PESISIR SELATAN

Dinkes Pessel Gencarkan Skrining Hipotiroid Kongenital untuk Antisipasi Gangguan Tumbuh Kembang Bayi

0
×

Dinkes Pessel Gencarkan Skrining Hipotiroid Kongenital untuk Antisipasi Gangguan Tumbuh Kembang Bayi

Sebarkan artikel ini
Bidan Fera Maiyani melakukan skrining terhadap salah seorang bayi di Kampung Sungai Sirah, yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Surantih, Kecamatan Sutera. IST

PESSEL, HARIANHALUAN.ID — Agar kasus terganggunya pertumbuhan dan perkembangan bayi baik fisik maupun mental terdeteksi secara dini, Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Pesisir Selatan (Pessel) melalui jajaran Dinas Kesehatan melakukan Skrining Hipotiroid Kongenital (SHK). Deteksi dengan cara SHK itu dilakukan dengan cara pengambilan sampel darah pada tumit bayi di usia minimal 48 sampai 72 jam.

Hal itu diungkapkan Kepala Dinas Kesehatan Pessel, Syahrizal Antoni, Rabu (6/9) di Painan. Ia menerangkan, Hipotiroid Kongenital itu adalah gangguan yang diakibatkan oleh kekurangan hormon tiroid sejak lahir. Hormon tersebut berfungsi sebagai proses pertumbuhan dan perkembangan bayi baik fisik maupun mental.

“Karena kekurangan hormon tiroid ini dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan dan perkembangan bahkan bersifat permanen, maka perlu dilakukan deteksi secara dini melalui SHK tersebut,” katanya.

Baca Juga  Penertiban PKL Pantai Padang, Petugas Gabungan Disiram Kuah Sate dan Air

Agar semua bayi baru lahir pada usia 48 hingga 72 jam itu bisa terjangkau hingga ke nagari-nagari, maka deteksi SHK itu dilakukan jajarannya melalui petugas puskesmas, puskesri, dan bidan desa/nagari di semua kecamatan yang ada. 

Upaya itu, dijelaskan Syahrizal Antoni, juga dilakukan oleh Bidan Fera Maiyani, di Kampung Sungai Sirah, Wilayah kerja Puskesmas Surantih, Kecamatan Sutera, beberapa waktu lalu. Ia menyampaikan, itu dilakukannya terhadap semua bayi yang lahir di wilayah kerja Puskesmas Surantih, sesuai dengan domisili bidan yang bersangkutan. “Ini penting dilakukan di daerah kampung ini, umumnya Pessel tidak ditemui gangguan pertumbuhan dan perkembangan yang bersifat permanen pada bayi,” ujarnya.

Baca Juga  Rombak Birokrasi di Pesisir Selatan, Bupati Hendrajoni Lantik 103 Pejabat

Disampaikannya bahwa kekurangan hormon tiroid itu gejalanya bisa terlihat dari kondisi tubuh cebol, lidah besar, bibir tebal, hidung pesek, pusar menonjol, kesulitan bicara dan keterbelakangan mental atau idiot. Apapun penyebabnya, Hipotiroid Kongenital ini harus ditemukan dan diterapi, walau pada bayi baru lahir sulit terlihat karena sama sekali tidak bergejala.

“Sedangkan jika gejala telah muncul, maka sudah ada keterlambatan. Karena itu, skrining sedini mungkin pada bayi baru lahir merupakan solusi terbaik, walau bayi tidak menunjukkan gejala tersebut sama sekali,” tuturnya. (h/rel)