OPINI

Potensi Ekonomi Biru di Danau Maninjau

1
×

Potensi Ekonomi Biru di Danau Maninjau

Sebarkan artikel ini

Danau Maninjau adalah sebuah danau yang terletak di Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam Sumatera Barat. Danau Maninjau merupakan danau vulkanik yang berada di ketinggian 461,50 meter di atas permukaan laut yang memiliki panjang sekitar 16 km, lebar 8 km, luas 9.950 ha serta kedalaman 157 meter.

Danau Maninjau merupakan salah satu danau terpopuler dengan keindahan alam dan sebagai sumber kehidupan bagi masyarakat setempat. Kawasan Danau Maninjau merupakan bagian yang memegang peranan penting dalam perekonomian Kabupaten Agam. Kegiatan perekonomian unggulan di kecamatan ini terletak pada sektor dan subsektor pertanian, tanaman pangan, perkebunan, perikanan, serta pariwisata.

Danau Maninjau digunakan sebagai tempat budidaya perikanan darat guna menunjang kehidupan ekonomi masyarakat, masyarakat daerah sekitar danau bersama pemerintah setempat bisa memanfaatkan danau sebagai lahan pembudidayaan perikanan darat, yaitu dengan menggunakan sistem keramba jaring apung. Keramba adalah keranjang atau kotak segi empat yang digunakan untuk membudidayakan ikan dengan bahan kerangka kayu, besi, bambu, dan pelampung drum atau bahan lain menggunakan jaring dengan ukuran tertentu. Keramba pada umumnya ditempatkan di sungai sehingga air sungai dapat mengalir melewati karamba dan air di dalam keramba senantiasa bersikulasi mengikuti arus air. Keramba dapat ditempatkan tenggelam maupun mengapung sebagian,dan masing-masing dilakukan sesuai kebutuhan. Danau Maninjau sebagai salah satu Danau Prioritas Nasional memiliki berbagai fungsi dalam menunjang kehidupan masyarakat, seperti: Pembangkit tenaga listrik, pariwisata, perikanan tangkap, dan perikanan budidaya. Namun peningkatan aktivitas manusia baik dalam bentuk aktivitas umum dan pemanfaatan keramba jaring apung (KJA), dapat memberikan dampak buruk dan beberapa permasalahan terhadap beban pencemar di perairan danau. Sebagai upaya untuk melestarikan ekosistem Danau Maninjau, diperlukan Langkah strategis untuk mencari solusi dari pencemaran tersebut agar keberlanjutan Danau Maninjau tetap dapat berlangsung.

Melalui Perpres nomor 60 Tahun 2021 tentang penyelamatan Danau Prioritas Nasional, Danau Maninjau ditetapkan menjadi salah satu danau prioritas nasional, pada Perpres ini diatur mengenai penetapan danau Prioritas Nasional yang ditetapkan berdasarkan kriteria :

  1. Mengalami tekanan dan degradasi berupa kerusakan Daerah Tangkapan Air Danau, kerusakan Sempadan Danau, kerusakan badan Air Danau, pengurangan volume tampungan Danau, pengurangan luas Danau, peningkatan sedimentasi, penurunan kualitas Air, dan penurunan keanekaragaman hayati yang mengakibatkan masalah ekologi, ekonomi, dan sosial budaya bagi masyarakat
  2. Memiliki nilai strategis ekonomi, ekologi, sosial budaya, dan ilmu pengetahuan;
  3. Tercantum dalam salah satu dokumen perencanaan pembangunan, rencana induk, dan/ atau bentuk dokumen teknis lainnya di sektor Air dan/atau Danau

Pada awal tahun 2000an, Gunter Pauli memperkenalkan istilah blue economy dalam bukunya yang berjudul “The Blue Economy: 10 Years, 100 Innovations, 100 million Jobs“. Gunter Pauli memperkenalkan teori ekonomi biru yang mencakup seluruh kegiatan ekonomi yang berkaitan dengan lautan dan perairan pedalaman seperti danau dan sungai. Hal ini mencakup pengelolaan dan pemanfaatan sumber daya air secara berkelanjutan, mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan penghidupan, dan menjaga kesehatan ekosistem air. Kegiatan seperti penangkapan ikan, pariwisata, transportasi, dan budidaya air tawar di danau merupakan bagian dari ekonomi biru.

Baca Juga  RUPSLB Telkom 2025 Tetapkan Perubahan Pengurus Perseroan

Secara Teori, PBB dalam Program Lingkungan Perserikatan Bangsa-Bangsa menyatakan Ekonomi Biru yang Berkelanjutan memiliki potensi untuk mengatasi cara pengelolaan ekosistem laut, pesisir, dan air tawar yang terputus saat ini dan menjadi komponen mendasar dalam memenuhi kebutuhan ekonomi, sosial, dan ekologi bumi ini. Ekonomi biru yang berkelanjutan memberikan manfaat penting bagi generasi sekarang dan masa depan; memulihkan, melindungi, dan memelihara ekosistem yang beragam, produktif, dan tangguh; dan didasarkan pada teknologi bersih, energi terbarukan, dan aliran material sirkular.

Dengan memanfaatkan sumber daya danau secara bertanggung jawab, dalam artian memperhatikan daya tampung dan daya dukung danau, kita dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, meningkatkan penghidupan, dan menjamin kesehatan dan keberlanjutan ekosistem yang berharga pada sumberdaya alam tersebut. Danau Maninjau dapat dimanfaatkan sebagai dimensi ekonomi biru yang berkaitan dengan danau, menyoroti peluang dan tantangan dalam memanfaatkan potensi danau.

