KABA RANAH

Mambantai Kabau Nan Gadang, Wujud Syukur Hasil Panen Petani Solok Selatan

2
×

Mambantai Kabau Nan Gadang, Wujud Syukur Hasil Panen Petani Solok Selatan

Sebarkan artikel ini
Doa bersama usai makan bajamba pada pelaksanaan Mambantai Kabau nan Gadang di Jorong Simancuang Alam Pauh Duo, Kecamatan Pauh Duo, Solok Selatan beberapa waktu lalu. IST

Panas matahari begitu terik, menyusupi celah-celah berlubang pada jendela dan pintu yang terbuka di sebuah surau lama yang terletak di Jorong Simancuang, Nagari Alam Pauh Duo, Kecamatan Pauh Duo.

Di dalam surau lama itu disibukkan dengan berbagai macam aktivitas dari kaum perempuan dan kaum laki-laki. Mereka tengah memasak besar. Di kuali yang besar itu kaum perempuan mengacau potongan daging kerbau yang telah disembelih sebelumnya oleh kaum laki-laki.

Memasak besar dengan kebersamaan dan suka cita itu merupakan sebuah proses adat yang telah mereka jalani secara turun-temurun. Prosesi adat itu mereka sebut dengan Mambantai Kabau nan Gadang. Mambantai Kabau nan Gadang telah dilaksanakan beberapa hari yang lalu.

Baca Juga  Portugal - Makedonia Utara (2-0), Ronaldo Cs Akhirnya Lolos ke Piala Dunia 2022 Qatar

Mambantai kabau nan gadang ini merupakan yang ke-62 kalinya kami laksanakan di Simancuang ini. Prosesi adat ini sebagai tanda bagi masyarakat Simancuang dalam memasuki musim turun ke sawah,” kata Wali Nagari Alam Pauh Duo, Irman Syahputra kepada Haluan, Minggu (3/9).

Cewang di langit tanda akan panas, gabak di hulu tanda akan hujan. Di hari berganti musim bersambut ini, lanjut Irman Syahputra, sebagian besar masyarakat Simancuang dan Solok Selatan umumnya tengah mengharapkan datangnya cuaca yang teratur. Sebab di musim turun ke sawah ini masyarakat secara serentak akan memasuki proses tanam padi yang ditandai dengan prosesi adat Mambantai Kabau nan Gadang tersebut.

Baca Juga  Posyandu Asoka 2 Nagari Talu Dinilai Tim Provinsi

“Selain tanda memasuki turun ke sawah serentak, mambantai kabau nan gadang ini juga sebagai bentuk rasa syukur kami atas hasil panen sebelumnya. Sehingga hal ini kami tengarakan dengan membantai kerbau yang besar bersama masyarakat Simancuang. Tradisi ini diadakan berdasarkan selesainya panen padi yang kisarannya dapat kami laksanakan 2 kali dalam 18 bulan” ujarnya.