UTAMA

BLUD Agro Harus Jadi Stabilisasi Harga Komoditas Pertanian Sumbar

0
×

BLUD Agro Harus Jadi Stabilisasi Harga Komoditas Pertanian Sumbar

Sebarkan artikel ini
Potensi sektor pertanian di Sumbar yang sangat besar harus dikelola dengan lebih profesional dan berorientasi bisnis. Pemerintah daerah sudah sepatutnya mendirikan Badan Usaha Milik Daerah (BUMD) khusus untuk sektor agro atau pertanian. DOK HALUAN

PADANG, HARIANHALUAN.ID Potensi sektor pertanian di Sumatra Barat (Sumbar) yang sangat besar harus dikelola dengan lebih profesional dan berorientasi bisnis. Pemerintah daerah sudah sepatutnya mendirikan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD) khusus untuk sektor agro atau pertanian. Keberadaan BLUD Agro yang dikelola oleh tenaga profesional dinilai penting untuk menciptakan stabilitas harga komoditas pertanian, serta memberikan kepastian harga jual hasil panen yang menguntungkan bagi petani di masa depan.

Ketua Lembaga Pemberdayaan Masyarakat (LPM) Nagari Parit Malintang, Alam Syahri, menyampaikan bahwa pihaknya belum sepenuhnya mengetahui secara detail tentang program pemerintah terkait pembentukan Badan Layanan Umum Daerah (BLUD). BLUD Agro diharapkan mampu menjadi penyeimbang perekonomian, terutama dalam situasi inflasi.

Baca Juga  Eksekusi Sengketa Tanah 14 Hektare di Tanjung Aur Diwarnai Penolakan

Namun, sebagai Ketua Koperasi Konsumen Anak Nagari Parit Malintang, Alam Syahri menyambut baik rencana pemerintah tersebut jika tujuannya benar-benar untuk memperjuangkan kehidupan petani. Menurutnya, saat ini kondisi petani di Nagari Parit Malintang masih terjepit oleh permasalahan klasik, yakni ketergantungan pada tengkulak.

“Di Nagari Parit Malintang, umumnya para petani menjual gabah mereka kepada tengkulak dengan harga di bawah pasaran. Hal ini terjadi karena mereka tidak memiliki modal sendiri dan harus berhutang sebelum memulai bertanam, sehingga terpaksa menjual hasil panen kepada pemilik modal dengan harga yang tidak menguntungkan,” ungkap Alam Syahri.

Ketiadaan modal membuat petani harus meminjam uang sebelum masa tanam dimulai. Ketika musim panen tiba, tengkulak dan pemilik modal berlomba-lomba membeli gabah di sawah-sawah dengan harga rendah, yang tentunya merugikan petani. “Petani ini tidak punya pilihan lain selain menjual gabah dengan harga murah karena mereka sudah terikat utang,” tambahnya.

Baca Juga  Ada Bank Nagari Sediakan Modal, Gubernur Mahyeldi Minta Persikindo Ciptakan 100 Ribu Pengusaha Perempuan

Alam Syahri berharap, apapun bentuk program pemerintah nantinya, haruslah memberikan manfaat nyata bagi petani, terutama dalam permasalahan permodalan dan kelangkaan pupuk subsidi yang seringkali menjadi keluhan utama. Menurutnya, permodalan bukanlah satu-satunya hal yang dibutuhkan petani. Mereka juga perlu pengetahuan lebih tentang cara mengatasi hama serta penggunaan pupuk dan pestisida yang tepat agar tidak mengalami kerugian dalam pembelian obat-obatan pertanian.