UTAMA

Kasus Diabetes pada Anak Meningkat Tajam di Indonesia

1
×

Kasus Diabetes pada Anak Meningkat Tajam di Indonesia

Sebarkan artikel ini

DR Dr Aman Bhakti Pulungan, SpA(K) dalam tangkapan layar saat  berlangsungnya Media Briefing Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bersama dengan Changing Diabetes In Children (CDIC) yang diadakan pada Sabtu (11/11) secara daring. ATVIARNI

PADANG, HARIANHALUAN.ID — Kasus diabetes melitus (DM) pada anak di Indonesia saat ini meningkat tajam dibanding beberapa tahun lalu. Pada tahun 2017-2019, ada 1.249 anak terdiagnosis menderita DM tipe 1. Namun, sebenarnya, angka ini jauh lebih tinggi karena ada yang tidak terdiagnosis, salah diagnosis dan rendahnya kesadaran terhadap penyakit.

Hal tersebut diungkapkan DR Dr Aman Bhakti Pulungan, SpA(K) – Project Lead Changing Diabetes in Children (CDiC) & Direktur Eksekutif International Pediatrics Association / Asosiasi Dokter Anak Sedunia, saat berlangsungnya Media Briefing Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bersama dengan Changing Diabetes In Children (CDIC) yang diadakan pada Sabtu (11/11) secara daring.

Menurut Aman Bhakti Pulungan, prevalensi DM tipe 1 di Indonesia meningkat lebih besar dari 3,88 per 100 juta populasi di tahun 2000 menjadi 28,9 per 100 juta populasi di tahun 2010. Bahkan pada tahun 2017, sebanyak 71 persen anak terdiagnosis DM tipe 1 saat diperiksa kesehatannya.

Baca Juga  Basko City Mall, Pusat  Perbelanjaan Modern yang Menghadirkan Tenant Tenant Pilihan

Dan pada tahun 2023, jumlah anak usia kurang dari 18 tahun yang menderita DM di Indonesia meningkat tajam menjadi 2 per 100.000 anak.

Ironisnya, jumlah tenaga medis khususnya dokter anak endokrinologi justru masih sangat kurang. Dari 38 provinsi di Indonesia, hanya ada 17 provinsi yang memiliki dokter anak endokrinologi. Jumlah tenaga dokter nya pun sangat sedikit, yakni 53 dokter.

Banyak hal yang menjadi penyebab seseorang menderita DM. Pada anak-anak khususnya, ada beberapa hal yang perlu diwaspadai sebagai tanda tanda DM. Yakni banyak makan, banyak minum, banyak kencing, berat badan turun dan  badan loyo. “Jangan merasa senang jika anak memiliki berat badan berlebihan. Justru anak yang seperti ini harus discreening setiap tahun apakah ada DM atau tidak,” katanya.

Faktor gaya hidup dan makanan yang serba instan saat ini, menjadi salah satu penyebab terjadinya DM. Tanpa disadari seorang anak bisa saja menderita DM namun baru ketahuan setelah ia sesak nafas (DM tipe 2).dan dibawa ke RS.

Baca Juga  Peringkat 1 Capaian Realisasi PNBP Zona B, Ditlantas Polda Sumbar Terima Penghargaan dari Kapolri

Melihat begitu banyaknya penderita DM anak ini, tentunya diperlukan penanganan khusus agar jumlah nya tidak semakin bertambah. Mulai dari sejak seorang ibu hamil, melahirkan hingga si anak lahir dan bertumbuh.

Pola hidup yang sehat perlu ditanamkan pada semua masyarakat. Sebab DM merupakan penyakit yang bisa berentet pada banyak penyakit lainnya. Deteksi dini sangat diperlukan sebagai upaya pencegahan. Begitupun pengobatan yang rutin untuk mencegah komplikasi.

Jalani pengobatan secara medis dengan teratur dan jaga pola makan serta gaya hidup. Obat obat herbal tidak dianjurkan dalam dunia medis, karena efek jangka panjang yang bisa ditimbulkannya.

Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia Dr Piprim Basarah Yanuarso, SpA(K) – Ketua Pengurus Pusat Ikatan Dokter Anak Indonesia pada kesempatan itu berharap melalui briefing media ini, akan bisa mendorong dan mendukung upaya edukasi kesehatan di masyarakat. “Dan kita semua berharap ’Tidak Ada Lagi Anak yang Terkena Diabetes,” tutupnya. (h/atv)