Beberapa kegiatan ekonomi dalam teori ekonomi biru yang dapat diimplementasikan pada Danau Maninjau :

  • Perikanan dan Budidaya Perairan

Danau Maninjau sudah sejak lama digunakan sebagai tempat budidaya perikanan darat guna menunjang kehidupan ekonomi masyarakat, masyarakat daerah sekitar danau bersama pemerintah setempat bisa memanfaatkan danau sebagai lahan pembudidayaan perikanan darat  yaitu dengan menggunakan sistem keramba jaring apung (KJA) . Keramba adalah keranjang atau kotak segi empat yang digunakan untuk membudidayakan ikan dengan bahan kerangka kayu, besi, bambu, dan pelampung drum atau bahan lain menggunakan jaring dengan ukuran tertentu. 

Keramba pada umumnya ditempatkan di tepi danau sehingga air yang masuk ke Danau Maninjau bersumber dari curah hujan yang langsung masuk ke danau, air yang berasal dari aliran permukaan tanah, baik yang melewali sungai-sungai kecil mengalir melewati karamba dan air di dalam keramba senantiasa bersikulasi mengikuti arus air. Keramba dapat ditempatkan tenggelam maupun mengapung sebagian,dan masing masing dilakukan sesuai kebutuhan

Danau Maninjau telah menjadi sumber ikan dan kehidupan air lainnya secara tradisional, menyediakan makanan dan penghidupan bagi masyarakat. Praktik penangkapan ikan yang berkelanjutan dan budi daya perairan yang bertanggung jawab dapat meningkatkan ketahanan pangan sekaligus memastikan konservasi stok ikan dan keanekaragaman hayati perairan.

  • Pariwisata dan Rekreasi

Danau Maninjau menawarkan pemandangan menakjubkan dan potensi besar untuk pengembangan pariwisata berkelanjutan. Dengan airnya yang jernih dan pemandangan pegunungan yang memukau, Danau Maninjau yang dikelilingi oleh pegunungan hijau dan menawarkan pemandangan yang menarik. Wisatawan dapat menikmati berbagai aktivitas rekreasi seperti berenang, berperahu, memancing, dan menikmati matahari terbenam yang menakjubkan. Danau Maninjau memiliki ekosistem yang kaya dengan keanekaragaman hayati. Ekowisata, seperti paralayang dan trekking di hutan sekitar, dapat menjadi daya tarik utama bagi wisatawan yang peduli lingkungan. Masyarakat sekitar Danau Maninjau memiliki budaya Minangkabau yang kaya dan unik. Wisatawan dapat mengunjungi desa-desa tradisional, berpartisipasi dalam kegiatan budaya, dan menikmati kuliner khas Minang. Di sekitar Danau Maninjau terdapat berbagai pilihan akomodasi, mulai dari homestay sederhana hingga hotel mewah, yang memungkinkan wisatawan menikmati pemandangan danau sambil merasakan keramahan lokal.

Baca Juga  Dharmasraya Bertabur Sejarah

Pariwisata di Danau Maninjau memiliki potensi besar untuk berkontribusi pada ekonomi biru di Sumatera Barat. Dengan mengadopsi praktik pengelolaan berkelanjutan, melibatkan komunitas lokal, dan melestarikan keindahan alam serta budaya setempat, Danau Maninjau dapat menjadi contoh sukses pengembangan pariwisata yang bertanggung jawab. Melalui upaya bersama, Danau Maninjau akan terus menjadi destinasi wisata yang menarik dan berkelanjutan, memberikan manfaat ekonomi dan lingkungan bagi generasi mendatang.

  • Energi terbarukan

Danau Maninjau menawarkan potensi pembangkitan energi terbarukan, khususnya melalui pembangkit listrik tenaga air. Proyek pembangkit listrik tenaga air skala kecil dapat menyediakan energi bersih bagi masyarakat lokal, mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil dan berkontribusi terhadap ketahanan energi.

Danau Maninjau juga memiliki peran signifikan dalam pembangkit listrik tenaga air (PLTA). Dengan memanfaatkan kekuatan air untuk menghasilkan energi bersih dan terbarukan, PLTA Danau Maninjau berkontribusi besar pada ekonomi biru, yang menekankan penggunaan sumber daya air yang berkelanjutan untuk mendukung pertumbuhan ekonomi dan kesejahteraan masyarakat. 

PLTA Danau Maninjau memanfaatkan aliran air untuk menghasilkan listrik tanpa emisi karbon, menjadikannya sumber energi yang bersih dan ramah lingkungan. Ini sejalan dengan prinsip ekonomi biru yang mendukung penggunaan sumber daya alam yang berkelanjutan. Dengan memproduksi listrik dari energi air, PLTA Danau Maninjau membantu mengurangi ketergantungan pada bahan bakar fosil yang tidak terbarukan dan berpolusi. Ini berkontribusi pada ketahanan energi dan mengurangi jejak karbon wilayah tersebut.

Pembangunan dan operasionalisasi PLTA Danau Maninjau menciptakan lapangan kerja bagi masyarakat lokal, mulai dari konstruksi hingga pemeliharaan dan operasional. Ini meningkatkan pendapatan lokal dan kesejahteraan masyarakat.PLTA Danau Maninjau memainkan peran penting dalam ekonomi biru dengan menyediakan energi bersih dan berkelanjutan. Meskipun menghadapi tantangan, pendekatan pengelolaan yang bijaksana dan berkelanjutan dapat memastikan bahwa PLTA ini terus memberikan manfaat ekonomi, sosial, dan lingkungan bagi masyarakat sekitar. Melalui kolaborasi dan komitmen untuk keberlanjutan, PLTA Danau Maninjau dapat menjadi contoh keberhasilan dalam memanfaatkan sumber daya air untuk mendukung pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.