UTAMA

Kekurangan Tak Menjadi Halangan Aisyah Memiliki Impian Mulia

0
×

Kekurangan Tak Menjadi Halangan Aisyah Memiliki Impian Mulia

Sebarkan artikel ini
Aisyah menguasai berbagai keterampilan yang diajarkan di panti, seperti keterampilan membuat keset kaki, pernak pernik berupa gantungan kunci dan keterampilan lainnya.

Pagi itu saat rekan-rekan Haluan berkunjung ke Panti Sosial Bina Grahita (PSBG) Harapan Ibu, anak-anak di panti sedang sibuk melakukan rutinitas mendalami keterampilan sesuai dengan bidangnya masing-masing. Tertarik ingin berbagi cerita dan pengalaman dengan salah satu anak di panti. Namanya Aisyah Safitri. Aisyah merupakan anak perempuan binaan PSBG Harapan Ibu. Aisyah lahir pada 30 Juli 2000. Saat ini Aisyah sudah berumur 23 tahun. Sudah tiga tahun Aisyah tinggal dan belajar di panti. Aisyah sudah dewasa, ia juga mempunyai paras yang elok.

Saat masuk ke dalam ruangan dan akan diajak untuk sharing, ia tertawa yang menandakan bahwa ia sedikit malu bertemu orang baru. Namun, tak lama setelah itu ia mulai membuka diri untuk bercerita sekilas tentang dirinya.

Ia merupakan seorang anak yang berasal dari Alai, Kota Padang. Sebelumnya ia tinggal bersama orang tua angkatnya. Namun, ia diperlakukan dengan kurang baik sehingga warga sekitar melaporkan kondisi yang dialami olehnya kepada pihak yang berwenang.

Aisyah dibawa oleh Dinas Sosial Kota Padang dan ditempatkan di Lembaga Penyelenggaraan Kesejahteraan Sosial (LPKS) Kasih Ibu Kota Padang selama tiga bulan. Setelah mendapatkan diagnosa terkait kesehatannya, Aisyah dinyatakan memiliki keterbatasan mental dan intelektual hingga akhirnya ia dirujuk ke PSBG Harapan Ibu.

Pagi itu Aisyah sedang berkegiatan di kantin panti, di sana anak-anak diajarkan dan didampingi oleh instruktur bertugas untuk melakukan kegiatan sehari-hari seperti memasak nasi goreng, bakwan dan jenis makanan yang langkah-langkahnya mudah direkam oleh anak-anak panti.

Aisyah menguasai berbagai keterampilan yang diajarkan di panti, seperti keterampilan membuat keset kaki, pernak pernik berupa gantungan kunci dan keterampilan lainnya. Namun, di antara semua itu, Aisyah paling menyukai dan menguasai keterampilan yang berhubungan dengan mesin jahit.

Baca Juga  Julianavia Dukung Bupati Pessel untuk Karet dan Kakao Menjadi Komoditas Unggulan Sektor Perkebunan

Aisyah merupakan salah seorang anak yang memiliki IQ yang dapat dikatakan lebih tinggi dari anak panti yang lain. Ia diklasifikasikan sebagai penyandang disabilitas pada kategori debil, artinya ia mempunyai potensi intelegensia dengan angka angka kecerdasan antara 50-70 dengan Mental Age setara dengan anak-anak yang berumur 8-12 tahun.

Aisyah terlihat bahagia dan mudah berbaur dengan teman-temannya. Di samping itu, ia juga memiliki kelapangan hati untuk membantu temannya yang membutuhkan bantuan tanpa membeda-bedakan. Saat itu, ia terlihat duduk dengan teman perempuannya yang kebingungan mengerjakan keterampilan  pernak-pernik.

Selang beberapa waktu setelah itu, ia sudah pindah tempat ke ruangan sebelah, sibuk membantu teman yang lain sambil bergurau menyelesaikan keterampilan keset kaki. Jika dilihat sekilas, ia seperti anak-anak normal saja, tidak kekurangan apapun.

Aisyah memiliki ketertarikan di bidang olahraga badminton dan juga suka bernyanyi. Di samping itu, meskipun ia tahu memiliki keterbatasan mental dan intelektual, Aisyah mempunyai cita-cita yang tinggi. “Aisyah mau jadi dokter,” ucapnya dengan semangat dan penuh harap.

Saat ditanya mengenai harapan terbesar dalam hidupnya, emosi Aisyah tidak terkontrol, ia seketika itu menangis, tak kuasa menceritakan kilas balik hidupnya. Aisyah hanya ingin dipertemukan dengan ibu kandungnya sendiri yang tidak pernah ia jumpai semenjak masih bayi. Aisyah tidak pernah mengetahui dimana keberadaan dan bagaimana rupa wajah ibunya. Segala usaha seperti menyebarkan selebaran juga sudah dilakukan oleh para pengasuh di panti, namun semua usaha itu juga tidak ada hasilnya.  “Aisyah mau bertemu mama, mau jadi orang sukses supaya bisa bawa mama ke makkah naik haji,” ujar Aisyah lagi.

Baca Juga  Luka Karbala yang Dihidupkan Kembali pada Tradisi Tabuik

Ia mengaku bahwa selama menjadi bagian dan menjalani hidupnya selama tiga tahun di PSBG Harapan Ibu, ia merasa bahagia dan tidak pernah merasa kesepian seperti sebelumnya, karena di panti ia memiliki teman-teman yang sudah dianggap seperti keluarga sendiri.

Aisyah memiliki banyak sekali teman yang menghiburnya di kala ia sedih. Di samping itu, ia juga diperlakukan baik oleh pengasuh-pengasuh di panti.  Aisyah juga merupakan anak yang terbilang selalu bersemangat dan riang. Hal yang membuat dirinya kuat hingga tumbuh menjadi gadis dewasa berumur 23 tahun adalah teman-temannya. Selain itu, ia bertekad untuk bisa bertemu keluarga, terkhusus ibunya. Aisyah berjanji kepada dirinya sendiri untuk selalu kuat agar bisa membanggakan orang-orang yang menyayanginya.

Menurut penjelasan salah seorang pengasuh panti, Aisyah dikategorikan sebagai anak negara yang akan dilindungi, diayomi dan diizinkan tinggal di panti sampai waktu yang tidak ditentukan karena latar belakang kehidupannya tidak ada yang tahu. Berbeda dengan anak yang lain, jika sekiranya anak didikan PSBG sudah layak dipulangkan kepada keluarganya, mereka akan dijemput dan akan melanjutkan kehidupan bersama dengan keluarga mereka.

Aisyah juga memiliki keinginan untuk bisa mandiri. Jika ditanya apa rencananya untuk masa depan, ia tersipu malu lalu menjawab bahwa ia ingin menghasilkan uang dan menikah. Meskipun sebenarnya belum paham apa hakikat dari menikah, namun anak yang didiagnosa memiliki kekurangan itu juga punya harapan bisa menikah dan hidup mandiri di masa depan. (*)