PADANG PARIAMAN, HARIANHALUAN.ID — Nagari Ulakan layak dinobatkan sebagai salah satu destinasi wisata halal unggulan Sumatra Barat dengan keberagaman daya tarik wisata yang dimiliki. Terlebih Nagari Ulakan masuk dalam 50 besar Anugerah Desa Wisata Indonesia (ADWI) Kemenparekraf 2021.
Nagari Ulakan menawarkan berbagai paket wisata yang menarik. Mulai dari situs sejarah religious Makam Syekh Burhanuddin, budaya kearifan lokal, hamparan panjang bibir pantai hingga wisata konservasi.
Lokasi Desa Wisata Ulakan berjarak 18.4 kilometer dari Bandara Internasional Minangkabau atau dapat ditempuh dengan 30 menit perjalanan darat. Pesisir pantai dengan estuaria mangrove yang dikelola menjadi destinasi ekowisata dan edukasi Green Talao Park dengan trekking mangrove sepanjang 1,8 kilometer terpanjang di Sumatera Barat.
Salah satu daya tarik Nagari Ulakan yaitu makam Syekh Burhanudin sebagai pusat wisata religi. Kemudian, tradisi Basapa yang masih dilestarikan hingga hari ini. Seperti awal September lalu, jumlah peziarah ke makam Syekh mencapai 5.000 orang dari berbagai daerah. Basapa ini merupakan kegiatan memperingati meninggalnya Syekh Burhanudin pada bulan Safar (hijriah).
“Basapa di Ulakan ada dua kali, pertama Rabu setelah tanggal 10 Safar yang dikenal dengan Basapa Gadang, dan Rabu seminggu setelah itu disebut dengan Basapa Ketek,” kata Wali Nagari Manggopoh Palak Gadang Ulakan Tapakis Kecamatan Ulakan Tapakis Syofyan beberapa waktu lalu kepada haluan.
Syofyan menjelaskan Tradisi Basapa ini dimulai sekitar tahun 1316 H/ 1897 M, yang pertama kali dilakukan oleh para jamaah pengikut Syekh Burhanudin. Saat itu belum ada penentuan jadwal kunjungan bagi mereka.
Kemudian dua ulama pewaris Syekh Burhanuddin yakni Syekh Kapalo Pauh Kamba dan Syekh Tuanku Kataping mengambil inisiatif bermusyawarah dengan sejumlah ulama untuk menentukan waktu ziarah bersama ke makam.
“Dari musyawarah tersebut, disepakati dan diputuskan ziarah dilaksanakan secara rutin pada setiap rabu setelah tanggal 10 bulan Shafar,” Syofyan menjelaskan.
Hal senada juga disampaikan oleh Tokoh Pemuda setempat, Ridwan Alfa Salam, menyebutkan Basapa diikuti oleh peziarah dalam cukup besar dari luar daerah Sumatera Barat, seperti Aceh, Riau, Jambi hinggal Malaysia.
“Berharap dengan kegiatan ini dapat dijadikan sebagai salah satu destinasi kunjungan pariwisata dan berdampak positif kepada daerah,” ujar Ridwan.
Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan juga telah menetapkan Basapa sebagai warisan Budaya Tak Benda Indonesia pada Bulan Desember 2020. Piagam tersebut diterima langsung oleh Bupati Padang Pariaman melalui Gubernur Sumatera Barat pada hari Rabu, 24 Maret 2021 di Padang.
Destinasi Green Talao Park ini dikelola melalui Badan Usaha Milik Nagari Pesisir ulakan MADANI yang bermitra dengan kelompok sadar wisata (Pokdarwis) dan kelompok usaha ekonomi masyarakat nagari yang didampingi langsung oleh pelaku bisnis profesional (PBP) yang terdiri dari asosiasi, agensi dan pelaku pariwisata yang sudah profesional di bidangnya dan tentunya bersinergi dengan pemerintah daerah Kabupaten Padang Pariaman dan Provinsi Sumatera Barat.
Pemerintah bersama masyarakat Nagari Ulakan juga mengembangkan destinasi lain berdasarkan Peraturan Nagari, sehingga menyajikan banyak pilihan kepada wisatawan ketika berkunjung ke Nagari Ulakan. Seperti pembinaan Sanggar Seni Nagari dan Green Talao Park sebagai ruang untuk festival kesenian yang digelar di destinasi wisata .
Tambua Tasa. Itu adalah kesenian khas daerah Pariaman, Sumatera Barat berupa alat musik perkusi yang terdiri dari dua alat musik yaitu Gandang Tambua dan Gandang Tasa.
Selain itu, para wisatawan juga dapat berburu kuliner seperti Kapalo Lauak Ikan, Talao/Estuaria, Rendang Lokan, Rakik Kapitiang, Anyang Katam, dan Es Buah Nipah. Sementara souvenir, ada lampu hias dari Kulit lokan, gelas dan pernak pernik dari bambu. (h/arh)





