WEBTORIAL

Prof. Dr. Fasli Jalal, Ph.D Paparkan Orasi Ilmiah pada Puncak Peringatan Dies Natalis UIN Bukittinggi

11
×

Prof. Dr. Fasli Jalal, Ph.D Paparkan Orasi Ilmiah pada Puncak Peringatan Dies Natalis UIN Bukittinggi

Sebarkan artikel ini
Prof. Dr. Fasli Jalal, Ph.D sedang menyampaikan orasi ilmiah pada puncak peringatan Dies Natalis Ke-58 UIN Bukittinggi di Kampus UIN Bukittinggi, Kubang Putiah, Jumat (29/11). YURSIL

BUKITTINGGI, HARIANHALUAN.ID — Untuk meningkatkan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM), saat ini negara negara maju di dunia memakai Indek Modal Manusia (Human Capital Index). Pasalnya, Indikator Human Capital Index lebih merefleksikan tantangan bagi  Sumber Daya Manusia (SDM).

Demikian disampaikan Rektor Universitas Yarsi, Prof. Dr. Fasli Jalal, Ph.D ketika memberikan orasi ilmiah dalam rangka peringatan Dies Natalis Ke-58 UIN Bukittinggi di Kampus UIN Bukittinggi Kubang Putiah, Jumat (29/11).

Menurutnya, beberapa variabel Human Capital Index di antaranya, kemampuan anak balita bertahan hidup hingga usia 5 tahun. Saat ini, dari seribu kelahiran bayi, sekitar 20 anak tidak mampu bertahan hidup hingga usia 5 tahun.

Baca Juga  Kuliah Umum di Politeknik ATI Makasar, Wagub Audy Joinaldy: Generasi Milenial Harus Mampu Beradaptasi dengan Kemajuan Iptek

Kemudian, variabel pendidikan. Di Indonesia telah mewajibkan wajib belajar selama 12 tahun ditambah satu tahun di PAUD. Program wajib belajar ini sama dengan negara-negara yang telah maju. Namun, masalah yang muncul adalah mutu pendidikan di Indonesia yang kalah jauh dari negara maju seperti Singapura.

“Kita berharap UIN Bukittinggi mampu meningkatkan kualitas pendidikan. Jika kualitas pendidikan tidak dapat meningkat, maka anak-anak kita tidak akan mampu bersaing dengan negara negara lain,” kata mantan Wakil Menteri Pendidikan di era Presiden SBY itu.

Baca Juga  Fadly Amran Terima Anugerah FASI XI 2022

Variabel berikutnya adalah di bidang kesehatan, pada anak usia produktif jangan sampai anak-anak Indonesia menderita berbagai macam penyakit yang akan mengganggu produktivitas dan kesehatan mental. “Jika banyak manusia berusia produktif berguguran, maka Indonesia akan kehilangan manusia produktif,” ujarnya.