PADANG, HARIANHALUAN.ID — Meski sejumlah daerah di Sumatera Barat (Sumbar) hingga Selasa (3/10) masih diselimuti kabut asap, namun Pemprov Sumbar melalui Dinas Lingkungan Hidup (DLH) mengklaim bahwa kualitas udara cenderung mengalami perbaikan. Paling tidak dalam tiga hari belakangan.
Kepala DLH Sumbar, Asben Hendri, menyebut, pada Minggu (2/10) udara Sumbar mengandung partikel polutan yang mencapai 89 mikrogram per meter kubik pada skala PM 2,5. Akan tetapi, per Selasa (3/10) kandungan partikel polutan menurun menjadi 70 mikrogram per meter kubik pada skala PM 2,5.
Ia menjelaskan, pantauan kualitas udara berdasarkan pencatatan Air Quality Monitoring System (AQMS) di Padang Pasir, Padang menunjukkan kualitas udara cenderung membaik dalam tiga hari terakhir.
Kendati mulai membaik, namun tingkat kualitas udara Sumbar masih berada di level sedang. “Untuk tingkat polutan 1-50 mikrogram per meter kubik kualitas udara dapat dikatakan berada di level baik. Lalu 51-100 level sedang, 101-200 level tidak sehat, 201-300 level sangat tidak sehat, dan di atas 300 level berbahaya,” katanya, Selasa (3/10).
Asben mengatakan, dalam sebulan terakhir, kualitas udara di Sumbar memang mengalami fluktuatif. Kadang cenderung membaik, kadang menurun. Hal ini menurutnya disebabkan oleh asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) yang terjadi di sejumlah wilayah, baik di Sumbar maupun provinsi tetangga. Kondisi ini juga diperparah oleh musim kemarau yang melanda sebagian daerah di Indonesia, termasuk Sumbar.
Lebih jauh, Asben mengimbau masyarakat agar mengurangi aktivitas yang dapat memperburuk kualitas udara, seperti membakar sampah, lahan, dan hutan. “Untuk masyarakat yang alergi terhadap kualitas udara yang buruk, disarankan untuk mengurangi aktivitas di luar ruangan dan menggunakan masker,” katanya.





