Ayo Baca Koran Harian Haluan

Edisi 1 Januari 1970
POLITIK

Perempuan-Perempuan Minangkabau di Kancah Pilkada, Saatnya Bundo Kanduang Memimpin Daerah

1
×

Perempuan-Perempuan Minangkabau di Kancah Pilkada, Saatnya Bundo Kanduang Memimpin Daerah

Sebarkan artikel ini
Gemala Ranti

PADANG, HARIANHALUAN.ID — Hadirnya sejumlah calon kepala daerah dari kaum ibu pada konstestasi Pilkada Serentak 2024 ini menjadi angin segar bagi perpolitikan Sumatera Barat (Sumbar). Tak hanya dinilai kembali “menghidupkan” kepemimpinan tradisional bundo kanduang di Ranah Minang, kemenangan calon kepala daerah perempuan disebut-sebut akan mengubah peta perpolitikan Sumbar, yang hingga saat ini masih minim akan partisipasi perempuan.

Pemerhati Kebudayaan Sumatera Barat (Sumbar) yang juga putri kandung sastrawan A.A. Navis, Gemala Ranti mengakui kemunculan kandidat kepala daerah perempuan di Pilkada Sumbar 2024 kali ini memang cukup menarik.

“Kemunculan pasangan Annisa-Lely Arni di Dharmasraya, Emiko Epyardi Asda di Kabupaten Solok, serta Cerint dan Emma Yohanna di DPD RI, termasuk politisi perempuan lainnya pada hari ini mengindikasikan partai politik (parpol) telah menjadikan peningkatan kapasitas perempuan sebagai prioritas,” ujarnya kepada Haluan, Senin (2/9).

Menurut mantan Kepala Dinas Pemberdayaan Perempuan Perlindungan Anak dan Keluarga Berencana (DP3AP2KB) Sumbar itu, kemunculan sejumlah politisi perempuan di tingkat eksekutif maupun legislatif mengindikasikan bahwa masyarakat Sumbar mempercayai kepemimpinan wanita.

Baca Juga  Pasangan Eka Putra dan Ahmad Fadly Suirsyam Resmi Didukung 6 Parpol

Hal itu sesuai dengan fakta bahwa dalam adat Minangkabau sendiri, posisi perempuan diletakkan pada tempat yang paling terhormat. Sebagai tungganai rumah gadang atau bundo kanduang kaum. 

“Posisi perempuan di Minangkabau pada umumnya sangat berbeda dari daerah lain. Selain menganut garis keturunan matrilineal, masyarakat Sumbar juga sudah terbiasa dengan kepemimpinan wanita,” katanya.

Sejauh ini, diketahui belum ada satu pun kabupaten/kota di Sumbar yang tercatat pernah dipimpin oleh kepala daerah wanita. Maka dari itu, kemenangan pasangan Annisa-Lely Arni yang berpotensi besar melawan kotak kosong di Dharmasraya akan menjadi sejarah baru bagi Sumbar. “Nah, kalau menangnya melawan kotak kosong, maka tanggung jawab, peran, dan amanahnya sebagai pemimpin akan menjadi dua kali lebih berat,” ucapnya.

Ia menyebut, jika pasangan Annisa-Lely Arni maupun Emiko Epyardi Asda berhasil menjadi pemenang pada kontestasi nanti, mereka harus menjadi representasi kepemimpinan Bundo kanduang di tubuh organisasi pemerintahan daerah masing-masing. Jika akhirnya berhasil terpilih sebagai kepala daerah, para figur perempuan itu harus mampu menyuarakan dan mengakomodasi kepentingan semua kalangan.

Baca Juga  810 Kafilah Ikuti MTQN ke-41 Agam

“Apalagi di Dharmasraya yang punya kultur budaya politik yang sangat unik. Negara ini ada karena ada budaya. Ketika budaya dipinggirkan, maka negara sudah pasti akan menjadi kacau. Jika berhasil menang, Annisa-Lely Arni mengemban amanah merawat dan menjaga kebudayaan ini,” ucapnya.

Secara khusus, mantan Kepala Dinas Kebudayaan Sumbar itu meminta para kandidat perempuan yang akan bertarung di Pilkada Sumbar 2024 untuk benar-benar mempersiapkan diri dengan baik.

Mereka harus ingat bahwa ketika telah terpilih, mereka adalah perwakilan rakyat. Sehingga setiap gerak gerik, tingkah laku, ucapan, maupun perbuatan akan menjadi teladan bagi masyarakat luas.

“Sebagai wakil rakyat, harus selalu ingat menjaga etika. Selaku wakil rakyat terpilih kita sudah bagalanggang di mato urang banyak. Harus menjadi contoh dan teladan dalam segala hal,” katanya. (*)