AGAM

75 Ton Ikan Mati di Danau Maninjau, Kerugian Capai Rp1,875 Miliar

3
×

75 Ton Ikan Mati di Danau Maninjau, Kerugian Capai Rp1,875 Miliar

Sebarkan artikel ini
Danau Maninjau

AGAM, HARIANHALUAN.ID – Belasan pembudidaya ikan Keramba Jaring Apung (KJA) di Danau Maninjau, Agam, kembali merugi. Ikan-ikan yang mereka budidayakan mati secara massal akibat kekurangan oksigen dampak dari cuaca buruk yang melanda wilayah sekitar.

Dinas Ketahanan Pangan dan Perikanan (DKPP) Agam mendata jumlah ikan yang mati mencapai 75 ton. Kematian ikan ditemukan pada lima jorong di dua nagari, Tanjung Sani dan Bayua.

Kepala DKPP Agam, Rosva Deswira mengatakan, musibah kematian ikan ini dialami petani KJA sejak 13 Januari lalu. Sehari sebelumnya, wilayah salingka danau dilanda angin kencang.

Baca Juga  Walhi Sumbar Desak Pemerintah agar Tetapkan Status Tanggap Darurat Bencana Kabut Asap

“Puluhan ton ikan yang mati itu berbagai ukuran, tersebar di Jorong Lubuak Anyia, Banda Tangah dan Lubuak Kandang di Nagari Bayua, Sedangkan di Tanjung Sani tersebar di Jorong Pantas dan Muko Jalan,” kata Rosva, Minggu (19/1/2025).

Di Bayua, lanjutnya, jumlah kematian ikan mencapai 25 ton milik 12 petani KJA. Sementara di Tanjung Sani sekitar 50 ton dari 136 petak keramba milik 23 petani KJA.

Ia memprediksi, jika dikalkulasikan kerugian petani akibat kematian massal ikan itu mencapai Rp1,875 miliar. Angka ini sesuai harga jual ikan di tingkat petani Rp 25 ribu per kilogram.

Baca Juga  Tak Tertahan, Air Mata Bupati Tanah Bercucuran saat Festival Tenun Tanjuang Bonai Lintau Buo

Menurutnya, sebelum mati ikan-ikan tersebut mengalami pusing atau ‘maangai’ ke permukaan danau. Kondisi ini menunjukkan bahwa ikan kekurangan oksigen di dasar danau.

Seperti biasa jelasnya, ikan-ikan itu mati lantaran terjadinya penurunan suhu air danau akibat umbalan atau uppweling. Kondisi ini dipicu cuaca buruk berupa hujan deras disertai angin kencang yang membalikan massa air dari dasar ke atas.