UTAMA

10 Korban Galodo Masih Hilang, Area Pencarian Diperluas hingga Sijunjung

0
×

10 Korban Galodo Masih Hilang, Area Pencarian Diperluas hingga Sijunjung

Sebarkan artikel ini
Tim SAR Gabungan saat proses pencarian korban galodo Marapi di Nagari Kubang Putih, Kabupaten Agam, Rabu (22/5/2024). IST/SAR PADANG
Tim SAR Gabungan saat proses pencarian korban galodo Marapi di Nagari Kubang Putih, Kabupaten Agam, Rabu (22/5/2024). IST/SAR PADANG

PADANG, HARIANHALUAN.ID— Memasuki hari ke-14 pencarian, Tim SAR gabungan melaporkan masih terdapat 10 korban banjir bandang atau galodo Marapi di Tanah Datar yang masih dinyatakan hilang. Area pencarian korban diperluas hingga Kabupaten Sijunjung.

Kepala Kantor SAR Padang Abdul Malik mengatakan  kendala tim SAR gabungan di lapangan adalah banyaknya tumpukan material banjir berupa kayu dan lumpur serta kondisi cuaca yang tidak menentu mempersulit proses pencarian.

“Upaya yang kita lakukan dengan melakukan penyisiran darat, menurunkan perahu karet untuk menyusuri aliran sungai dan pemantauan udara menggunakan drone thermal,” ujarnya, Jumat (24/5/2024).

Baca Juga  Pengawasan pada Napi Pengendali Peredaran Narkoba di Sumbar Harus Diperketat

Sementara itu Pemerintah Kabupaten Tanah Datar berdasarkan hasil rapat evaluasi tim SAR gabungan dan pemerintah akhirnya diputuskan masa tanggap darurat bencana di Kabupaten Tanah Datar diperpanjang 14 hari hingga 8 Juni 2024.

Berdasarkan data SAR Padang, total jumlah korban galodo Marapi di Kabupaten Agam dan Tanah Datar sebanyak 62 orang meninggal dunia, dan dua diantaranya masih belum teridentifikasi.

Banjir bandang atau galodo Marapi menerjang sejumlah daerah pada Sabtu malam (11/5/2024). Selain hujan deras, galodo juga dipicu lahar dingin dari erupsi Gunung Marapi yang mengendap di hulu sungai yang berada di area Gunung Marapi.

Berita Terkait : Korban Galodo Marapi Kembali Ditemukan Usai Terbawa Arus Sejauh 7 KM

Baca Juga  Caleg Gagal akan Berpotensi Alami Gangguan Kejiwaan

BNPB telah menetapkan beberapa langkah mitigasi untuk antisipasi risiko potensi bencana serupa di kemudian hari. Mulai dari peledakan batu-batu besar material Gunung Marapi, normalisasi daerah aliran sungai, pembangunan sabo dam, dan penguatan Early Warning System. (*)