisir Selatan 87 kasus, Kabupaten Padang Pariaman 22 kasus, Kabupaten Lima Puluh Kota 25 kasus.
Selanjutnya Kabupaten Sijunjung 24 kasus, Kabupaten Solok 72 kasus, Kabupaten Tanah Datar 99 kasus, Kabupaten Pasaman 49 kasus, Kabupaten Pasaman Barat 52 kasus, Kabupaten Solsel 55 kasus, Kabupaten Dharmasraya 8 kasus, dan terakhir Kabupaten Kepulauan Mentawai 3 kasus.
“Untuk empat kasus kematian akibat DBD yaitu, dua kasus pada Januari di Kota Pariaman, satu kasus pada bulan Mei di Kota Padang dan satu kasus lagi pada bulan Juni di Kabupaten Lima Puluh Kota,” katanya saat berbincang dengan Haluan Selasa (1/8) di Padang.
Beranjak dari masih tingginya kasus DBD ini, Dinkes Sumbar terus melakukan langkah antisipasi, diantaranya Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) dan gerakan 3M Plus. “Kenapa kita sangat mengutamakan PSN ini, karena fogging (pengasapan) tidak akan berhasil tanpa diintensifkan PSN. Sebab fogging hanya akan membasmi nyamuk dewasa,” ujarnya.





