SUMBAR

Ekonomi Sumbar Berkembang, Tapi Kurang Progresif

2
×

Ekonomi Sumbar Berkembang, Tapi Kurang Progresif

Sebarkan artikel ini
Ekonomi Sumbar
(Ka-Ki) Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution , Ronny P Sasmita dan (Kadin) Sumbar, Buchari Bachter

PADANG, HARIANHALUAN.ID – Analis Senior Indonesia Strategic and Economic Action Institution , Ronny P Sasmita menilai pertumbuhan ekonomi Sumbar dulu dan sekarang beda-beda tipis. Dalam artian berkembang, tapi dinamikanya kurang progresif.

“Tumbuh secara natural saja, tidak terlalu banyak intervensi yang menghasilkan dorongan berarti kepada perekonomian Sumbar. Artinya, perekonomian Sumbar bergerak secara alami saja, karena adanya pertumbuhan penduduk dan perkembangan teknologi yang datang dari luar,” ujarnya kepada Haluan, Jumat (24/5/2024).

Sehingga jika ditanya perbedaan dulu dan sekarang, Ronny menyebut secara kasat mata tentu ada, hanya saja kurang signifikan.  Hal itu, sambungnya juga bisa dilihat dari pertumbuhan ekonomi Sumbar yang sering berada di bawah pertumbuhan ekonomi nasional. 

Baca Juga  Tiga Kategori Desa Yang Direkomendasikan KI Sumbar, Lolos 10 Besar Penilaian Terbaik SAQ Anugerah Apresiasi KIP Desa 2024

Dikatakannya ada beberapa tantangan yang membuat pertumbuhan ekonomi Sumbar tidak progresif. Pertama, mendatangkan investasi yang bisa menyerap cukup banyak tenaga kerja baru di satu sisi, sehingga kontribusi investasi bisa lebih besar lagi kepada pertumbuhan ekonomi Sumbar.

Tantangan kedua adalah konservatisme kelompok-kelompok tertentu yang melihat kemajuan sebagai sebuah ancaman nilai-nilai konservatif yang mereka anut selama ini. Sehingga kondisi ini mempersulit Sumbar untuk mendatangkan investasi baru dan mengadopsi nilai-nilai baru yang lebih pro terhadap kemajuan.

Baca Juga  Penundaan Penghapusan Tenaga Honorer 2023, Apkasi Dukung Pemerintah Pusat Cari Solusi

“Dan tak lupa, tantangan lainya adalah mengurangi ancaman brain drain atau pengeringan sumber daya manusia, yakni perginya SDM terbaik Sumbar ke perantauan dan tidak berniat kembali lagi karena berbagai alasan. Hal itu terjadi karena minimnya peluang untuk berkembang di daerah, lantaran dinamikanya perekonomiannya kurang agresif,” tuturnya.